Gerakan Ayah Ambil Rapor ke Sekolah Tuai Kritik Orangtua Tunggal, Dinilai Lukai Perasaan Anak

Gerakan Ayah Mengambil Rapor, Gerakan Ayah Ambil Rapor ke Sekolah Tuai Kritik Orangtua Tunggal, Dinilai Lukai Perasaan Anak, Orangtua Tunggal Keberatan, Anak Sempat Merasa Sedih, Ayah Tetap Bisa Memantau Anak Tanpa Ambil Rapor, Sejumlah Ayah Sambut Positif Program Gemar, Tujuan Program: Cegah Fenomena Fatherless, Perhatian untuk Single Parent dan Evaluasi Program

Gerakan Ayah Mengambil Rapor ke Sekolah (Gemar) yang digagas Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga BKKBN menuai beragam respons dari orangtua murid.

Program ini dinilai bertujuan meningkatkan keterlibatan ayah dalam pendidikan anak, namun dinilai belum sepenuhnya mempertimbangkan kondisi keluarga yang beragam.

Meski tuai dukungan, Program ini juga menuai kritik dari sejumlah wali murid karena tidak semua anak tumbuh dalam keluarga dengan peran ayah yang utuh.

Di sisi lain, pemerintah daerah menyatakan program ini masih akan dievaluasi agar tidak menimbulkan dampak psikologis bagi anak.

Orangtua Tunggal Keberatan, Anak Sempat Merasa Sedih

Dilansir dari TribunBanyumas.com, Heni (43), wali murid di SMPN 7 Surakarta, Jawa Tengah, menilai Gerakan Ayah Mengambil Rapor berpotensi melukai perasaan anak.

Menurutnya, tidak semua anak lahir dari keluarga yang lengkap, termasuk anaknya sendiri.

"Kalau saya kurang setuju gerakan Gemar karena tidak semua anak lahir dari keluarga yang utuh atau lengkap," ujar Heni.

"Ada anak yang lahir dengan tidak ada peran ayah," tambahnya.

Ia juga mengungkap kekhawatiran anaknya yang merasa sedih dan takut atas penerapan kebijakan ini.

"Sehingga, gerakan ini terkadang membuat anak saya juga kemarin sempat sedih gitu karena khawatir takut ketika yang mengambil rapor itu ibunya, gurunya atau teman-temannya juga akan melihat bahwa dia tidak memiliki ayah," katanya.

Heni mengaku bersyukur pihak sekolah memahami kondisi keluarganya.

"Beruntung tadi guru wali kelas memahami kondisi saya sehingga tidak mempermasalahkan ketika saya mengambil rapor," katanya.

Ayah Tetap Bisa Memantau Anak Tanpa Ambil Rapor

Keberatan serupa disampaikan Galih (40), yang menilai peran ayah dalam memantau perkembangan anak tidak harus diwujudkan dengan hadir langsung mengambil rapor.

Ia mengaku harus mengambil izin kerja untuk memenuhi imbauan tersebut.

"Saya kurang setuju karena ini juga mengganggu pekerjaan saya. Karena, tidak semua orang bisa memiliki waktu yang luang jadi saya harus izin bekerja," keluhnya.

Ia mengungkap bahwa meski tidak mengabil rapor, dirinya masih bisa memantau perkembangan anak di rumah.

"Memang sih, tidak setiap hari (ambil rapor) tapi kalau bisa mengambil rapor ibunya juga tidak apa-apa, karena kan saya juga bisa memantau perkembangan anak ketika di rumah. Jadi, kalau dengan kegiatan mengambil rapor harus ayahnya, saya jadi repot harus izin bekerja," ungkap Galih.

Sejumlah Ayah Sambut Positif Program Gemar

Meski menuai kritik, Gerakan Ayah Mengambil Rapor mendapat sambutan positif dari sebagian ayah.

Kepala DP3AP2KB Kota Solo Kristiana Hariyanti mengaku telah mendatangi sejumlah sekolah dan mendapati antusiasme dari para ayah.

"Tadi, saya berkeliling ke beberapa sekolah dan saya wawancara para ayah, mereka sangat antusias dengan gerakan ini karena bagian dari cara mereka memberikan perhatian kepada anaknya dalam aspek pendidikan dan mereka ingin melihat perkembangan langsung kepada anaknya," katanya.

Salah satu ayah yang mendukung program tersebut adalah Tino. Ia mengaku sudah terbiasa mengambil rapor anak bahkan sebelum program Gemar diberlakukan.

"Saya antusias karena memang saya biasa mengambil rapor anak, bahkan sebelum ada surat imbauan ini. Kegiatan ini bagus sih, sebagai cara ayah untuk membuktikan bahwa ayah sangat peduli kepada anaknya, terutama soal pendidikan," ujarnya.

Tujuan Program: Cegah Fenomena Fatherless

Kristiana menjelaskan Gerakan Ayah Mengambil Rapor bertujuan meningkatkan kesadaran ayah dalam memberikan perhatian kepada anak.

Ia menyebut, berdasarkan data yang dimiliki, satu dari empat anak di Indonesia mengalami kondisi fatherless.

"Baik karena ketidakhadiran fisik ayah maupun kurangnya keterlibatan emosional meskipun tinggal bersama keluarga. Kondisi ini berdampak pada perkembangan anak, mulai dari prestasi akademik, perilaku sosial, hingga kesiapan menghadapi tantangan hidup," ujarnya.

Menurut Kristiana, sekolah menjadi ruang strategis bagi ayah untuk menunjukkan dukungan langsung.

"Kehadiran ayah saat pengambilan rapor tidak sekadar mengambil nilai tetapi menciptakan kedekatan emosional, meningkatkan motivasi belajar, dan memperkuat komunikasi antara orang tua dan guru," ujarnya.

Perhatian untuk Single Parent dan Evaluasi Program

Terkait orangtua tunggal, Kristiana menegaskan pihaknya terus memberi dukungan moral kepada para ibu.

"Kita memberi semangat kepada para ibu single parent agar tetap mendampingi anak dan memperhatikan tumbuh kembang anak Karena mereka merupakan ibu sekaligus ayah sehingga tugasnya sangat berat," ujarnya saat dihubungi, Kamis (18/12/2025).

"Yang kita lakukan terus memberikan semangat," tambahnya.

Ia juga menyatakan program ini akan terus dievaluasi.

"Memang ada orangtua yang tidak sepakat karena ini program pertama kali, tentu akan terus kami evaluasi pelaksanannya. Kami juga tidak ingin, gerakan ini membuat anak yang lahir dari single parent atau yang hanya memiliki orangtua tunggal tidak berkecil hati," katanya.

Artikel ini telah tayang di TribunBanyumas.com dengan judul "Gerakan Ayah Ambil Rapor ke Sekolah Lukai Anak dengan Orangtua Tunggal, Pemkot Solo Bakal Evaluasi".

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang