Iran Tangkap Lagi Dua Kapal di Selat Hormuz, Ketegangan Energi Global Makin Membara
Situasi di Selat Hormuz masih memanas. Iran melalui Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menahan dua kapal kargo asing yang diduga melanggar aturan pelayaran dan memiliki keterkaitan dengan Israel.
Insiden ini terjadi di tengah konflik yang belum sepenuuhnya mereda antara Iran dan Amerika Serikat yang berdampak ke jalue energi paling vital di dunia, yaitu Selat Hormuz.
Berdasarkan laporan kantor berita semi-resmi Iran, Mehr News Agency, dua kapal yang diamankan adalah MSC Francesca dan Epaminondas. Keduanya diketahui beroperasi di bawah perusahaan pelayaran global Mediterranean Shipping Company.
Otoritas Iran menuding kapal-kapal itu beroperasi tanpa izin, mengganggu sistem navigasi, serta membahayakan lalu lintas laut. Bahkan, disebutkan bahwa kapal tersebut mencoba melintas tanpa terdeteksi sebelum akhirnya dicegat dan dikawal menuju perairan Iran.
Jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab itu menjadi lintasan sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas dunia. Artinya, setiap gangguan di kawasan ini berpotensi langsung mengguncang pasar energi global.
Sejak awal Maret, Iran mengklaim telah mengontrol penuh lalu lintas kapal di selat tersebut. Setiap kapal yang melintas diwajibkan mengantongi izin dari otoritas setempat. Kebijakan ini menuai kekhawatiran, terutama dari negara-negara importir energi di Asia.
Dari Pembatasan ke Gelombang Penangkapan Kapal
Awalnya, Iran hanya memperketat pengawasan terhadap kapal dari negara yang dianggap sebagai musuh. Namun situasi berubah drastis setelah Amerika Serikat memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan Iran pada 13 April.
Sejak saat itu, kebijakan Teheran meningkat tajam, bukan hanya membatasi, tetapi juga mulai melakukan intersepsi langsung di laut.
Pada 22 April, Iran lebih dulu menangkap dua kapal kargo asing dan menembaki kapal lain yang mencoba keluar dari Selat Hormuz tanpa koordinasi.
Penangkapan terbaru terhadap MSC Francesca dan Epaminondas pun menjadi kelanjutan dari pola tersebut, menandakan bahwa Iran kini menjalankan operasi penertiban yang lebih agresif dan berulang di jalur energi global itu. Meski demikian, seluruh awak kapal dilaporkan dalam kondisi selamat.
Langkah Iran disebut sebagai respons langsung atas tindakan militer Amerika Serikat yang lebih dulu menyita kapal kontainer Iran di Laut Arab. Washington menyebut langkah itu sebagai penegakan sanksi. Namun bagi Teheran, tindakan tersebut dianggap sebagai pembajakan.
Sejak blokade berlangsung, militer AS dilaporkan memaksa puluhan kapal yang terkait Iran untuk berbalik arah. Situasi ini memicu pola saling tekan di laut yang terus meningkat.
Pengamat dari International Crisis Group, Ali Vaez, menilai bahwa insiden ini merupakan bagian dari strategi balas-membalas.
“Yang terjadi di Selat Hormuz bukan penguasaan strategis, melainkan permainan saling tekan. Kedua pihak menguji batas kekuatan masing-masing,” ujarnya seperti dikutip Al Jazeera.
Ia juga memperingatkan potensi eskalasi yang lebih besar. “Tidak ada pihak yang mau mundur. Setiap insiden kecil berpotensi memicu eskalasi yang lebih besar.”
Pandangan serupa disampaikan akademisi dari University of York, Chris Featherstone. Ia menyebut situasi ini layaknya permainan berisiko tinggi.
“Ini seperti dua pemain yang saling menatap dan menunggu siapa yang berkedip lebih dulu. Dengan menangkap kapal, Iran justru menekan AS untuk mengambil langkah berikutnya,” katanya.
Harga Energi Terancam
Di balik konflik ini, terdapat kepentingan ekonomi yang sangat besar. Sekitar 80 persen ekspor minyak Iran melewati Selat Hormuz. Dalam kondisi harga energi global yang masih tinggi, kawasan ini menjadi titik krusial.
Jika ketegangan terus meningkat, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara besar, tetapi juga bisa merembet hingga ke harga bahan bakar di berbagai negara, termasuk Indonesia.