Seberapa Mematikan Rudal Sejjil Iran? Ini Fakta, Spesifikasi, dan Kemampuannya Saat Menyerang Israel
Memasuki pekan ketiga, perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel masih terus berlanjut dan belum menunjukkan adanya tanda akan berakhir. Bahkan Iran semakin agresif dengan meluncurkan gelombang rudal dan drone ke negara-negara Teluk seerta Israel.
Bahkan pada Minggu 15 Maret Iran meluncurkan Iran meluncurkan gelombang ke-54 dari Operasi True Promise 4 yang ditujukan ke Israel. Serangan ini menargetkan pusat administrasi dan pengambilan keputusan yang memengaruhi operasi udara rezim Israel, serta infrastruktur militer dan pertahanan.
Pejabat Iran menyatakan bahwa dalam gelombang serangan tersebut, untuk pertama kalinya dalam perang kali ini mereka menggunakan secara operasional rudal balistik strategis Sejjil. Lalu, apa sebenarnya rudal Sejjil itu? Seberapa berbahayakah senjata ini? Berikut ini fakta menarik mengenai rudal tersebut seperti melansir laman first post, Senin 16 Maret 2026.
Tentang rudal Sejjil, ‘rudal menari’
Rudal Sejjil yang juga dikenal dengan nama Ashoura atau Ashura merupakan rudal balistik dua tahap yang menggunakan bahan bakar padat. Rudal ini sepenuhnya dirancang dan diproduksi di Iran, meskipun beberapa laporan menyebutkan adanya kemungkinan keterlibatan teknologi dari China.
Rudal ini dikembangkan untuk menggantikan roket kelas Shabab yang telah digunakan sejak akhir 1980-an. Sejjil memiliki jangkauan sekitar 2.000 kilometer dan menggunakan bahan bakar padat sebagai pendorongnya. Hal ini membuatnya bisa diluncurkan lebih cepat dibandingkan rudal yang menggunakan bahan bakar cair.
Dari sisi spesifikasi, rudal Sejjil memiliki panjang sekitar 18 meter dan diameter sekitar 1,25 meter. Beratnya mencapai 23.600 kilogram dan mampu membawa hulu ledak seberat 700 kilogram. Rudal ini dapat membawa bahan peledak konvensional maupun hulu ledak nuklir.
Informasi mengenai kecepatannya tidak banyak dipublikasikan. Namun, Teheran pernah menyatakan bahwa rudal ini mampu mencapai Tel Aviv dalam waktu sekitar tujuh menit jika diluncurkan dari wilayah Iran bagian tengah.
Keunggulan lain dari Sejjil adalah kemampuannya bermanuver di setiap tahap penerbangan. Kemampuan ini membuatnya jauh lebih sulit dicegat oleh sistem pertahanan udara konvensional, termasuk sistem Iron Dome milik Israel. Lantaran kemampuannya bergerak lincah tersebut, rudal ini dijuluki Dancing Missile atau ’rudal menari’.
Selain itu, varian Sejjil-2 dilapisi material anti-radar, sehingga sangat sulit dideteksi oleh radar pertahanan udara konvensional.
Menurut Center for Strategic and International Studies (CSIS), Iran mulai mengembangkan rudal Sejjil pada akhir 1990-an dengan mengembangkan teknologi dari rudal sebelumnya, terutama Zelzal SRBM. Setelah selesai dikembangkan, uji coba peluncuran pertama dilakukan pada 2008 dan rudal tersebut dilaporkan terbang sejauh sekitar 800 kilometer.
Diduga terdapat beberapa versi dari sistem Sejjil. Pada 2009, Iran menyebut uji coba peluncuran yang dilakukan sebagai Sejjil-2. Ada pula laporan yang belum terkonfirmasi bahwa varian Sejjil-3 sedang dikembangkan. Versi ini disebut-sebut akan memiliki tiga tahap, jangkauan maksimum hingga 4.000 kilometer, dan bobot peluncuran sekitar 38.000 kilogram.
Namun hingga kini belum jelas varian Sejjil mana yang digunakan dalam serangan Iran ke Israel pada Minggu lalu.
Iran membidik Israel dengan Sejjil
Pada Minggu, Garda Revolusi Iran menyatakan telah mengerahkan rudal Sejjil bersama sejumlah rudal lain seperti Khorramshahr, Kheibar Shekan, Qadr, dan Emad untuk menyerang Israel serta beberapa negara Teluk.
IRGC juga menyebut rudal-rudal tersebut menargetkan Pangkalan Udara Al-Harir, Pangkalan Udara Ali Al-Salem, serta Camp Arifjan di Kuwait. Serangan itu disebut menimbulkan kerusakan besar dan memicu kepanikan di fasilitas-fasilitas tersebut pada Minggu.
Di Israel, sebuah serangan rudal Iran dilaporkan merusak rumah seorang pejabat konsuler Amerika Serikat di Tel Aviv pada hari yang sama. Menurut layanan darurat Israel yang dikutip media setempat, sedikitnya tiga warga Israel terluka dalam rentetan serangan yang menargetkan wilayah selatan Tel Aviv. Seorang warga lainnya juga dilaporkan terluka akibat pecahan rudal yang jatuh di wilayah tengah negara itu.
Sejjil pernah digunakan dalam perang 12 hari dengan Israel
Meski ini disebut sebagai pertama kalinya Sejjil digunakan dalam perang Iran yang dimulai pada 28 Februari setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel. Iran sebenarnya pernah mengerahkan rudal ini sebelumnya, yakni dalam perang 12 hari melawan Israel di tahun lalu.
Saat itu, Iran mengejutkan banyak pihak dengan meluncurkan rudal sejjil ke dua target militer di Be’er Sheva, sekitar 90 kilometer dari Tel Aviv.
Iran kala itu menyatakan bahwa sasaran utama serangan adalah pangkalan komando dan intelijen besar milik Angkatan Bersenjata Israel (IDF C4I), serta kompleks intelijen militer di taman teknologi Gav-Yam yang berada di dekat Rumah Sakit Soroka di Be’er Sheva.