Presiden Iran Langsung Hubungi Vladimir Putin Usai Negosiasi dengan AS Deadlock
Presiden Iran Masoud Pezeshkian langsung menghubungi sekutunya di Rusia, Presiden Vladimir Putin, pada Minggu, 12 April 2026, menyusul perkembangan perundingan antara Iran-AS yang difasilitasi Pakistan tidak menemui kesepakatan.
Perundingan damai antara AS dan Iran berakhir pada dini hari Minggu berakhir buntu tanpa kesepakatan, memicu kehawatiran tentang apa yang akan terjadi ketika gencatan senjata dua minggu ini berakhir pada 22 April.
"Selama percakapan telepon, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian membahas perkembangan terkini di Timur Tengah," ungkap Kremlin dalam pernyataannya, Minggu.
Dalam pembicaraan itu, Putin menekankan kepada Pezeshkian soal kesediaannya untuk berkontribusi dalam mencari solusi politik dan diplomatik terkait konflik dengan AS. Presiden Putin, lanjut Kremlin, tetap berhubungan dengan semua pihak di kawasan tersebut untuk memastikan perdamaian jangka panjang di Timur Tengah.
Pada kesempatan tersebut, Pezeshkian memberi tahu Putin tentang hasil pembicaraan AS dan Iran di Islamabad, Pakistan, pada Sabtu dan Minggu. Pezeshkian juga menyampaikan rasa terima kasihnya atas posisi teguh Rusia dalam masalah tersebut, termasuk di platform internasional, untuk meredakan situasi.
"Masoud Pezeshkian juga berterima kasih kepada Rusia atas bantuan kemanusiaan yang diberikan kepada rakyat Iran," demikian bunyi pernyataan tersebut.
Saat membahas kerja sama bilateral, kedua pemimpin menegaskan kembali komitmen bersama mereka untuk memperkuat hubungan bertetangga yang baik antara Rusia dan Iran secara komprehensif.
Negosiasi Buntu
Sebelumnya, Wakil Presiden JD Vance, yang memimpin delegasi Amerika, mengatakan bahwa Iran gagal memberikan jaminan bahwa mereka tidak akan berupaya mengembangkan senjata nuklir.
"Mereka telah memilih untuk tidak menerima persyaratan kami," kata Vance. "Faktanya adalah kita perlu melihat komitmen tegas bahwa mereka tidak akan mencari senjata nuklir dan mereka tidak akan mencari alat yang memungkinkan mereka untuk dengan cepat mencapai senjata nuklir."
Iran telah lama membantah berupaya memiliki senjata nuklir tetapi bersikeras pada program nuklir sipil yang mencakup pengayaan uranium – langkah kunci menuju pengembangan senjata.
Para ahli mengatakan bahwa persediaan uranium yang diperkaya Iran saat ini hanya selangkah teknis lagi dari tingkat senjata nuklir.
Vance tidak mengatakan apakah ini berarti Amerika Serikat dan Israel akan melanjutkan serangan mereka terhadap Iran, atau meningkatkannya, mungkin menargetkan infrastruktur sipil seperti yang telah diancam presiden.
"Kabar buruknya adalah kita belum mencapai kesepakatan,” kata Vance. “Dan saya pikir itu kabar buruk bagi Iran jauh lebih besar daripada kabar buruk bagi Amerika Serikat."
Ketua DPR Iran Ghalibaf yang memimpin delegasi Iran, mengatakan Washington tidak berminat untuk bernegosiasi.
Media Iran menyalahkan tuntutan Amerika yang "berlebihan" atas berakhirnya pembicaraan begitu cepat dan mengindikasikan bahwa tidak ada rencana saat ini untuk negosiasi tambahan.
Wakil Presiden Iran, Mohammad Reza Aref menegaskan, Teheran akan tetap teguh dalam mempertahankan hak-haknya "mulai dari Selat Hormuz hingga menuntut kompensasi".
Aref menyoroti persatuan nasional, dengan merujuk pada apa yang dia sebut sebagai meningkatnya kohesi dalam masyarakat, serta menyatakan bahwa pemerintah memandang persatuan tersebut sebagai landasan untuk memajukan kepentingan negara.
"Dari kekuatan di Selat Hormuz hingga menuntut kompensasi, kami tetap teguh pada hak-hak rakyat. Ini adalah komitmen kami untuk Iran yang kuat," kata Aref, Minggu, 12 April 2026.