Baterai Mobil Listrik Tak Pernah Balancing, Apa Risikonya?

mobil listrik, Baterai Mobil Listrik Tak Pernah Balancing, Apa Risikonya?

Balancing menjadi salah satu perawatan yang perlu dilakukan pada baterai mobil hybrid maupun kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Tujuannya adalah menyamakan voltase antar sel baterai agar sistem dapat bekerja secara optimal.

Meski kerap dianggap sepele, kondisi baterai yang tidak balance dapat menimbulkan berbagai masalah, mulai dari pembacaan kapasitas yang tidak akurat hingga penurunan jarak tempuh kendaraan.

BMS Bisa Salah Baca

Kepala Teknisi Domo Hybrid EV Yogig Pramono mengatakan, baterai yang tidak pernah dilakukan balancing berpotensi membuat Battery Management System (BMS) tidak membaca kondisi baterai secara akurat.

Menurut dia, kondisi ini terjadi karena setiap sel baterai memiliki voltase yang berbeda-beda. Akibatnya, sistem kesulitan menentukan kapasitas baterai yang sebenarnya.

"Kalau misalnya baterai tidak di balancing nanti BMS (battery management system)-nya akan kurang akurat membacanya," kata Yogig, saat ditemui Kompas.com, di Jakarta Utara, belum lama ini.

Ia menjelaskan, dalam kondisi tertentu terdapat sel baterai yang sudah penuh lebih dulu dibandingkan sel lainnya. Namun sistem dapat menganggap seluruh baterai sudah terisi penuh.

"Misal ada satu baterai yang sudah penuh dari beberapa baterai BMS-nya akan membaca full semua padahal masih ada baterai yang belum sepenuhnya penuh," kata Yogig.

mobil listrik, Baterai Mobil Listrik Tak Pernah Balancing, Apa Risikonya?

konsumsi daya Changan Lumin

Mobil Terasa Cepat Kehabisan Daya

Dampak yang paling mudah dirasakan pemilik kendaraan adalah daya baterai yang terasa cepat habis saat digunakan.

Padahal, indikator baterai sebelumnya menunjukkan kondisi penuh. Namun karena pembacaan sistem tidak akurat, energi yang tersimpan sebenarnya tidak sesuai dengan yang ditampilkan.

Selain itu, pengguna juga bisa merasakan penurunan performa jarak tempuh dibandingkan saat kendaraan masih baru.

Jarak Tempuh Berkurang

Yogig menjelaskan, salah satu tanda baterai mulai tidak balance adalah berkurangnya jarak tempuh dalam sekali pengisian daya penuh.

Sebagai contoh, sebuah mobil listrik yang saat baru mampu menempuh jarak hingga 300 kilometer dalam kondisi baterai penuh, bisa mengalami penurunan setelah beberapa tahun penggunaan.

"Mobil A kalo di cas penuh bisa nempuh jarak 300 km. Setelah 2 tahun dipakai, sering fast charging, baterai tidak balance beberapa volt naik turun, sekarang sekali cas sampai penuh cuma bisa nempuh jarak 200-250 km," kata Yogig.

Untuk itu, pemilik mobil hybrid maupun EV disarankan melakukan pemeriksaan kesehatan baterai secara berkala. Dengan begitu, perbedaan voltase antar sel dapat terdeteksi lebih awal sebelum memengaruhi performa kendaraan secara signifikan.

Selain membantu menjaga akurasi pembacaan BMS, balancing juga dapat membuat kinerja baterai lebih optimal sehingga kapasitas dan jarak tempuh kendaraan tetap terjaga.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang