Hindari 4 Kalimat Ini Saat Mendisiplinkan Anak

Hindari 4 Kalimat Ini Saat Mendisiplinkan Anak

Dalam situasi emosi, orangtua terkadang tanpa sadar mengucapkan kalimat yang justru dapat berdampak buruk bagi anak.

Padahal, menurut para ahli, beberapa kalimat yang umum digunakan saat mendisiplinkan anak dapat memengaruhi kondisi emosional dan perkembangan mental mereka dalam jangka panjang.

Psikolog klinis Leda Kaveh menjelaskan, cara orangtua mendisiplinkan anak sering kali dipengaruhi oleh pengalaman masa kecil mereka sendiri.

“Orangtua cenderung mendisiplinkan anak dengan cara yang sama seperti yang mereka alami, meskipun tidak selalu disadari,” jelasnya, dikutip dari HuffPost, Senin (6/4/2026).

Berikut sejumlah kalimat yang sebaiknya dihindari saat mendisiplinkan anak.

4 Kalimat yang Sebaiknya Dihindari

1. “Kenapa kamu tidak seperti kakak/adikmu?”

Kalimat yang membandingkan anak dengan orang lain sering kali terdengar sepele, tetapi dapat memberikan dampak emosional yang besar. 

Perbandingan ini tidak hanya menyoroti kekurangan anak, tetapi juga secara tidak langsung menyampaikan bahwa mereka tidak cukup baik.

Menurut konselor Nicola Pierre-Smith, pernyataan seperti ini dapat dianggap sebagai serangan terhadap karakter anak. 

Selain itu, anak bisa merasa dirinya tidak dihargai sebagai individu yang unik. Dalam jangka panjang, kebiasaan membandingkan anak dapat menurunkan rasa percaya diri serta memicu rasa tidak aman dalam hubungan sosial mereka.

Ilustrasi

2. “Kamu bertingkah seperti ayah/ibumu”

Kalimat ini kerap digunakan saat orangtua merasa kesal, terutama jika dikaitkan dengan sifat negatif dari salah satu orangtua. 

Meski terdengar sebagai pernyataan biasa, kalimat ini dapat membentuk persepsi negatif dalam diri anak.

Pierre-Smith menjelaskan, ungkapan tersebut sering kali digunakan bukan untuk memuji, melainkan untuk menyoroti perilaku yang dianggap buruk. 

Hal ini membuat anak mengaitkan dirinya dengan karakter negatif tersebut. Akibatnya, anak bisa merasa disalahkan secara personal, bukan hanya atas perilakunya, tetapi juga atas siapa dirinya.

3. “Kamu mengecewakan” atau “kamu bodoh”

Memberikan label negatif pada anak dapat berdampak besar terhadap pembentukan harga diri mereka.

Ucapan seperti ini tidak hanya mengkritik tindakan, tetapi juga menyerang identitas anak secara langsung.

Menurut para ahli, kalimat yang bersifat merendahkan dapat menanamkan rasa malu yang mendalam. 

Anak yang sering mengalami hal ini berisiko lebih tinggi mengalami kecemasan, depresi, serta kesulitan membangun kepercayaan diri.

Dalam jangka panjang, label negatif tersebut dapat terbawa hingga dewasa dan memengaruhi cara mereka memandang diri sendiri.

4. “Tidak ada yang perlu kamu tangisi”

Menolak atau mengabaikan emosi anak dapat membuat mereka merasa bahwa perasaan yang mereka alami tidak valid. 

Padahal, mengenali dan mengekspresikan emosi merupakan bagian penting dari perkembangan anak.

Menurut Pierre-Smith, anak yang sering mendengar kalimat ini berpotensi kesulitan memahami perasaannya sendiri. 

Mereka mungkin hanya mengenali emosi secara sederhana, tanpa mampu menjelaskan apa yang sebenarnya dirasakan.

Akibatnya, anak bisa tumbuh dengan kemampuan regulasi emosi yang kurang optimal dan cenderung menekan perasaan.

Dampaknya Jika Dilakukan Berulang

Para ahli menekankan bahwa satu atau dua kali ucapan mungkin tidak langsung berdampak besar.  Namun, jika kalimat-kalimat tersebut diucapkan secara berulang, dampaknya dapat semakin terasa.

Kaveh menjelaskan, paparan yang terus-menerus terhadap kalimat yang merendahkan atau mengabaikan emosi dapat memicu respons stres pada anak. 

Hal ini dapat meningkatkan kecemasan, menurunkan rasa percaya diri, serta memengaruhi kemampuan anak dalam mengelola emosi.

Gunakan Cara yang Lebih Sehat

Meski disiplin tetap diperlukan, orangtua disarankan untuk menggunakan cara yang lebih sehat dan suportif. 

Salah satunya dengan memisahkan antara perilaku dan identitas anak saat memberikan teguran.

Pendekatan yang tegas dan tetap mendukung secara emosional dinilai lebih efektif dalam membantu anak memahami kesalahan tanpa merasa diserang secara pribadi.

Dengan cara ini, disiplin tidak hanya menjadi alat untuk mengatur perilaku, tetapi juga sarana untuk mendukung perkembangan emosional anak secara positif.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang