Robot Asisten Rumah Tangga dari China Ini Bisa Goreng Telur sampai Cuci Baju, Harganya Setara Mobil!
Teknologi robot humanoid semakin mendekati kehidupan sehari-hari manusia. Perusahaan teknologi asal China, GigaAI, mengumumkan rencana peluncuran robot pembantu rumah tangga yang diklaim mampu melakukan berbagai pekerjaan domestik secara otomatis.
Robot bernama SeeLight S1 itu disebut sebagai salah satu robot humanoid komersial pertama yang dirancang khusus untuk digunakan di rumah. Dalam demonstrasi yang diperlihatkan perusahaan, robot tersebut mampu memotong sayuran, menggoreng telur, memasukkan pakaian ke mesin cuci, menjemur baju, merapikan tempat tidur, hingga membuka tirai rumah.
GigaAI mengatakan, 100 unit pertama akan mulai diuji coba di rumah para karyawan perusahaan pada akhir bulan ini. Setelah itu, distribusi lebih luas akan dilakukan di Wuhan secara gratis pada paruh pertama 2027.
Robot ini dikembangkan sebagai salah satu solusi atas krisis demografi yang sedang dihadapi China. Pemerintah China sendiri saat ini mendorong penggunaan embodied AI atau kecerdasan buatan yang terhubung langsung dengan tubuh fisik robot agar bisa digunakan di berbagai sektor kehidupan.
SeeLight S1 dikembangkan oleh GigaAI yang berdiri pada 2025 dan didukung pendanaan dari perusahaan investasi milik Huawei. Pengembangan robot juga melibatkan pusat riset robot humanoid Hubei dan aliansi industri robot humanoid di wilayah tersebut.
Secara desain, SeeLight S1 memiliki dua lengan dan menggunakan roda untuk bergerak. GigaAI mengklaim robot ini menjadi robot multifungsi pertama yang dirancang khusus untuk kebutuhan rumah tangga.
Untuk alasan keamanan, robot dilengkapi sensor yang dapat menghentikan gerakan secara otomatis ketika bersentuhan dengan anak kecil atau hewan peliharaan.
CEO GigaAI, Zhu Zheng, mengatakan robot tersebut nantinya akan dijual dengan harga sekitar US$15 ribu atau setara Rp264 juta saat mulai dipasarkan pada Juni 2027. Meski terdengar futuristis, sejumlah pihak masih meragukan kemampuan robot humanoid untuk benar-benar bekerja efektif di lingkungan rumah.
Rumah dinilai menjadi lingkungan yang sangat kompleks bagi robot karena terus berubah setiap hari dan tidak memiliki standar tetap seperti pabrik atau gudang.
Pendiri sekaligus CEO perusahaan desain robotika Zeroth, Guo Renjie, mengatakan lingkungan rumah sangat sulit dipahami robot. “Lingkungan rumah tidak terstandarisasi, sehingga robot menghadapi kondisi yang berubah setiap hari,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari Fast Company, Senin, 25 Mei 2026.
Keraguan serupa juga disampaikan pendiri dan Chief Creative Officer Argo Design, Mark Rolston. Ia menilai robot humanoid kemungkinan belum akan benar-benar efektif membantu pekerjaan rumah dalam waktu dekat.
“Mungkin saja robot humanoid masuk ke beberapa rumah pada 2026. Tapi ayolah, robot itu tidak akan benar-benar melakukan apa pun. Tidak mungkin,” kata Rolston. “Robot itu lebih seperti barang mahal untuk pamer, ‘lihat apa yang saya punya!’ Mereka belum akan benar-benar menyelesaikan pekerjaan.”
Menurut Rolston, 2026 memang bisa menjadi momen penting bagi perkembangan industri robotika. Namun ia menilai masih banyak tantangan yang harus diatasi sebelum robot humanoid benar-benar digunakan luas di rumah tangga.
Ia memperkirakan, robot akan lebih dulu digunakan di pabrik dan sektor industri sebelum masuk ke kehidupan sehari-hari masyarakat. Rolston juga menilai toko bahan makanan menjadi salah satu tantangan besar bagi robot humanoid karena harus berinteraksi langsung dengan manusia di lingkungan yang dinamis.
Sementara itu, pemerintah China bersama perusahaan swasta dan laboratorium riset universitas terus mempercepat investasi di bidang robotika humanoid. China bahkan disebut mulai meninggalkan Amerika Serikat dalam perlombaan pengembangan robot humanoid dan kini semakin agresif memperluas riset serta investasi di sektor tersebut.