Baterai Hybrid Palsu Bisa Bikin Mobil Lebih Boros

mobil, baterai hybrid, Baterai Hybrid Palsu Bisa Bikin Mobil Lebih Boros

JAKARTA, KOMPAS.com - Penggunaan baterai non-original atau palsu (KW) pada mobil hybrid tidak selalu membuat kendaraan langsung mengalami kerusakan. Namun, komponen tersebut dapat memengaruhi performa sistem hybrid dan membuat konsumsi bahan bakar menjadi lebih boros.

Kepala Teknisi Domo Hybrid EV Yogig Pramono mengatakan, kasus penggunaan baterai KW masih ditemukan pada sejumlah mobil hybrid yang datang ke bengkel spesialis.

Biasanya, baterai non-original digunakan untuk menggantikan beberapa sel yang mengalami kerusakan agar biaya perbaikan lebih murah dibandingkan menggunakan komponen original.

Sebagai contoh, pada Toyota Camry Hybrid, satu paket baterai terdiri dari 34 sel baterai yang bekerja secara bersamaan.

"Contohnya baterai Toyota Camry Hybrid, satu pack baterai itu terdiri dari 34 sel. Kemudian ada lima sel baterai yang KW, itu bisa mempengaruhi kesehatan baterai, walaupun mungkin hanya beberapa persen saja," kata Yogig, saat ditemui di Jakarta Utara, belum lama ini.

Pengisian Daya Bermasalah

Menurut Yogig, masalah utama bukan terletak pada spesifikasi baterai yang berbeda, melainkan karakter kerja baterai KW yang tidak sama dengan baterai original.

original cenderung lebih cepat terisi penuh saat proses pengisian daya, tetapi juga lebih cepat habis saat digunakan.

Akibatnya, seluruh sel baterai dalam satu paket tidak bekerja secara seimbang.

"Biasanya baterai yang KW itu lebih cepat ngecas dan lebih cepat habis juga. Jadi tidak bareng-bareng atau bersamaan habisnya dan ngecasnya," kata Yogig.

mobil, baterai hybrid, Baterai Hybrid Palsu Bisa Bikin Mobil Lebih Boros

Sel baterai mobil hybrid

Kondisi tersebut kemudian akan dibaca oleh Battery Management System (BMS), yaitu sistem yang bertugas memantau kondisi baterai hybrid.

Jika ada satu atau beberapa sel yang lebih dulu penuh dibandingkan sel lainnya, BMS akan menganggap proses pengisian sudah mencapai batas tertentu.

Begitu pula saat pelepasan daya, sistem akan menyesuaikan kinerja berdasarkan kondisi sel yang paling lemah.

"Kalau misalnya ada salah satu baterai dari 34 sel itu penuh duluan, pasti BMS membaca baterai ini sudah penuh duluan. Begitu juga sebaliknya," ujar Yogig.

Efisiensi BBM Menurun

Dampak yang paling mudah dirasakan pemilik kendaraan adalah penurunan efisiensi bahan bakar.

Saat sistem hybrid tidak bekerja optimal karena karakter baterai yang tidak seragam, mesin bensin akan bekerja lebih sering untuk membantu menggerakkan kendaraan dan mengisi daya baterai.

Akibatnya konsumsi bahan bakar menjadi lebih tinggi dibandingkan saat seluruh sel baterai masih menggunakan komponen original.

"Biasanya mobil yang baterainya sehat bisa tembus 18 km per liter. Kalau pakai baterai KW biasanya kurang dari itu, bisa 12 km per liter atau bahkan kurang dari 12," kata Yogig.

Karena itu, ia menyarankan pemilik mobil hybrid untuk menggunakan baterai original saat melakukan penggantian modul baterai.

Meski biaya awal yang dikeluarkan lebih besar, penggunaan komponen asli dinilai lebih aman karena karakter pengisian dan pelepasan dayanya telah sesuai dengan standar yang ditetapkan pabrikan.

Selain menjaga performa sistem hybrid, penggunaan baterai original juga dapat membantu mempertahankan efisiensi bahan bakar dan kesehatan baterai dalam jangka panjang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang