Mengenang Vidi Aldiano, Begini Perjalanan Karier Sang Bintang Pop yang Meninggal Dunia di Usia 35 Tahun

Vidi Aldiano
Vidi Aldiano

Kabar duka datang dari industri musik Indonesia. Penyanyi dan penulis lagu Vidi Aldiano meninggal dunia pada Sabtu, 7 Maret 2026, di usia 35 tahun. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, serta para penggemar yang selama hampir dua dekade mengikuti perjalanan kariernya di dunia musik Tanah Air.

Vidi dikenal sebagai salah satu musisi pop Indonesia yang memiliki karakter vokal khas serta karya yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sejak debutnya pada era 2000-an, ia berhasil menciptakan sejumlah lagu populer yang tidak hanya digemari penggemar, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan musik pop Indonesia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Perjalanan karier Vidi Aldiano tidak terjadi secara instan. Ia memulai langkahnya dari berbagai pengalaman, mulai dari mengikuti ajang pencarian bakat hingga menghadapi penolakan dari sejumlah label rekaman.

Namun berkat kegigihan dan konsistensinya dalam berkarya, Vidi akhirnya berhasil menjadi salah satu penyanyi pria solo yang diperhitungkan di industri musik Indonesia. Scroll untuk info lebih lanjut...

Awal Karier Vidi Aldiano di Industri Musik

Vidi Aldiano, yang memiliki nama lengkap Oxavia Aldiano, lahir di Jakarta pada 29 Maret 1990. Ketertarikannya pada dunia musik sudah terlihat sejak usia muda. Salah satu pengalaman awalnya di industri hiburan adalah ketika ia mengikuti ajang pencarian bakat Indonesian Idol musim ketiga pada 2006.

Kala itu, Vidi mengikuti audisi di Jakarta International Expo dengan membawakan lagu "Pada Satu Cinta" milik Glenn Fredly. Namun perjalanannya di ajang tersebut hanya sampai pada babak 100 besar. Meski demikian, kegagalan tersebut tidak membuatnya menyerah. Ia justru semakin serius menekuni musik dan mulai membuat karya sendiri.

Langkah besar Vidi di industri musik dimulai pada 2008 ketika ia merilis album perdananya berjudul Pelangi di Malam Hari. Menariknya, ide membuat album tersebut berawal dari hal sederhana.

Saat masih duduk di bangku SMA, Vidi merasa bosan dengan lagu-lagu yang diputar di kantin sekolahnya. Ia kemudian berinisiatif menciptakan lagu sendiri dan merekamnya secara independen. Proses pengerjaan album tersebut memakan waktu sekitar tiga tahun hingga akhirnya selesai setelah ia lulus SMA.

Sebelum album itu dirilis, Vidi sempat menghadapi berbagai penolakan. Demo albumnya dikirimkan ke sejumlah label rekaman, tetapi ia ditolak oleh delapan label karena pada saat itu penyanyi solo pria tidak sedang menjadi tren di industri musik.

Akhirnya pada 2008, produser musik Lala Hamid membantu memproduseri album tersebut. Lewat singel "Nuansa Bening", yang merupakan lagu daur ulang karya Keenan Nasution, nama Vidi mulai dikenal luas. Lagu tersebut banyak diputar di radio dan televisi. Kesuksesan itu dilanjutkan dengan singel "Status Palsu" yang juga menjadi hit di kalangan pendengar musik Indonesia. 

Popularitas Vidi semakin meningkat setelah ia meraih penghargaan Most Favorite Male Artist dalam ajang MTV Indonesia Awards 2009. Penghargaan tersebut menjadi pencapaian penting dalam kariernya sebagai penyanyi solo pria.

Pada tahun yang sama, Vidi juga merilis album kompilasi religi berjudul Lelaki Pilihan bersama adiknya, Vadi Akbar. Dalam album tersebut ia membawakan tiga lagu, termasuk "Rindu Rasul" yang dinyanyikan bersama Sam Bimbo.

Setelah itu, Vidi merilis album studio keduanya bertajuk Yang Kedua pada 2011. Album ini berisi 11 lagu, dengan enam di antaranya ditulis sendiri oleh Vidi. Proses kreatifnya juga sangat intens, karena ia terlibat sekitar 95 persen dalam pengerjaan album, mulai dari penulisan lagu hingga desain sampul.

Salah satu pencapaian terbesar dalam perjalanan musik Vidi Aldiano terjadi pada 2016 ketika ia merilis album studio ketiganya, Persona. Album ini hadir setelah jeda lima tahun sejak perilisan album sebelumnya. Vidi menggarap album ini dengan sangat serius, bahkan memproduksinya sendiri melalui label yang ia dirikan. 

Pada Januari 2017, album Persona berhasil meraih sertifikasi Triple Platinum setelah penjualan album fisik mencapai lebih dari 250 ribu keping hanya dalam waktu lima bulan.

Pada 2019, kehidupan Vidi berubah ketika ia divonis mengidap kanker ginjal stadium tiga. Ia kemudian menjalani operasi pengangkatan ginjal kiri pada Desember 2019 di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura.

Meski harus menjalani pengobatan, Vidi tetap berkarya. Pengalaman hidupnya selama melawan penyakit bahkan menjadi inspirasi dalam album studio keempatnya, Senandika, yang dirilis pada 2022.

Album tersebut berisi sepuluh lagu yang menceritakan perjalanan hidupnya sejak 2018. Salah satu lagu yang menggambarkan perjuangannya adalah "Bertahan Lewati Senja", yang mengisahkan prosesnya menghadapi kanker.

Selain itu, lagu "Dara" dalam album tersebut juga menjadi bentuk ungkapan cinta kepada istrinya, Sheila Dara Aisha.

Di luar karier musiknya, Vidi juga dikenal memiliki kehidupan pribadi yang hangat dan dekat dengan banyak sahabat. Ia bahkan sempat dijuluki warganet sebagai "duta persahabatan" karena sering terlihat menghadiri berbagai acara pernikahan para selebritas Indonesia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kepergian Vidi Aldiano pada Sabtu, 7 Maret 2026 akibat kanker ginjal yang dideritanya sejak 2019 menjadi kehilangan besar bagi industri musik Indonesia. Namun karya-karya dan perjalanan hidupnya akan selalu dikenang sebagai bagian penting dari sejarah musik pop Tanah Air.

Selamat jalan, Vidi Aldiano.