Cara Jaga Mental Anak saat Fondasi Keluarga Goyah
Kesehatan mental anak tidak pernah berdiri sendiri. Sebagai individu yang masih dalam masa pertumbuhan, anak sangat bergantung pada stabilitas dan kehangatan lingkungan terkecilnya, yaitu keluarga.
Ketika fondasi tersebut goyah akibat perubahan besar, dampak psikologis yang dirasakan anak bisa sangat mendalam.
Kejadian-kejadian yang tidak diinginkan di dalam keluarga sering kali menjadi pemicu stres yang berat. Hal ini mencakup situasi sulit seperti keluarga yang tidak utuh secara peran, hingga pengalaman ditinggalkan oleh orang-orang yang paling disayangi.
Psikiater Konsultan Anak dan Remaja, dr. Kusuma Minayati, Sp.KJ(K), menjelaskan, anak-anak yang menghadapi situasi tersebut sedang berada dalam fase yang membutuhkan kemampuan adaptasi luar biasa. Tanpa dukungan yang memadai, risiko terjadinya gangguan mental akan meningkat secara signifikan.
"Kalau dalam membutuhkan adaptasi itu justru tidak mendapatkan pendampingan yang sesuai, kita bisa bayangkan bebannya di anak tersebut, sehingga lebih berpotensi terjadinya sebuah gangguan mental," ujar dia.
Dokter Kusuma menuturkan hal tersebut dalam sebuah dialog bersama Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Republik Indonesia di Fakulitas Ilmu Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat (27/2/2026).
Viral di media sosial sejumlah konten milik salah seorang guru di salah satu sekolah dasar di Kecamatan Sukalarang, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat diduga mengarah pada perlakuan Child grooming.
Beban psikologis yang muncul akibat perubahan struktur keluarga sering kali membuat anak merasa kehilangan pijakan. Dalam kondisi ini, peran orangtua bukan sekadar ada secara fisik, melainkan menjadi sandaran emosional yang stabil.
Bagi anak, orangtua adalah "wadah" utama mereka untuk merasa aman. Ketika wadah tersebut mengalami konflik atau perpisahan, anak tidak hanya kehilangan rutinitas, tetapi juga kehilangan rasa aman yang menjadi kebutuhan dasar tumbuh kembangnya.
Nilai agama dan budaya sebagai pelindung
Di tengah situasi keluarga yang sulit, dr. Kusuma mengungkapkan pentingnya nilai-nilai agama dan budaya yang melekat di masyarakat Indonesia.
Nilai-nilai ini sering kali menjadi benteng pertahanan terakhir bagi kesehatan jiwa anak. Namun, penerapan nilai-nilai tersebut harus dilakukan dengan bijak agar benar-benar berfungsi sebagai pelindung, bukan malah menjadi beban tambahan.
"Jadi, nilai agama dan budaya ini sendiri bisa jadi sesuatu yang sifatnya protektif, dalam artian bikin orang kuat gitu. Orang menjadi kuat karena memegang nilai agama dan budaya dengan baik," tutur dr. Kusuma.
Ia menambahkan bahwa di sisi lain, orangtua perlu waspada agar nilai-nilai tersebut tidak disampaikan dengan cara yang menekan.
Ahli Psikolog Klinis Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak Provinsi DKI Jakarta menyebut usia remaja paling rentan menjadi korban child grooming.
"Tetapi bisa juga justru nilai agama yang dipegang menjadi sesuatu yang sifatnya menekan, atau sesuatu yang kayaknya bikin jadi terbatas juga. Nah ini yang perlu kita ketahui dan kita perlu lihat," tambah dia.
Keseimbangan dalam memberikan tuntunan agama dan budaya yang menyejukkan akan membantu anak merasa lebih aman secara batin saat menghadapi badai di dalam keluarganya.
Pulihkan diri sendiri sebelum menolong anak
Membantu anak melewati masa sulit menuntut kesiapan mental dari orang-orang dewasa di sekelilingnya. dr. Kusuma menekankan, orangtua tidak akan bisa memberikan perlindungan yang optimal jika kondisi kejiwaan mereka sendiri sedang goyah.
Sebelum menyelamatkan mental anak, orang dewasa perlu menolong diri mereka sendiri terlebih dahulu.
"Kalau kitanya sendiri mungkin perlu dibantu, kita belum bisa secara optimal membantu anak kita juga," jelas dr. Kusuma.
Kesadaran untuk mencari bantuan bagi diri sendiri adalah bentuk tanggung jawab orangtua dalam menjaga masa depan buah hatinya.
Sebab, kesehatan mental pada masa anak-anak adalah periode kritis yang akan membentuk pribadi mereka di masa depan.
Jika anak didukung oleh orangtua yang stabil dan lingkungan yang hangat, mereka akan tumbuh menjadi generasi yang produktif dan adaptif dalam menghadapi setiap tantangan hidup.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang