Hantavirus Ancam Penderita Jantung, Dokter Minta Tingkatkan Kewaspadaan

Ilustrasi Hantavirus
Ilustrasi Hantavirus

 Kasus infeksi hantavirus kembali menjadi sorotan setelah kalangan medis mengingatkan adanya risiko komplikasi yang lebih tinggi pada pasien dengan penyakit penyerta, khususnya gangguan jantung. Kondisi ini dinilai perlu mendapat perhatian karena infeksi dapat memperburuk kesehatan pasien yang sebelumnya sudah memiliki masalah pada sistem kardiovaskular.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Subspesialis Aritmia RS Pondok Indah, dr. Dony Yugo Hermanto, Sp. J.P, Subsp. Ar (K), FIHA menjelaskan bahwa penderita penyakit jantung termasuk kelompok yang lebih rentan mengalami kondisi serius saat terinfeksi penyakit tertentu, termasuk hantavirus. Scroll lebih lanjut yuk!

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Kalau pasien memiliki penyakit jantung sebagai baseline, maka kondisi tersebut bisa menjadi komorbid yang memperberat infeksi. Risiko komplikasinya tentu lebih tinggi dibanding orang tanpa penyakit jantung,” ujar dr. Dony, dalam diskusi media di Jakarta, baru-baru ini.

Ia menuturkan bahwa hingga saat ini kajian ilmiah mengenai pengaruh langsung hantavirus terhadap gangguan irama jantung maupun gagal jantung masih terus diteliti. Meski demikian, pasien dengan riwayat masalah jantung tetap diminta meningkatkan kewaspadaan karena infeksi dapat memengaruhi sistem pernapasan dan menurunkan kadar oksigen dalam tubuh.

Menurut dr. Dony, kondisi tersebut berpotensi memperburuk keadaan pasien yang sebelumnya sudah mengalami gangguan pada fungsi jantung atau saturasi oksigen. Karena itu, pasien dengan penyakit jantung bawaan, aritmia, maupun gangguan lain yang berkaitan dengan oksigenasi tubuh perlu lebih berhati-hati.

“Pada pasien yang memang sudah memiliki masalah jantung, terutama yang kadar oksigennya tidak optimal, infeksi dapat menjadi lebih berat. Bukan hanya hantavirus, tetapi berbagai infeksi lain juga perlu diwaspadai,” katanya.

Hantavirus sendiri merupakan penyakit yang ditularkan melalui paparan urine, air liur, maupun kotoran hewan pengerat seperti tikus. Infeksi ini biasanya diawali dengan gejala menyerupai flu, seperti demam, nyeri otot, sakit kepala, hingga gangguan pernapasan. Pada sebagian kasus, infeksi dapat berkembang menjadi lebih serius apabila tidak segera ditangani.

Selain memperhatikan risiko infeksi, masyarakat juga diingatkan pentingnya menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat, terutama bagi penderita penyakit kronis. 

Dokter spesialis neurologi dr. Andre, Sp. N menekankan bahwa pengendalian faktor risiko kesehatan menjadi langkah penting untuk menurunkan kemungkinan komplikasi berat.

Menurutnya, menjaga kesehatan jantung dapat dilakukan melalui pola hidup sehat yang konsisten. Aktivitas fisik rutin, tidur cukup, mengontrol tekanan darah, serta menghindari kebiasaan merokok menjadi bagian penting dalam menjaga daya tahan tubuh sekaligus kesehatan pembuluh darah.

"Pencegahan tetap menjadi hal paling penting. Ketika kondisi tubuh dan faktor risiko terkontrol, maka kemungkinan komplikasi berat juga bisa ditekan,” jelas dr. Andre.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain menjaga kesehatan tubuh, dokter juga mengimbau masyarakat untuk memperhatikan kebersihan lingkungan guna mengurangi risiko paparan hewan pengerat yang dapat membawa virus. Lingkungan rumah yang bersih dinilai dapat membantu mencegah berkembangnya tikus sebagai sumber penularan.

Masyarakat, terutama yang memiliki riwayat penyakit jantung, juga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala infeksi yang tidak biasa atau gangguan pernapasan yang memburuk. Langkah deteksi dini dianggap penting untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.