Hati-hati Hipertensi Bisa Sebabkan Stroke
Atrial fibrilasi (AFib) adalah salah satu jenis aritmia atau gangguan irama jantung. Gejalanya bisa hilang timbul, berlangsung lama, atau bahkan permanen. Apabila dibiarkan, atrial fibrilasi bisa mengakibatkan gagal jantung dan stroke.
Sejumlah penelitian global menunjukkan keterkaitan erat antara hipertensi dan AFib dalam meningkatkan risiko stroke. Studi Verdecchia et al. (2018) dalam Circulation Research menegaskan bahwa hipertensi merupakan faktor risiko kuat untuk terjadinya AFib dan bahwa pengendalian tekanan darah secara intensif terutama di bawah 120 mmHg dapat mengurangi risiko munculnya AFib secara signifikan.
Sementara itu, studi Framingham oleh Wolf et al. (1991) membuktikan bahwa AFib merupakan faktor risiko independen terhadap stroke, bahkan pada pasien tanpa penyakit jantung rematik.
Spesialis saraf dari RS Brawijaya dan Mayapada Kuningan, Dr. Zicky Yombana Babeheer, SpN, AIFO-K, DAI FIDN, CPS, menjelaskan bahwa Atrial Fibrilasi adalah salah satu gangguan jantung yang sering tidak disadari karena gejalanya bisa ringan atau bahkan tidak terasa sama sekali.
"Namun, kondisi ini dapat meningkatkan risiko stroke hingga lima kali lipat," kata dia.
Dia menyebut penting untuk melakukan deteksi dini. Salah satunya adalah dengan memantau tekanan darah secara rutin di rumah.
"Melakukan pemantauan tekanan darah secara rutin di rumah, masyarakat dapat mendeteksi perubahan tekanan atau irama jantung lebih awal, sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum terjadi komplikasi serius," kata dia.
Cerita penyitas Stroke
Sementara itu, Pendiri Komunitas KDS Penyintas Stroke, Asep Aji Fatahilah juga berbagi pengalanannya yang mengalami stroke di usia 19 tahun. Saat itu dirinya sama sekali tidak concer dengan kondisi kesehatannya. Hingga di satu waktu dirinya mendapati tekanan darahnya mencapai lebih dari 200.
"Saya tidak pernah menyangka akan mengalami stroke di usia 19 tahun. Saat itu, saya merasa sehat dan tidak memiliki riwayat tekanan darah tinggi. Hingga suatu hari, seorang teman memeriksa tekanan darah saya, dan hasilnya menunjukkan angka yang sangat tinggi lebih dari 200," kata dia.
Saat itu, Asep tak ambil pusing. Namun siapa sangka dibalik ketidak peduliannya itu, Asep mengalami serangan stroke.
"Saya menganggapnya sepele, dan tak lama kemudian, serangan stroke pertama pun datang. Peristiwa itu menjadi titik balik dalam hidup saya," kata dia.
Berkaca pada kejadian tersebut, Asep mengungkap betapa pentingnya mengenali kondisi tubuh. Kini dirinya pun selalu rutin memeriksakan tekanan darahnya.
"Saya menyadari betapa pentingnya mengenali kondisi tubuh sejak dini. Sekarang, saya rutin memeriksa tekanan darah di rumah dan lebih berhati-hati menjaga pola hidup sehat untuk mencegah masalah serius di masa depan," ujarnya.
Pentingnya pengecekan tekanan darah di rumah
Studi Interstroke 2016 di The Lancet mengatakan, sekitar 90 persen kasus stroke sebenarnya dapat dicegah melalui pengendalian faktor risiko seperti tekanan darah tinggi, gangguan jantung, pola makan tidak sehat, stres, dan kurang aktivitas fisik.
Berkaitan dengan itu, OMRON Healthcare Indonesia mengajak masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap pentingnya deteksi dini dan pengelolaan faktor risiko stroke. Pada kesempatan ini, OMRON memperkenalkan tensimeter terbaru HEM-7383T1.
Tensimeter digital terbaru yang dilengkapi teknologi IntelliSense AFib. Teknologi canggih ini akan menganalisis pola gelombang tekanan nadi dengan akurasi tinggi untuk mendeteksi kemungkinan AFib sejak dini hanya dengan satu klik.
Ditenagai oleh kecerdasan buatan dan basis data ribuan rekaman tekanan darah serta detak jantung, perangkat ini membantu pengguna mengenali potensi risiko stroke sebelum gejala muncul.
Tensimeter ini juga dilengkapi dengan manset IntelliWrap™ yang memastikan hasil pengukuran akurat dari segala posisi lengan, memori untuk dua pengguna, layar besar yang mudah dibaca, serta konektivitas Bluetooth® ke aplikasi OMRON connect untuk petacakan data tekanan darah secara digital.
Dengan fitur-fitur ini, pengguna dapat memantau tekanan darah dan kondisi jantung secara konsisten, baik untuk kebutuhan pribadi maupun pemantauan bersama tenaga medis.
"Kami percaya bahwa kesehatan jantung dan otak harus dijaga sejak dini, bukan hanya ketika gejala muncul. Melalui inovasi berbasis teknologi dan edukasi berkelanjutan, kami berkomitmen membantu masyarakat memantau tekanan darah dan mendeteksi potensi gangguan irama jantung seperti AFib dengan lebih mudah dan akurat. Harapan kami sederhana, agar semakin banyak keluarga di Indonesia dapat terhindar dari risiko stroke," ujar Director OMRON Healthcare Indonesia, Tomoaki Watanabe.