Bais TNI Jalankan Langkah Pertahanan Cegah Dampak Perang AS-Israel dan Iran ke Dalam Negeri

Panglima TNI, Jenderal Agus Subiyanto, Bais TNI Jalankan Langkah Pertahanan Cegah Dampak Perang AS-Israel dan Iran ke Dalam Negeri

Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI mengambil langkah pertahanan untuk mengantisipasi dampak konflik setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Kepala Bais TNI Letnan Jenderal Yudi Abdimantyo mengatakan, langkah tersebut dilakukan dengan memperkuat kerja sama bersama berbagai pemangku kepentingan di bidang intelijen dan keamanan. 

Upaya ini bertujuan melakukan deteksi dini serta pencegahan terhadap potensi ancaman yang dapat muncul di dalam negeri sebagai dampak dari konflik di Timur Tengah.

"Untuk pengerahan pengamanan dan penjagaan terhadap Kedubes AS dan Kedubes lainnya yang berada di Jakarta, hal tersebut sudah menjadi tugas dari semua unsur keamanan baik TNI maupun Polri," ujar Yudi dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Sabtu (7/3/2026).

"Bais TNI sebagai unsur intelijen tentunya melakukan pengamanan secara tertutup bersama-sama dengan satuan intelijen lainnya," tambah jenderal bintang tiga tersebut.

Panglima TNI tetapkan Status Siaga 1

Yudi juga membenarkan bahwa Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto telah mengeluarkan perintah status Siaga 1 setelah terjadinya serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Instruksi tersebut berlaku bagi seluruh satuan di lingkungan TNI, termasuk Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI.

"Perintah Panglima TNI ini adalah untuk mengantisipasi situasi keamanan di dalam negeri pascaserangan AS-Israel kepada Iran yang memicu balasan dari Iran kepada Israel dan pangkalan AS yang berada di negara-negara di Timteng dan perlindungan kepada WNI di luar negeri," jelas Yudi.

"TNI sebagai garda terdepan dalam menjaga kedaulatan NKRI harus mengantisipasi setiap perkembangan situasi yang terjadi, baik di kawasan global, regional, maupun nasional," tambahnya.

Selain itu, dalam Surat Telegram Panglima TNI juga diinstruksikan agar Bais TNI memerintahkan para Atase Pertahanan (Athan) RI untuk melakukan pendataan serta pemetaan warga negara Indonesia (WNI), khususnya yang berada di wilayah yang terdampak konflik antara AS, Israel, dan Iran.

Pendataan tersebut dinilai penting mengingat jumlah WNI di kawasan tersebut mencapai sekitar 541.511 orang. 

Mereka tersebar di sejumlah negara, yakni Iran, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Kuwait, Oman, Yordania, Mesir, Yaman, Lebanon, Suriah, dan Irak. 

Dinamika yang terjadi membuat para WNI memerlukan perhatian negara, terutama terkait kemungkinan pelaksanaan evakuasi apabila situasi keamanan mengharuskan hal tersebut dilakukan.

Terkait langkah yang diambil dalam merespons konflik AS-Israel dan Iran, Yudi menegaskan bahwa perlindungan terhadap WNI yang berada di wilayah terdampak menjadi prioritas.

Dalam pelaksanaannya, Bais TNI melalui Atase Pertahanan RI telah berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) serta pihak terkait lainnya guna memastikan keamanan WNI dan mempersiapkan proses evakuasi dengan aman dan lancar jika dibutuhkan.

Sejauh ini, evakuasi gelombang pertama telah dilakukan terhadap 32 WNI dari Iran. 

Para WNI diberangkatkan melalui jalur darat menuju Baku, Azerbaijan, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Indonesia melalui jalur udara. 

Proses tersebut dilaksanakan oleh KBRI dan Kantor Athan RI di Teheran bersama pihak terkait lainnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang