Buntut Ucapan ‘Perasaan Adik-adik Saja’, MC Lomba Cerdas Cermat MPR Minta Maaf
Lomba cerdas cermat (LCC) 4 Pilar tingkat Provinsi Kalimantan Barat terus menjadi sorotan publik. Bukan hanya keputusan juri yang dianggap tidak adil, pembaca acara atau MC dari lomba tersebut yakni Shindy Lutfiana juga ikut disorot publik.
Shindy menuai kritik keras dari publik karena dianggap tidak menunjukkan empati kepada peserta yang diperlakukan tidak adil. Dalam acara itu, ia justru menegaskan bahwa dewan juri sudah sangat kompeten dan teliti dalam meninai jawaban peserta.
“Baik adik-adik mohon diterima keputusan dewan juri karena tentu juri yang hadir hari ini sudah sangat kompeten dan sangat teliti mendengarkan jawaban dari adik-adik,” kata dia.
Tak hanya itu, Shindy juga kembali menjadi sorotan setelah menyinggung peserta bernama Josepha Alexandra yang mengajukan protes. Dia menyebut Josepha lah yang salah bukan dewan juri. Seperti diketahui, Josepha mempersoalkan jawabannya yang dianggap salah, sementara jawaban serupa dari tim lawan justru dinilai benar oleh dewan juri.
“Mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja. Nanti mungkin bisa dilihat tayangan ulangnya setelah acara selesai,” kata Shindy.
Menyusul dengan kritikan yang keras padanya, Shindy akhirnya menyampaikan permintaan maafnya di akun media sosial Instagram miliknya. Dalam pernyataanya, Shindy mengaku menyesal.
“Melalui unggahan ini saya Shindy Lutfiana selaku MC pada kegiatan lomba cerdas cermat (LCC) Empat pilar MPR RI 2026 Provinsi Kalimantan Barat yang diselenggarakan pada 9 Mei 2026. Mohon izin untuk menyampaikan permohonan maaf atas pernyataan saya yang beredar luas di media sosial saat pelaksanaan ‘Babak Final’ berlangsung,” tulis dia dalam pernyataannya itu dikutip, Rabu 13 Mei 2026.
Shindy meminta maaf atas pernyataannya dalam acara tersebut yang menyebut ‘Mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja’. Dia menyebut bahwa pernyataan itu seharusnya tidak disampaikan selaku pembawa acara.
“Saya menyadari sepenuhnya bahwa pernyataan tersebut telah menimbulkan kekecewaan, ketidaknyamanan, bahkan melukai perasaan berbagai pihak, khususnya adik-adik peserta lomba, guru-guru pendamping/pembimbing dari SMA Negeri 1 Pontianak, serta seluruh masyarakat terutama masyarakat Provinsi Kalimantan Barat yang mengikuti dan memberikan perhatian terhadap kegiatan ini,” tulis dia.
Atas insiden tersebut, Shindy mengutarakan permohonan maaf kepada seluruh pihak. Peristiwa ini kata dia menjadi pembelajaran yang berharga untuknya agar lebih berhati-hati, bijaksana dan lebih cermat dalam memilih dan menggunakan diksi ketika menjalankan tugas di ruang publik.
“Peristiwa ini menjadi pembelajaran yang sangat berharga bagi saya untuk lebih berhati-hati, bijaksana, serta lebih cermat dalam memilih dan menggunakan diksi ketika menjalankan tugas diruang publik. Besar harapan saya, permohonan maaf saya ini dapat diterima, dan saya berkomitmen untuk menjadikan kejadian ini sebagai evaluasi terhadap diri saya, agar dapat bersikap lebih baik dan bijak kedepannya,” tulis dia.
Kronologi Kejadian
Lomba cerdas cermat yang ramai jadi sorotan pengguna media sosial ini bermula saat MC membacakan pertanyaan terkait mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang melibatkan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah (DPD).
Peserta dari Grup C yang bernama Josepha Alexandra kemudian menjawab: “Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden.”
Namun jawaban itu justru mendapat nilai minus 5 dari dewan juri. Ketika soal dilempar ke kelompok lain. Grup B kemudian memberikan jawaban dengan susunan kalimat yang sama dengan Grup C. Kali ini, juri justru memberikan nilai penuh 10 poin.
Perbedaan keputusan tersebut langsung memicu protes dari peserta Grup C. Mereka merasa telah memberikan jawaban yang benar sesuai substansi pertanyaan. Di sisi lain, pihak juri berdalih bahwa mereka tidak mendengar penyebutan kata “DPD” dari jawaban Grup C dan menekankan bahwa artikulasi menjadi faktor penting dalam penilaian.