Gawai dan Internet Tetap Bisa Jadi "Ruang Belajar" Anak

Gawai dan Internet Tetap Bisa Jadi

Pemakaian gawai sering dianggap sebagai musuh pada hari-hari anak sekolah sehingga orangtua kerap langsung membatasi akses internet. 

Padahal, apabila diarahkan dengan tepat, teknologi justru membantu memperluas akses pendidikan dan memperluas wawasan anak, jauh melampaui dinding ruang kelas.

Faktanya, banyak keluarga di Indonesia yang kini mulai menyadari potensi tersebut dan menjadikan platform digital sebagai sarana belajar pendamping.

"Di Indonesia, 90 persen anak dan orangtua menyatakan bahwa YouTube ini membantu pembelajaran dan memberikan akses pembelajaran di dunia untuk anak-anak," papar Product Marketing Manager, Brand & Reputation, Google Indonesia, Dora Songco.

Dora menyampaikan temuan survei Ipsos pada Agustus 2025 tersebut, dalam acara press briefing Google Indonesia bertajuk "AKSIDigital: Ruang Tumbuh Keluarga Indonesia" di Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Data yang sama menunjukkan bahwa 81 persen responden setuju platform video digital adalah sumber penting untuk pembelajaran anak.

Lebih lanjut, 92 persen responden juga meyakininya sebagai wadah pencarian informasi, edukasi, sekaligus hiburan.

"Jadi kalau melihat angka ini, orang di Indonesia itu menggunakan platform kami bukan cuman untuk nonton video, tapi memang terbukti masyarakat percaya ini mendemokratisasi akses informasi," imbuh Dora.

Gawai dan Internet Tetap Bisa Jadi

Product Marketing Manager, Brand & Reputation, Google Indonesia, Dora Songco, dalam acara press briefing Google Indonesia bertajuk AKSIDigital: Ruang Tumbuh Keluarga Indonesia di Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Gawai sebagai sarana untuk mengasah logika dan kreativitas

Pergeseran perangkat digital dari sekadar hiburan kosong menjadi ruang penyerapan ilmu sangat bergantung pada jenis konten yang dikonsumsi.

Tontonan edukasi terbukti mampu melatih dasar pemikiran analitis pada anak secara interaktif.

Sebagai contoh, video yang mengemas pelajaran matematika ke dalam tayangan animasi dapat membantu anak memahami logika di balik angka dengan lebih mudah dan menyenangkan.

Pihak pengembang platform sendiri juga terus mendorong agar ruang digital dipenuhi oleh konten-konten berkualitas tinggi.

"Kita merancang platform kita itu untuk orang-orang menemukan hal baru. Nah untuk hal-hal baru ini kita juga mau make sure bahwa hal-hal baru itu berkualitas dan aman," ungkap Dora.

Pemanfaatan ruang digital sebagai fasilitas pendidikan ini akan berjalan maksimal apabila kondisi psikologis anak di rumah stabil. Ketika anak tidak memiliki kekosongan emosional di dunia nyata, mereka tidak akan memakai gawai untuk pelarian.

"Internet memang buat jadi tempat belajar, buat menyalurkan kreativitasnya," kata Psikolog Klinis Dewasa sekaligus Founder Amanasa, Marsha Tengker, M.Psi., Psikolog.

Membuka wawasan tanpa batas di dunia digital

Guru sekolah dasar sekaligus kreator konten edukasi, Nanda Yurani, melihat bahwa integrasi teknologi menghadirkan perpustakaan raksasa yang bebas diakses kapan saja.

"Teknologi membuka peluang yang luar biasa bagi anak untuk belajar dan mengeksplorasi hal-hal yang mereka sukai," sebut Nanda.

Kemudahan dalam mendapatkan perspektif dan pengetahuan baru ini merupakan sebuah keistimewaan bagi generasi digital.

Oleh sebab itu, orang dewasa tidak dianjurkan untuk mematikan semangat belajar tersebut melalui larangan buta.

"Tugas kita bukan membatasi rasa ingin tahu anak, melainkan membimbing mereka agar dapat menjelajahi dunia digital dengan aman, kritis, dan bertanggung jawab," tutur Nanda.

Gawai dan Internet Tetap Bisa Jadi

Guru sekolah dasar sekaligus kreator konten edukasi, Nanda Yurani, dalam acara press briefing Google Indonesia bertajuk AKSIDigital: Ruang Tumbuh Keluarga Indonesia di Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Pentingnya pendampingan orangtua di ruang digital

Walaupun internet menawarkan segudang ilmu pengetahuan, anak tetap butuh dilindungi dan dibekali kemampuan memilah konten yang tepat.

Orangtua bisa menyeleksi tontonan atau memanfaatkan sistem penyaringan usia bawaan dari aplikasi, sehingga proses penemuan hal-hal baru oleh anak tidak terganggu.

"Anak-anak tidak hanya perlu terlindungi saat online, tetapi juga perlu dibekali kemampuan untuk menjadi warga digital yang cerdas dan percaya diri," jelas Dora.

Melalui pendampingan yang seimbang antara dunia nyata dan maya, anak tidak sekadar pasif mengonsumsi konten, melainkan ikut bertumbuh menjadi individu yang adaptif.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang