Top 6+ Trik Hadapi Anak yang Suka Mengabaikan Ucapan Orangtua

6 Trik Hadapi Anak yang Suka Mengabaikan Ucapan Orangtua, 1. Hindari mengatakan terlalu banyak informasi, 2. Sampaikan secara langsung, 3. Perbaiki cara penyampaian, 4. Berhenti mengulang perkataan, 5. Ubah menjadi permainan, 6. Berikan perhatian penuh

 Membuat anak mendengarkan ucapan orangtua sering kali menantang, bahkan bisa membuat jengkel ketika respons mereka adalah menangis atau berteriak saat ditegur lantaran tidak mendengarkan.

Menurut pendidik orangtua di Institute for Parenting, Adelphi University, Garden City, New York, AS, Doreen Miller, kebiasaan anak mengabaikan panggilan orangtua ini butuh pendekatan khusus, bukan sekadar perintah berulang.

"Di antara sekolah dan rumah, anak-anak umumnya lelah memperhatikan dan memutuskan mereka perlu mengabaikannya," ucap dia, melansir Parents, Minggu (7/6/2026).

Lantas, apa saja yang bisa dilakukan oleh ayah dan ibu saat menghadapi situasi seperti ini?

Trik agar anak memerhatikan ucapan orangtua

1. Hindari mengatakan terlalu banyak informasi

Kapasitas otak anak dalam memproses pesan sangat terbatas. Jika diberi rentetan perintah sekaligus, mereka mungkin hanya mengingat dua langkah pertama.

Sebaliknya, instruksi yang ambigu dan kurang jelas juga membuat mereka melewatkan detail penting. Miller menyarankan untuk memecah permintaan menjadi dua bagian sederhana, misalnya:

"Saat tayangan kartun selesai, waktunya mematikan televisi dan bersiap untuk tidur." Setelah televisi dimatikan, lanjutkan dengan kalimat: "Oke sayang, selanjutnya memakai piyama dan menyikat gigi."

2. Sampaikan secara langsung

Alasan yang panjang lebar hanya membuat anak hilang fokus. Misalnya, saat menjelaskan perlunya mengganti alas kaki demi kenyamanan berlari di taman, mereka justru mengabaikan instruksi tersebut.

Cobalah mengatakan dengan lebih ringkas dan langsung pada intinya, seperti, "Nak, pakai sepatunya sekarang, karena kita akan bermain di taman".

3. Perbaiki cara penyampaian

Anak akan lebih tanggap jika instruksi diiringi pendekatan visual dan taktil. Menurut Direktur Pusat Anak dan Keluarga di Erikson Institute, Chicago, AS, Margret Nickels, PhD, kamu perlu menjaga kontak mata langsung sambil meletakkan tangan di bahu mereka untuk membantu memusatkan perhatian.

4. Berhenti mengulang perkataan

Mengucapkan kalimat berulang kali justru melatih anak menunda respons sampai orangtua marah.

Selain itu, mengingat guru anak di sekolah tidak menghabiskan waktu seharian hanya untuk mengulang instruksi, kamu sebagai orangtua juga tidak seharusnya melakukan hal tersebut di rumah.

"Kata-katamu tidak lebih dari sekadar suara bising di latar belakang," ungkap Nickels.

Anak lebih patuh jika paham ada konsekuensi tegas yang menanti. Berikan arahan maksimal dua kali. Misalnya, minta anak membereskan mainan dengan mengatakan, "Tolong masukkan mainan balok susunmu ke dalam keranjang biru."

Jika diabaikan, Nickels menyarankan peringatan bahwa mereka tidak bisa memainkannya seharian. Jika anak masih cuek, ambil mainan tersebut.

Sebaliknya, saat mereka patuh, ucapkan kalimat penguatan seperti berterima kasih karena mereka telah menjadi pendengar yang baik.

5. Ubah menjadi permainan

Sepanjang hari, anak sering kali hanya jadi pihak yang terus-menerus disuruh mendengarkan, dan hal ini tentu bisa membuat mereka jenuh.

Sesekali, telinga kecil mereka butuh mendengarkan sesuatu yang lebih menyenangkan. Orangtua bisa melatih kemampuan mendengar anak lewat cara yang seru.

Misalnya, ajaklah mereka jalan-jalan santai sambil fokus mendengarkan dan menebak suara alam. Minta anak mengenali kicauan burung, suara serangga, embusan angin pada daun, hingga bunyi langkah kaki di atas rumput.

Pilihan lainnya, putarlah lagu anak-anak yang ceria untuk bernyanyi bersama, lalu ajak mengobrol santai tentang cerita di balik lirik lagu tersebut.

6. Berikan perhatian penuh

Jika mengobrol sambil menatap gawai, anak akan meniru perilaku setengah hati tersebut. Apabila orangtua mengabaikannya, wajar jika anak juga berlaku serupa.

"Penelitian saya menunjukkan bahwa anak-anak sekecil usia prasekolah menyadari ketika orang dewasa tidak sepenuhnya terlibat dalam percakapan mereka," jelas penulis buku "Learning to Listen, Listening to Learn", Mary Renck Jalongo, PhD.

Tentu tidak semua omongan anak merupakan hal penting, tapi upayakan berfokus pada satu jalur komunikasi.

Singkirkan sementara pekerjaan lain, letakkan gawai, dan berikan atensi penuh lewat tatapan mata sambil mengajukan pertanyaan terkait hari mereka.

"Anak-anak merasa dihargai dan bernilai saat orangtua meluangkan waktu untuk benar-benar mendengarkan. Ditambah lagi, mereka belajar untuk membalasnya," ungkap Jalongo.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang