Bos Toyota Takut Semua Orang Beralih ke Mobil Listrik
Transisi menuju kendaraan listrik terus berlangsung di berbagai negara. Sejumlah pabrikan bahkan telah menyiapkan target untuk mengurangi hingga menghentikan penjualan mobil bermesin pembakaran internal dalam beberapa tahun ke depan.
Namun, pandangan berbeda justru datang dari Chairman Toyota Akio Toyoda. Ia mengaku khawatir apabila seluruh industri otomotif hanya berfokus pada kendaraan listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV).
Toyoda selama ini dikenal sebagai salah satu petinggi otomotif yang vokal menyuarakan pentingnya mempertahankan berbagai pilihan teknologi kendaraan, mulai dari hybrid, hidrogen, hingga mesin konvensional.
Dalam wawancara dengan CarWow, Toyoda mengungkapkan kekhawatirannya terhadap arah perkembangan industri otomotif global.
"Semua orang beralih ke BEV, dan itu adalah ketakutan terbesar saya," kata Toyoda, dikutip dari Carscoops, Kamis (11/6/2026).
Masih Ingin Pertahankan Mesin Konvensional
Menurut Toyoda, dirinya sudah lama menyampaikan pandangan tersebut, bahkan ketika tren kendaraan listrik belum sebesar sekarang.
"Tiga atau empat tahun lalu, saya satu-satunya orang yang mengatakan kepada media bahwa saya menyukai aroma mesin, suara mesin, dan mesin itu sendiri," kata Toyoda.
"Saya juga ingin mempertahankan lapangan pekerjaan bagi para pemasok komponen mesin. Tetapi sekarang saya merasa seperti satu-satunya orang yang berpikir seperti itu. Saya merasa sangat sendirian," lanjutnya.
Toyota sendiri hingga saat ini masih mempertahankan strategi yang berbeda dibandingkan sebagian besar pabrikan global.
Selain mengembangkan mobil listrik murni, perusahaan juga terus mengembangkan teknologi hybrid, fuel cell electric vehicle (FCEV), hingga mesin pembakaran yang menggunakan bahan bakar hidrogen.
Mobil listrik Toyota bZ7 diperkenalkan di Auto Shanghai 2025
Perdebatan Soal EV
Toyoda juga mengungkapkan bahwa diskusi mengenai arah elektrifikasi masih berlangsung di internal perusahaan.
Menurut dia, masih banyak kalangan di Toyota yang berharap masa depan otomotif tidak hanya mengandalkan kendaraan listrik berbasis baterai.
Karena itu, Toyota memilih tetap membuka berbagai opsi teknologi guna menyesuaikan kebutuhan konsumen di berbagai negara.
Bagi Toyoda, mobil bukan sekadar alat transportasi yang digunakan untuk berpindah tempat.
"Mobil adalah mainan saya. Saya ingin membuat mobil yang memang ingin saya simpan di garasi sendiri. Jika saya hanya harus membuat mobil yang netral karbon, itu tidak menarik," ujarnya.
Ia juga menilai industri otomotif seharusnya tidak hanya mengejar keuntungan atau target emisi semata. Menurut Toyoda, mobil harus tetap mampu menghadirkan emosi dan kesenangan bagi penggunanya.
Improvement GR Yaris
Toyota Siapkan Mobil Performa
Meski demikian, Toyota tetap beradaptasi dengan tuntutan kendaraan yang lebih ramah lingkungan.
Salah satu contohnya adalah generasi terbaru GR Yaris yang dikabarkan akan menggunakan sistem hybrid performa tinggi.
Mobil tersebut disebut akan memadukan mesin turbo empat silinder 2.0 liter dengan motor listrik dan baterai berukuran kecil. Kombinasi tersebut diperkirakan mampu menghasilkan tenaga hingga 394 dk.
Selain itu, Toyota juga masih menyiapkan sejumlah mobil sport bermesin konvensional, termasuk GR GT yang disebut akan menggunakan mesin V8 4.0 liter twin-turbo tanpa elektrifikasi.
Tak hanya itu, nama legendaris seperti MR2 dan Celica juga dikabarkan berpotensi kembali hadir dalam jajaran produk Toyota pada masa mendatang.
Pernyataan Toyoda menunjukkan bahwa meski elektrifikasi terus berkembang, Toyota tampaknya belum akan sepenuhnya meninggalkan mesin pembakaran internal dalam waktu dekat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang