Perang Iran dan AS-Israel juga Menyasar Data Center dan Kapal Tanker, Risiko Ganggu Sistem Dunia

Perang Iran dan AS-Israel juga Menyasar Data Center dan Kapal Tanker
Perang Iran dan AS-Israel juga Menyasar Data Center dan Kapal Tanker

Konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel kini memasuki fase yang semakin berbahaya. Tak hanya serangan militer dan fasilitas energi, jalur pelayaran minyak dunia serta infrastruktur digital mulai menjadi sasaran.

Terbaru, Pusat Keamanan Maritim Oman mengumumkan bahwa kapal tanker minyak Skylight diserang di utara Pelabuhan Khassab, Provinsi Musandam, Oman, Serangan tersebut terjadi di kawasan yang berdekatan dengan Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi global.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Seluruh 20 awak kapal berhasil dievakuasi. Mereka terdiri atas 15 warga India dan lima warga Iran. Empat orang dilaporkan mengalami cedera dan telah mendapatkan perawatan medis.

Iran mengonfirmasi pihaknya menyerang kapal tersebut karena dianggap melanggar perintah untuk tidak melintasi Selat Hormuz. Sebelumnya, Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC telah mengumumkan melalui siaran radio bahwa Selat Hormuz ditutup untuk navigasi internasional sejak Sabtu 28 Februari 2026.

Langkah itu langsung memicu ketegangan global. Dilaporkan sedikitnya tiga kapal tanker mengalami kerusakan akibat serangan Iran di sekitar Selat Hormuz. Dampaknya, banyak pemilik dan operator kapal besar menangguhkan operasional mereka melalui jalur tersebut demi alasan keamanan.

Jalur Minyak Dunia Terancam

Selat Hormuz bukan sekadar jalur laut biasa. Sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia melintas di perairan sempit itu setiap harinya. Karena perannya yang krusial, kawasan ini kerap disebut sebagai titik maritim paling sensitif di dunia.

Ancaman penutupan selat membuat harga minyak dan gas melonjak tajam di pasar internasional. Gangguan kecil saja di jalur ini bisa berdampak langsung pada inflasi global, biaya logistik, hingga harga bahan bakar di berbagai negara.

Penasihat Garda Revolusi Iran sebelumnya bahkan memperingatkan bahwa kapal yang tetap mencoba melintas berisiko menjadi sasaran. Pernyataan itu mempertegas sikap keras Teheran di tengah serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke wilayahnya.

Infrastruktur Digital Ikut Terseret

Seperti dilansir independent, tak hanya sektor energi dan pelayaran, infrastruktur digital juga terkena imbas konflik. Dua pusat data Amazon di Uni Emirat Arab dilaporkan menjadi sasaran serangan, sementara satu insiden drone juga terjadi di dekat fasilitas serupa di Bahrain yang menyebabkan kerusakan.

Serangan terhadap pusat data menandai babak baru konflik modern, ketika fasilitas yang menopang layanan komputasi awan, transaksi digital, dan sistem komunikasi global ikut terdampak.

Artinya, perang ini tidak lagi terbatas pada target militer. Infrastruktur ekonomi dan teknologi yang memiliki dampak lintas negara kini berada dalam risiko.

Konflik Melebar dan Korban Bertambah

Di tengah situasi ini, korban jiwa terus meningkat. Laporan dari Bulan Sabit Merah Iran menyebut ratusan orang tewas akibat operasi militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel. Di Israel dan Lebanon, korban juga terus berjatuhan akibat serangan balasan dan operasi militer lanjutan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Organisasi Internasional untuk Migrasi memperingatkan bahwa eskalasi ini dapat memicu gelombang pengungsian baru di kawasan yang sebelumnya sudah mengalami krisis kemanusiaan berkepanjangan.

Dengan kapal tanker diserang, jalur minyak dunia terancam, pusat data ikut terdampak, dan operasi militer terus berlangsung, konflik Iran melawan AS dan Israel kini berpotensi menciptakan krisis multidimensi, mulai dari keamanan, energi, hingga ekonomi global.