Makin Panas! Prancis Kirim Kapal Induk ke Timur Tengah di Tengah Perang Iran Vs AS-Israel
Prancis mengerahkan kapal induk Charles de Gaulle dan kelompok serangnya ke Mediterania seiring meluasnya perang di Timur Tengah, kata Presiden Emmanuel Macron dalam pidatonya pada Selasa malam, 3 Februari 2026.
Dengan Selat Hormuz yang tertutup dan Terusan Suez serta Laut Merah yang terancam, Prancis juga sedang berupaya membentuk koalisi untuk menggabungkan aset, termasuk militer, yang akan memungkinkan lalu lintas pelayaran kembali normal, kata Macron dalam pidato yang disiarkan televisi tersebut.
"Menghadapi situasi yang tidak stabil ini dan ketidakpastian di hari-hari mendatang, saya telah memberi perintah kepada kapal induk Charles de Gaulle, aset udaranya, dan kapal fregat pengawalnya untuk berlayar menuju Mediterania," kata Macron.
Kapal induk bertenaga nuklir Charles de Gaulle dan kapal-kapal pengawalnya dialihkan rutenya dari Baltik dan Atlantik Utara, tempat kelompok kapal induk tersebut dijadwalkan untuk berpartisipasi dalam beberapa misi NATO. Kelompok udara yang berada di atas satu-satunya kapal induk Prancis biasanya terdiri dari jet Rafale dan pesawat peringatan dini udara E-2C Hawkeye, serta beberapa helikopter.
Kelompok penyerang kapal induk yang dikerahkan termasuk kapal perusak Italia Andrea Doria serta fregat Prancis L’Amiral Ronarc’h, menurut Angkatan Laut Prancis. Kelompok tersebut juga termasuk fregat Alsace dan Chevalier Paul, serta kapal tanker minyak Jacques Chevallier, menurut laporan media Prancis.
Macron mengatakan Prancis memiliki kepentingan ekonomi yang harus dilindungi, dengan harga minyak, harga gas alam, dan perdagangan internasional yang "sangat" terganggu oleh perang antara AS dan Israel melawan Iran.
"Kami mengambil inisiatif untuk membangun koalisi untuk mengumpulkan sumber daya, termasuk sumber daya militer, untuk melanjutkan dan mengamankan lalu lintas di jalur maritim ini yang sangat penting bagi ekonomi global," kata Macron. "Inilah yang dapat kami lakukan beberapa bulan lalu di Laut Merah. Inilah yang harus kita lakukan di sana hari ini."
Sebelumnya, militer Prancis yang ditempatkan di beberapa pangkalan di Timur Tengah, menembak jatuh drone "dalam pembelaan yang sah" sejak jam-jam pertama konflik antara AS dan Israel dengan Iran, untuk melindungi wilayah udara sekutunya, kata Macron.
Dalam beberapa jam terakhir, Prancis mengirimkan jet Rafale tambahan, sistem pertahanan udara, dan radar ke wilayah tersebut, kata presiden.
"Sangat penting bagi kita untuk memastikan kebebasan bergerak di Selat Hormuz karena kita semua terdampak," kata pensiunan Jenderal Angkatan Udara Patrick Dutartre di televisi Prancis.
Dengan Siprus, anggota Uni Eropa, juga terkena serangan dalam beberapa hari terakhir, Prancis juga akan mengirimkan aset pertahanan udara tambahan ke pulau itu, serta fregat pertahanan udara Languedoc, yang diperkirakan akan tiba di lepas pantai Siprus paling cepat malam ini, kata Macron.
Pada Sabtu, 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungam ke sejumlah wilayah Iran, menandai eskalasi tinggi di Timur Tengah.
Serangan tersebut menghantam sejumlah fasilitas sipil dan menewaskan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan beberapa pejabat senior Iran.