Dikenal Pintar, Ternyata Ini Cita-cita Josepha Alexandra Peserta Cerdas Cermat MPR
Nama Josepha Alexandra atau Ocha belakangan ramai menjadi sorotan publik usai aksinya memprotes keputusan juri dalam ajang Lomba Cerdas Cermat MPR 4 Pilar viral di media sosial. Keberaniannya menyampaikan pendapat di tengah kompetisi membuat banyak orang kagum dengan sikap kritis siswi SMAN 1 Pontianak tersebut.
Di balik sosoknya yang kini dikenal luas sebagai pelajar cerdas dan berani, ternyata Ocha sudah memiliki cita-cita yang menjadi sorotan sejak masih kecil. Hal itu diungkap langsung oleh sang ayah, Andre Kuncoro.
Andre mengatakan bahwa sejak kecil putrinya memang memiliki ketertarikan besar terhadap dunia pendidikan. Bahkan, Ocha pernah bercita-cita ingin menjadi seorang dosen.
“Pas kecil si Oca ingin jadi dosen,” kata sang ayah yang dikutip dari Instagram @kalbaronline pada Minggu, 17 Mei 2026.
Keinginan itu rupanya sejalan dengan kebiasaan Ocha sehari-hari yang dikenal gemar belajar. Menurut Andre, putrinya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama laptop dan buku dibanding bermain di luar seperti anak seusianya.
“Ocha hobinya itu di depan laptop belajar. Kadang kita orang tua juga khawatir ini anak nggak stres kah,” ujar Andre.
Meski sempat merasa khawatir, Andre menyebut kebiasaan belajar tersebut memang sudah menjadi bagian dari keseharian putrinya sejak lama. Ia menilai Ocha memang menikmati proses belajar sebagai hobinya sendiri.
“Ocha suka memang ini belajar memang hobinya itu,” lanjutnya.
Di tengah viralnya momen protes Ocha dalam lomba cerdas cermat, publik juga ikut menyoroti cara sang ayah memberikan dukungan kepada putrinya. Banyak netizen menilai sikap tenang dan cara berpikir Andre turut membentuk karakter Ocha menjadi pribadi yang percaya diri serta berani menyuarakan pendapat.
Sebelumnya, video aksi protes Ocha dalam ajang Lomba Cerdas Cermat MPR 4 Pilar sempat ramai dibahas di berbagai platform digital. Dalam video tersebut, Ocha terlihat menyampaikan keberatan karena merasa jawaban yang ia berikan sebenarnya benar namun dinyatakan salah oleh juri.
Alih-alih hanya membahas soal menang dan kalah, Andre justru menilai kejadian itu memiliki pelajaran penting tentang keberanian dan sportivitas.
“Besar sekali hikmah dari kejadian ini. Publik masyarakat Indonesia tidak hanya dipertontonkan acara lomba tapi bagaimana seorang anak kecil dengan gagah berani dengan ketidakberdayaannya berani menyuarakan keadilan dan kebenaran,” ungkap Andre.
Ia juga menegaskan bahwa sportivitas merupakan hal penting yang harus dijunjung tinggi dalam sebuah kompetisi.
“Menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa dalam lomba itu sportivitas memang harus dijunjung tinggi,” ujarnya.
Bagi Andre, hasil akhir bukanlah satu-satunya hal yang paling penting dalam perlombaan. Ia percaya proses serta keberanian untuk bersikap jujur jauh lebih berarti.
“Menang atau kalah itu biasa itu hanya bonus, tapi yang lebih penting adalah prosesnya,” tandasnya.