Mendikdasmen Sebut Larangan Medsos Cegah Anak Kecanduan Gawai, Bagaimana jika Telanjur?
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengatakan, aturan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang membatasi akses media sosial (medsos) bagi anak berusia di bawah 16 tahun, bisa melindungi generasi muda.
Menurut dia, regulasi ini penting untuk mencegah anak mengalami paparan layar yang berlebihan, yang dapat menyebabkan kecanduan.
“Jadi kami sangat mendukung dan memberikan apresiasi terhadap terbitnya Peraturan Menteri Komdigi tentang pembatasan penggunaan gawai untuk mereka yang berusia di bawah 16 tahun," kata Mu'ti di Jakarta, Minggu (8/3/2026), mengutip , Senin (9/3/2026).
"Itu merupakan bagian dari usaha yang dilakukan secara bersama-sama lintas kementerian agar anak-anak memiliki kebiasaan yang baik dan terhindar dari penggunaan gawai yang berat,” lanjutnya.
Pembatasan medsos untuk anak di bawah umur
Untuk diketahui, Komdigi resmi melarang anak-anak berusia di bawah 16 tahun mengakses sejumlah aplikasi yang dinilai memiliki risiko tinggi, berdasarkan Peraturan Menteri (Permen) Komdigi Nomor 9 Tahun 2026.
Kebijakan ini merupakan langkah turunan dari Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 mengenai perlindungan anak di dunia maya. Proses pemblokiran akun bagi pengguna di bawah umur tersebut dijadwalkan mulai efektif pada 28 Maret 2026 mendatang.
Tantangan pengawasan dan potensi manipulasi identitas
Ilustrasi kecanduan gadget, ilustrasi kecanduan HP, ilustrasi main HP.
Walaupun gawai diakui menawarkan sejumlah manfaat positif, seperti kemudahan dalam mengakses materi pelajaran secara daring, penerapannya di lapangan tentu tidak luput dari kendala.
Mu'ti secara khusus menyoroti celah yang mungkin dimanfaatkan oleh anak-anak, terutama terkait potensi manipulasi data diri saat mendaftar di berbagai platform jejaring sosial.
Oleh sebab itu, peran aktif orangtua dan tenaga pendidik di sekolah sangat dibutuhkan untuk mengawasi serta memberikan edukasi yang komprehensif mengenai batasan usia penggunaan media sosial yang aman.
“Memang tantangannya adalah pada teknis pelaksanaan terutama untuk memastikan bahwa mereka ini tidak memalsukan identitas pribadi ketika membuat akun di media sosial. Karena itu, yang diperlukan, pertama ialah pengawasan dari orang tua, termasuk usia juga,” imbuh Mu'ti.
Kehadiran regulasi pembatasan ini diharapkan dapat menjadi benteng pertahanan yang kuat dari eksploitasi gawai yang berisiko merusak masa depan anak.
“Kami berharap ini menyelamatkan generasi muda dari penyalahgunaan gawai dan juga internet yang tidak edukatif dan juga tidak sesuai dengan budaya dan peradaban bangsa,” ujar Mu'ti.
Langkah mengatasi anak yang telanjur kecanduan
Ilustrasi TikTok. TikTok resmi membentuk joint venture di Amerika Serikat untuk memastikan aplikasinya tetap beroperasi. Adam Presser ditunjuk sebagai CEO entitas baru
Di tengah upaya masif pemerintah tersebut, para orangtua yang menghadapi anak yang sudah kecanduan gawai kerap menemui jalan buntu di rumah.
Memutus akses secara mendadak atau mengambil paksa perangkat dari tangan anak sering kali memicu penolakan keras dan tantrum. Lantas, apa yang bisa dilakukan?
1. Kurangi durasi penggunaan gawai secara bertahap
Menurut psikolog anak dan keluarga, sekaligus pendiri TigaGenerasi, Saskhya Aulia Prima, mengubah perilaku anak yang sudah terlanjur melekat memerlukan kesabaran ekstra dan proses yang terukur.
“Memang harus bertahap untuk membatasi screen time anak, misalnya 5 menit dulu, kemudian minggu depan dikurangi 10 menit, supaya anak juga enggak terlalu drastis penyesuaiannya,” ujarnya, dikutip dari .
Saskhya juga mengingatkan bahwa kecepatan adaptasi setiap anak tidaklah sama satu dengan yang lainnya.
Sebagian anak mungkin lebih mudah beralih dari gawainya tanpa protes, sedangkan yang lain membutuhkan waktu transisi yang jauh lebih panjang untuk benar-benar bisa mengubah kebiasaan digital mereka.
2. Sediakan aktivitas lain yang menarik
Ilustrasi menggambar.
Langkah selanjutnya yang pantang dilewatkan oleh ayah dan ibu adalah menyiapkan aktivitas pengganti yang tak kalah menyenangkan.
Melarang anak memegang gawai tanpa memberikan pilihan distraksi lain hanya akan membuat mereka merasa kebingungan, bosan, dan pada akhirnya berujung kembali merengek meminta perangkat digitalnya.
Orangtua dituntut untuk lebih proaktif dan kreatif dalam menawarkan kegiatan fisik maupun asah otak yang sejalan dengan minat sang buah hati.
Berbagai macam aktivitas menyenangkan seperti membaca buku cerita bergambar, melukis, bermain permainan fisik di luar ruangan, hingga melibatkan mereka dalam kegiatan rumah tangga sederhana, bisa menjadi opsi pengalihan yang efektif.
3. Amati fase transisi anak
Selain mencari kegiatan pengganti, orangtua juga diwajibkan untuk memperhatikan kebutuhan fase transisi anak. Setiap anak ini memiliki pola respons yang sangat unik saat dihadapkan pada sebuah rutinitas baru.
Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan orangtua harus disesuaikan secara personal dengan mengamati saksama bagaimana reaksi anak terhadap pemotongan jadwal bermain gawai mereka.
4. Cari bantuan profesional
Jika segala upaya terasa menemui jalan buntu, dan tingkat kecanduan anak dirasa sudah sangat mengkhawatirkan, langkah terbaik adalah mencari bantuan dari pihak profesional.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang