Hati-Hati Sering Bunyikan Leher Saat Pegal Bisa Berujung Fatal

Ilustrasi leher hitam
Ilustrasi leher hitam

Membunyikan leher hingga terdengar bunyi 'krek' menjadi hal menyenangkan sekaligus menenangkan jika pundak terasa sakit. Tindakan ini juga sekaligus menjadi solusi cepat saat leher terasa sakit akibat terlalu lama duduk di depan meja. 

Namun meski tampak sepele, kebiasaan membunyikan leher berulang kali bisa membawa risiko yang jauh lebih serius daripada sekadar rasa nyaman sesaat.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Seorang dokter keluarga dan kreator konten kesehatan asal Inggris, Dr Sermed Mezher mengulas dampak fisiologis dari kebiasaan ini  yang ternyata tidak seaman yang banyak orang kira. 

Dalam sebuah video yang diunggahnya di akun Instagram, Rabu 11 Februari, ia menjelaskan potensi risiko neurologis dan pembuluh darah akibat mengrekahkan leher, sekaligus mengungkap penyebab sensasi hangat yang kadang muncul setelahnya.

Mari simak penjelasan selengkapnya seperti melansir laman Hindustan Times di sini.

Menurut Mezher, bunyi “krek” yang terdengar saat leher diregangkan memang bisa memberi rasa lega sementara dari ketegangan yang menumpuk. Namun kebiasaan ini justru bisa menjadi kontraproduktif karena berisiko memicu ketidakstabilan sendi dalam jangka panjang. 

Dijelaskannya, jika ligamen di sekitar sendi terus-menerus diregangkan, elastisitasnya bisa berkurang dan membuatnya memanjang secara permanen serta menjadi tidak stabil.

“Bunyi itu biasanya disebabkan oleh kavitasi, yaitu perubahan tekanan mendadak pada sendi yang membuat gelembung gas terbentuk lalu pecah di dalam cairan sinovial. Meski bisa melepaskan endorfin sementara dan meregangkan kapsul sendi, kebiasaan ini sering menciptakan ‘jebakan hipermobilitas’. Dengan terus meregangkan ligamen demi mendapatkan bunyi tersebut, ligamen bisa menjadi longgar secara permanen. Akibatnya, otot di sekitarnya harus bekerja lebih keras untuk menstabilkan kepala, sehingga muncul siklus tegang kronis dan dorongan untuk kembali mengrekahkan leher demi merasa lega," kata dia. 

Selain menyebabkan kelonggaran sendi, Mezher menegaskan bahwa kebiasaan membunyikan leher juga membawa risiko komplikasi serius pada saraf dan pembuluh darah. Pasalnya, di area leher terdapat arteri vertebralis yang berperan penting dalam menyalurkan darah ke otak, sehingga gerakan memutar yang terlalu kuat atau salah bisa sangat berbahaya.

“Di leher terdapat arteri vertebralis yang melewati struktur tulang tulang belakang leher untuk memasok darah ke otak. Gerakan memutar yang kuat dan cepat, meski jarang, bisa menyebabkan robekan kecil pada dinding arteri (diseksi arteri vertebralis) yang berisiko memicu stroke," kata dia. 

Ia juga menambahkan bahwa kebiasaan ini dapat mempercepat kerusakan pada bantalan tulang belakang (diskus intervertebralis). Dalam jangka panjang, tekanan tambahan tersebut bisa memicu terbentuknya taji tulang (bone spur) yang dapat menekan saraf di sekitarnya.

“Manipulasi sendiri yang dilakukan berulang kali bisa mempercepat keausan pada diskus tulang belakang, berisiko menyebabkan hernia atau terbentuknya taji tulang yang menjepit saraf. Karena leher merupakan jalur yang sangat sensitif bagi saraf dan pembuluh darah penting, sebagian besar tenaga medis tidak menyarankan kebiasaan mengrekahkan leher sendiri, dan lebih merekomendasikan perbaikan postur atau terapi fisik profesional untuk mengatasi ketegangan yang mendasarinya," kata dia. 

Arti sensasi hangat setelah leher diregangkan?

Menurut Mezher, sensasi hangat yang menjalar di punggung setelah mengrekahkan leher tidak selalu berarti aman. Hal itu bisa menjadi tanda iritasi atau peradangan saraf. 

Dalam beberapa kasus, sensasi tersebut juga dapat berkaitan dengan saraf terjepit, cedera otot, atau kejang pada otot trapezius otot besar di bagian leher, bahu, dan punggung atas yang berperan penting dalam gerakan dan stabilitas.

“Saya tidak pernah menyarankan seseorang untuk mengrekahkan lehernya. Tapi jika seseorang melakukannya dan muncul sensasi hangat yang menjalar ke punggung, apa artinya? Pertama, itu bisa menandakan iritasi atau peradangan saraf. Jika terjadi saraf terjepit di leher, biasanya nyeri menjalar ke lengan, sedangkan jika di tulang belakang dada, bisa terasa di sekitar belikat. Namun dengan pola seperti itu, bisa juga merupakan tanda otot tertarik atau kejang, karena otot trapezius memang sesuai dengan area tersebut," kata dia. 

Meski begitu, Mezher menekankan bahwa gejala semacam ini harus selalu dilihat dalam konteks kondisi dan riwayat medis seseorang, termasuk apakah baru saja mengalami kecelakaan atau cedera. Gejala penyerta seperti gangguan penglihatan atau sakit kepala juga perlu diperhatikan, karena riwayat medis yang lengkap sangat penting untuk menegakkan diagnosis yang tepat.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Dalam dunia medis sering dikatakan bahwa 90 persen diagnosis ditentukan dari penggalian riwayat pasien yang baik dan menyeluruh. Karena itu, ada banyak pertanyaan lain yang perlu diajukan, misalnya apakah baru saja terjadi kecelakaan? Apakah ada gejala lain seperti perubahan penglihatan atau sakit kepala yang bisa mengarah pada migrain, di mana sensasi tidak biasa juga bisa muncul?," kata dia 

Mezher menambahkan bahwa fisioterapi bisa menjadi pilihan bila masalahnya berkaitan dengan otot trapezius, karena latihan khusus dan rehabilitasi terarah dapat membantu mengatasi ketidakseimbangan dan ketegangan otot. Namun ia menegaskan bahwa sebelum terapi apa pun dilakukan, perlu dipastikan terlebih dahulu tidak ada penjepitan saraf agar penanganannya aman dan tepat. Ia juga memperingatkan bahwa tempat terakhir yang ia rekomendasikan untuk mencari perawatan adalah ke chiropractor.