Kelme Minta Maaf Usai Jersey Timnas Dihujani Kritik, Janji Perbaiki Kualitas hingga Detail Nama dan Nomor
Euforia peluncuran jersey baru Timnas Indonesia yang sempat diharapkan membawa kebanggaan justru berbalik menjadi gelombang kritik publik. Di tengah tingginya ekspektasi suporter terhadap identitas visual skuad Garuda, sorotan tajam muncul bukan hanya pada desain, tetapi juga kualitas produksi yang dinilai belum memenuhi standar.
Kritik tersebut akhirnya direspons langsung oleh Kelme Indonesia. Melalui pernyataan resmi di akun Instagram @kelme.id, mereka menyampaikan permohonan maaf sekaligus komitmen untuk melakukan evaluasi menyeluruh.
“Terima kasih atas perhatian dan masukan yang diberikan. Kelme Indonesia memahami besarnya harapan publik terhadap jersey Timnas Indonesia,” tulis pernyataan tersebut.
Kelme mengakui bahwa jersey tim nasional seharusnya hadir dengan kualitas terbaik di setiap detailnya. Mereka juga menyesalkan adanya kekurangan yang dirasakan konsumen.
“Kami sepakat jersey kebanggaan bangsa layak hadir dengan kualitas terbaik di setiap detailnya. Kami menyesalkan adanya kejadian yang belum sesuai harapan dan menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi,” lanjutnya.
Jersey Kelme Timnas Indonesia
Dalam klarifikasinya, Kelme mengungkap bahwa saat ini mereka tengah melakukan evaluasi, termasuk pada aspek yang paling banyak disorot publik seperti detail nama dan nomor pada jersey.
“Saat ini kami tengah melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk kendala pada detail nama dan nomor pada jersey. Kami terus melakukan evaluasi terhadap komponen identitas jersey demi menjaga kualitas produk,” tulis mereka.
Mereka juga menjanjikan solusi konkret yang akan diumumkan melalui kanal resmi dalam waktu dekat.
“Terima kasih atas kepercayaannya. Kami berkomitmen untuk terus berbenah dan selalu berusaha memberikan yang terbaik,” tutup pernyataan tersebut.
Kritik Mengalir Sejak Peluncuran
Sebagaimana diketahui, jersey terbaru Timnas Indonesia resmi diperkenalkan dalam acara Leave Your Mark yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 12 Maret 2026. Peluncuran tersebut langsung memicu perdebatan luas di media sosial. Sejumlah warganet menilai desain jersey kurang menarik, bahkan membandingkannya dengan produk apparel lokal.
“Kalo masalah desain, mending brand lokal,” tulis seorang warganet.
“Lebih bagus baju partai dari pada jersey ini,” timpal pengguna media sosial.
Di luar soal desain dan kualitas, polemik juga merembet ke harga. Jersey versi player issue dibanderol Rp1.449.000, sementara versi replika dijual Rp749.000.
Pengamat sepak bola Justinus Lhaksana atau Coach Justin menilai harga tersebut tidak sebanding dengan daya beli masyarakat Indonesia.
“Tapi harganya untuk gua enggak make sense. 1,5 juta itu tidak masuk akal,” ujarnya.
Ia membandingkan harga tersebut dengan jersey tim nasional dari brand global seperti Adidas, yang menurutnya masih relevan dengan kondisi ekonomi negara asalnya.
“Di negaranya sendiri, di Eropa lah atau Amerika, 2 juta itu kecil. Orang Jerman gajinya average mungkin 2.500 euro. Beli jersey 2 juta itu nothing,” jelasnya.
Menurut Coach Justin, kondisi di Indonesia berbeda jauh, sehingga harga jersey Timnas seharusnya lebih disesuaikan dengan daya beli masyarakat.
Kritik juga datang dari kreator konten sepak bola Bung Harpa, yang menyoroti kesiapan distribusi produk. Ia mengaku mengalami kendala saat membeli jersey, khususnya pada ketersediaan name set untuk jersey tandang.
“Kompatibelnya adalah harga dan juga kualitas dan juga pelayanan, ini menurut gua sih sangat kurang,” ujar Bung Harpa.
Menurutnya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa produsen belum sepenuhnya siap menghadapi tingginya antusiasme publik.