Ramadhan Bisa Jadi Momen Jaga Keharmonisan Rumah Tangga
Dalam kehidupan rumah tangga, keharmonisan tidak hanya tercipta dari cinta, tetapi juga dari usaha yang terus menerus untuk saling memahami.
hari, pekerjaan, hingga tanggung jawab mengasuh anak sering kali membuat pasangan suami istri tanpa sadar lebih fokus menjalankan peran sebagai orang tua daripada menjaga kualitas hubungan sebagai pasangan.
Momentum seperti Ramadan dapat menjadi pengingat untuk kembali memperkuat ikatan tersebut melalui refleksi diri, kesabaran, serta memperbanyak waktu berkualitas lewat kegiatan ibadah bersama.
Psikolog Ayoe Sutomo, M.Psi., menjelaskan bahwa keharmonisan rumah tangga tidak terjadi secara otomatis, melainkan perlu diupayakan secara sadar oleh kedua belah pihak.
Menurutnya, hubungan yang sehat dibangun melalui komunikasi yang terbuka, empati, serta kemampuan memahami kebutuhan pasangan.
“Keharmonisan keluarga sangat dipengaruhi oleh kualitas hubungan antara pasangan. Ketika suami dan istri saling merasa dihargai, didengar, dan didukung, maka suasana rumah juga akan terasa lebih hangat bagi anak-anak,” katanya di acara “Ramadan Pertama KITA: Keluarga Islami Penuh Cinta” yang diadakan oleh Komunitas Teman Bumil di Jakarta (8/3/2026).
Ia menambahkan, banyak pasangan kerap terjebak dalam rutinitas sehingga lupa merawat hubungan. Situasi ini sering semakin terasa setelah kehadiran anak, ketika waktu dan energi, terutama dari pihak ibu lebih banyak tercurah untuk mengurus keluarga.
Karena itu, penting bagi pasangan untuk menjaga keseimbangan antara peran sebagai orang tua dan sebagai suami istri.
"Cara sederhana seperti meluangkan waktu untuk berbicara dari hati ke hati, memberikan apresiasi kecil, serta saling mendukung dalam menjalani peran masing-masing dapat membantu menjaga hubungan tetap hangat dan harmonis," ujarnya.
Psikolog Ayoe Sutomo di acara ?Ramadan Pertama KITA: Keluarga Islami Penuh Cinta? yang diadakan oleh Komunitas Teman Bumil di Jakarta (8/3/2026).
Pernikahan sebagai bentuk ibadah
Dari sudut pandang agama, Ustad Encep Sehabudin M.Pd menyampaikan bahwa pernikahan dalam Islam bukan sekadar hubungan antara dua individu, tetapi merupakan bentuk ibadah yang memiliki tujuan yang lebih besar.
Ia menekankan bahwa ketika pernikahan dilandasi niat karena Allah, pasangan suami istri akan lebih mampu menghadapi berbagai dinamika kehidupan rumah tangga.
“Ketika menikah karena Allah, pasangan tidak hanya fokus pada kebahagiaan sesaat, tetapi juga pada bagaimana saling mendukung untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Pernikahan menjadi perjalanan bersama menuju kebaikan,” ujarnya di hadapan para peserta.
Menurutnya, konflik dalam rumah tangga adalah hal yang wajar, tetapi niat yang lurus dan komitmen untuk saling menjaga dapat menjadi kunci untuk tetap mempertahankan keharmonisan.
Ia juga mengingatkan bahwa ketika seorang pria menikah, maka tanggung jawab utamanya adalah istri dan anak-anaknya.
“Sedekah yang paling tinggi nilainya adalah sedekah ke istri dan anak, setelah itu baru ke ibu atau saudara lainnya. Tapi kalau memang ada rejeki berlebihan, maka istri harus juga ikhlas ketika suami memberikan sedikit rejeki ke orang tua,” ujar ustad.
Product Manager Teman Bumil dan Parenting, Intan Anindyana Hapsari mengatakan, kegiatan yang diikuti 50 peserta ini bertujuan untuk memberikan inspirasi agar setiap keluarga yang hadir dapat terus menjaga cinta, komunikasi, dan kehangatan dalam rumah tangga.
“Melalui kegiatan ini,Teman Bumil & Parenting berharap para ibu dapat semakin memahami bahwa membangun keluarga harmonis membutuhkan keseimbangan antara nilai spiritual dan kesehatan emosional. Dengan fondasi yang kuat, keluarga tidak hanya menjadi tempat pulang yang nyaman, tetapi juga menjadi ruang tumbuh bagi setiap anggota keluarga,” katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang