Belut Jepang Makin Langka, Peneliti Buat Inovasi Budidaya Terbaru

Belut Jepang Makin Langka, Peneliti Buat Inovasi Budidaya Terbaru

Belut merupakan salah satu bahan makanan favorit di Jepang dan berbagai negara Asia.

Karena kepopulerannya ini, ada banyak hidangan khas Jepang yang menggunakan belut sebagai bahan utama masakannya.

Sayangnya, kini jumlah belut semakin menurun dan langka di pasaran. Para ilmuwan menyebut populasi belut terus menurun secara global disebabkan oleh pencemaran air, rusaknya lahan basah, pembangunan bendungan, hingga praktik penangkapan ikan berlebihan.

Maka dari itu, peneliti Jepang mulai melakukan inovasi budidaya terbaru dalam upaya pelestarian belut.

Terobosan budidaya belut di laboratorium

Populasi belut yang terancam punah ini ditandai dengan kenaikan harga belut yang di atas rata-rata.

Harga untuk belut yang dibudidaya di penangkaran sendiri dijual sekitar Rp 900.000 - Rp 1 Juta per ekor.

Harga ini terlampau mahal untuk jenis ikan sidat. Maka dari itu, pemerintah mencoba menemukan cara terbaru yakni melakukan budidaya belut di sebuah laboratorium.

Upaya membudidayakan belut sebenarnya bukan hal baru. Pada tahun 2010, peneliti Jepang berhasil membiakkan belut dari telur di laboratorium, meski dengan biaya yang sangat tinggi.

Sejak saat itu, berbagai pihak mulai dari pemerintah, universitas, hingga sektor swasta terus berupaya menekan biaya produksi agar lebih terjangkau.

Dilansir Kompas.com dari VN Express International pada Kamis (28/5/2026) inovasi terbaru ini berhasil efektif menekan biaya produksi budidaya belut.

Awalnya, biaya produksi satu ekor benih belut mencapai lebih dari 1 juta yen. Kini, berkat berbagai inovasi teknologi, biaya tersebut berhasil ditekan menjadi sekitar 1.800 yen per ekor.

Meski begitu, harga ini masih sekitar tiga hingga empat kali lebih mahal dibandingkan benih belut liar. Namun, pemerintah Jepang menilai sudah saatnya menguji respons pasar terhadap produk ini.

Belut laboratorium mulai dijual di pasaran

Belut hasil budidaya penuh ini akan mulai dijual dalam bentuk olahan “kabayaki” di sejumlah toko di Tokyo dan platform online mulai akhir Mei 2026.

Produk ini dipasarkan oleh perusahaan budidaya Yamada Suisan dan disebut sebagai yang pertama di dunia.

Dua porsi belut kabayaki dibanderol sekitar 9.000 yen, harga yang tergolong setara dengan produk premium.

Upaya budidaya ini dinilai sebagai langkah baru dalam budidaya belut secara penuh di masa depan.

Dalam sejumlah informasi, belut dari berbagai dunia termasuk Jepang dan Amerima mulai masuk dalam kategori terancam punah menurut International Union for Conservation of Nature. Sementara itu, belut Eropa bahkan berstatus kritis.

Dengan adanya inovasi ini, diharapkan ketergantungan pada belut liar bisa berkurang, sekaligus menjaga keberlanjutan salah satu bahan pangan favorit di Asia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang