Iran Peringatkan Lonjakan Harga Minyak Dunia Tembus US$200 per Barel

Ilustrasi Harga Minyak Dunia
Ilustrasi Harga Minyak Dunia

Iran memperingatkan harga minyak dunia berpotensi melonjak dua kali lipat menjadi US$200 atau sekitar Rp3.380.100 (estimasi kurs Rp 16.900 per dolar AS) per barel. Prediksi ini menyusul serangan Iran terhadap kapal dagang di kawasan Teluk memperburuk ketegangan geopolitik sehingga mengguncang pasar energi global.

Pasukan militer Iran melaporkan tiga kapal dagang terkena serangan proyektil yang melintas di wilayah perairan Teluk karena dianggap mengabaikan perintah dari pasukan Garda Revolusi Iran. Salah satunya adalah kapal kargo berbendera Thailand yang terbakar hebat sehingga awak kapal terpaksa dievakuasi. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain itu, dua kapal lainnya juga mengalami kerusakan, yakni kapal kontainer berbendera Jepang serta kapal kargo berbendera Kepulauan Marshall. Dampak dari serangan ini, ada tiga orang dilaporkan hilang dan diduga terjebak di ruang mesin.

Serangan terbaru ini menambah jumlah kapal dagang yang terkena serangan sejak konflik menjadi 14 kapal sekaligus meningkatkan kekhawatiran mengenai keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Kawasan selan ini merupakan salah satu jalur distribusi energi paling vital di dunia karena menyalurkan sekitar 20 persen pasokan minyak global.

“Bersiaplah menghadapi harga minyak US$200 per barel, karena harga minyak bergantung pada keamanan regional yang telah kalian destabilisasi,” ujar Juru Bicara Komando Militer Iran, Ebrahim Zolfaqari, dikutip dari Business Today pada Rabu, 12 Maret 2026.

Ilustrasi Minyak Mentah

Konflik di kawasan Timur Tengah memanas sudah berlangsung hampir dua pekan lalu sejak AS dan Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran. Perang di Timur Tengah dilaporkan telah menewaskan sekitar 2.000 orang atau setara sebagian besar berada di Iran dan Lebanon.

Meski mendapat serangan udara besar-besaran yang oleh Pentagon disebut sebagai kampanye militer paling intens sejak perang paling intens. Iran terus melancarkan serangan balasan ke Israel dan sejumlah target di kawasan Timur Tengah.

Presiden AS, Donald Trump, mengisyaratkan bahwa konflik tersebut belum segera berakhir. Trump juga mengklaim bahwa pasukan Amerika telah menghancurkan 58 kapal angkatan laut, meskipun ia menilai harga minyak pada akhirnya akan kembali turun.

“Kami tidak ingin pergi terlalu cepat, bukan? Kami harus menyelesaikan pekerjaan ini,” ujar Trump dalam sebuah rapat umum.

Pasar Minyak Global Bergejolak

Ketegangan geopolitik langsung memicu volatilitas di pasar energi global. Harga minyak sempat melonjak mendekati US$120 per barel pada awal pekan sebelum turun ke kisaran US$90. 

Mengutip CNBC Internasional, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melesat 7,5 persen menjadi US$93,8 atau sekitar Rp1.585.717 per barel pada perdagangan Kamis, 12 Maret 2026. Sementara itu, minyak mentah Brent Crude naik sekitar 7,7 persen ke level US$99,1 atau sekitar Rp 1.675.315,23 per barel.

Untuk meredam gejolak pasar, Badan Energi Internasional (IEA) akan melepaskan 400 juta barel minyak mentah dari cadangan strategis global. Trump juga memerintahkan untuk menggelontorkan 172 juta barel dari Strategic Petroleum Reserve (SPR) yang diperkirakan berlangsung selama 120 hari.

Namun, para analis menilai cadangan strategis tersebut hanya mampu menutup sebagian kecil dari pasokan minyak yang biasanya melewati Selat Hormuz setiap hari. Krisis energi semakin di depan mata karena jalur pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan hampir terhenti. 

Seorang juru bicara militer Iran menyatakan bahwa selat tersebut berada di bawah kendali Iran. Iran juga dikabarkan telah menempatkan sekitar selusin ranjau laut di jalur tersebut.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Merespons situasi tersebut, negara-negara Group of Seven (G7) mempertimbangkan misi pengawalan kapal dagang di kawasan Teluk guna menjaga keamanan jalur perdagangan energi global. Di sisi lain, pemerintah AS memperingatkan potensi ancaman yang lebih luas, termasuk kemungkinan serangan terhadap infrastruktur energi milik AS di Irak.

Ketegangan yang terus meningkat ini membuat pasar energi global berada dalam kondisi sangat sensitif. Jika konflik semakin meluas dan jalur distribusi minyak tetap terganggu, lonjakan harga energi dunia berpotensi menjadi jauh lebih tajam.