Waspada Stroke! Kenali Golden Period yang Bisa Menyelamatkan Nyawa Pasien
Stroke masih menjadi salah satu penyakit yang paling berbahaya dan mematikan di Indonesia. Penyakit ini tidak hanya mengancam nyawa, tetapi juga berisiko menyebabkan kecacatan permanen apabila pasien terlambat mendapatkan pertolongan medis. Karena itu, masyarakat perlu memahami pentingnya penanganan cepat saat gejala stroke mulai muncul.
Dalam dunia medis, terdapat istilah golden period atau periode emas dalam penanganan stroke. Masa kritis ini menjadi penentu besar kecilnya peluang pasien untuk selamat dan pulih tanpa gangguan fungsi tubuh yang berat. Scroll lebih lanjut yuk!
Semakin cepat pasien mendapat pertolongan, semakin besar pula kemungkinan kerusakan otak dapat diminimalkan.
Gejala stroke sendiri kerap muncul secara mendadak. Mulai dari wajah mencong, sulit berbicara, tubuh mendadak lemas di salah satu sisi, hingga gangguan keseimbangan. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang menganggap gejala tersebut sebagai kondisi biasa sehingga penanganan sering terlambat dilakukan.
Padahal, keterlambatan beberapa jam saja dapat berdampak besar terhadap kondisi pasien. Saat stroke terjadi, aliran darah menuju otak terganggu sehingga sel-sel otak mulai mengalami kerusakan. Jika kondisi ini tidak segera ditangani, risiko kelumpuhan hingga kehilangan fungsi tubuh tertentu akan meningkat.
Dalam praktik medis, terdapat periode kritis yang dikenal sebagai golden period, yakni kurang dari 4,5 jam sejak gejala pertama muncul. Penanganan dalam rentang waktu ini dapat meningkatkan peluang pemulihan serta mengurangi risiko kecacatan permanen.
Kesadaran masyarakat terhadap gejala awal stroke pun dinilai menjadi hal yang sangat penting. Banyak pasien datang ke rumah sakit setelah melewati masa kritis, sehingga peluang terapi optimal menjadi lebih kecil. Karena itu, edukasi mengenai tanda-tanda stroke dan pentingnya segera mencari bantuan medis harus terus ditingkatkan.
Selain kesadaran masyarakat, kesiapan fasilitas kesehatan juga memegang peran penting dalam penanganan stroke modern. Rumah sakit dituntut memiliki layanan yang mampu bergerak cepat, mulai dari diagnosis, tindakan medis, hingga rehabilitasi pasien secara terpadu.
Penanganan stroke masih menjadi tantangan serius di Indonesia, terutama di wilayah dengan prevalensi tinggi seperti Sumatera Utara. Dalam konteks ini, keberadaan fasilitas kesehatan dengan standar penanganan cepat dan terintegrasi menjadi faktor kunci dalam menyelamatkan pasien.
Data menunjukkan prevalensi stroke di Sumatera Utara berada di kisaran 9,3 persen, menjadikannya salah satu wilayah dengan beban kasus signifikan secara nasional. Dalam kondisi ini, kecepatan penanganan menjadi faktor penentu utama keselamatan pasien.
Salah satu perkembangan terbaru datang dari Siloam Hospitals Dhirga Surya Medan yang berhasil memperoleh pengakuan internasional dalam layanan stroke. Siloam Hospitals Dhirga Surya Medan resmi meraih sertifikasi Advanced Stroke Centre dari World Stroke Organization. Pencapaian ini menjadikannya sebagai rumah sakit swasta pertama di Indonesia yang memperoleh pengakuan tersebut.
Sertifikasi Advanced Stroke Centre diberikan kepada fasilitas kesehatan yang memenuhi standar tinggi dalam penanganan stroke, mulai dari diagnosis cepat, intervensi medis lanjutan, hingga rehabilitasi berbasis bukti. Rumah sakit juga harus memiliki kesiapan layanan 24 jam dengan dukungan tim multidisiplin dan teknologi medis yang memadai.
Selain itu, indikator penting seperti kecepatan penanganan awal pasien (door-to-needle time) serta kemampuan melakukan tindakan lanjutan seperti trombektomi menjadi bagian dari penilaian.
Chief Executive Officer Siloam Hospitals Dhirga Surya Medan, Hartono Teguh Wijaya, menyebut pencapaian tersebut menjadi bagian dari komitmen peningkatan kualitas layanan kesehatan bagi pasien stroke.
“Ini bukan sekadar penghargaan, tetapi komitmen kami untuk memastikan pasien mendapatkan penanganan stroke terbaik tanpa harus ke luar negeri,” ujar Hartono Teguh Wijaya, dalam keterangan resminya.
Keberhasilan ini juga didukung oleh kolaborasi tim medis lintas spesialis, termasuk neurologi, radiologi, dan bedah saraf, yang berperan dalam memastikan standar layanan berjalan optimal.
Sebelumnya, rumah sakit ini juga mencatatkan kinerja klinis melalui perolehan Diamond Award dari program WSO Angels Awards selama beberapa periode, yang menilai kecepatan diagnosis dan efektivitas terapi stroke akut.
Di sisi lain, peningkatan layanan stroke tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kesadaran masyarakat. Edukasi mengenai gejala awal stroke dan pentingnya penanganan cepat dinilai menjadi faktor penting dalam menekan angka keterlambatan penanganan.
Dengan adanya fasilitas berstandar internasional di daerah, diharapkan akses masyarakat terhadap layanan penanganan stroke yang cepat dan tepat dapat semakin luas, sekaligus meningkatkan peluang keselamatan pasien di Indonesia.