AS-Israel Dikabarkan Ingin Rebut Pulau Kharg, Pusat Ekspor 90 Persen Minyak Iran

Pulau Kharg di Iran, Pusat 90 persen Minyak Iran
Pulau Kharg di Iran, Pusat 90 persen Minyak Iran

Wawancaral awas presiden Amerika Serikat, Donald Trump kembali jadi sorotan publik. Dalam wawancaranya dengan The Guardian pada tahun 1988, dirinya pernah mempertimbangkan gagasan untuk mengambil alih pulau Kharg, pusat ekspor minyak Iran sebagai cara menunjukkan kekuatan AS di kawasan teluk sekaligus menghukum Iran. Ide tersebut sebenarnya sudah terlintas di pikirannya hampir 40 tahun lalu.

“Saya akan bersikap keras terhadap Iran. Mereka selama ini menekan kita secara psikologis dan membuat kita terlihat seperti sekumpulan orang bodoh. Jika satu peluru saja ditembakkan ke salah satu prajurit atau kapal kami, saya akan menghantam Pulau Kharg. Saya akan masuk dan mengambil alihnya,” kata dia dikutip dari laman Middle East Eye, Rabu 11 Maret 2026.

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Wawancara lama itu kembali menjadi sorotan setelah sejumlah media melaporkan adanya pembicaraan antara AS dan Israel terkait kemungkinan merebut pulau tersebut yang menjadi lokasi utama ekspor sekitar 90 persen minyak mentah Iran. Situs berita Axios bahkan melaporkan bahwa pada pekan lalu AS dan Israel sempat mendiskusikan rencana pengambilalihan Pulau Kharg.

Wawancara Trump dengan The Guardian pada 1988 menunjukkan bahwa gagasan tersebut sebenarnya sudah lama muncul. Dalam wawancara itu, ia juga menyatakan bahwa dunia akan lebih baik jika Iran dihadapi secara langsung.

Komentar Trump di tahun 1988 itu muncul di tengah latar belakang Perang Iran–Irak, konflik brutal antara Irak yang dipimpin Saddam Hussein dan Republik Islam Iran, yang menewaskan sekitar 500.000 orang.

Pada akhir 1980-an, Angkatan Laut Amerika Serikat mengawal kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz serta menyerang instalasi minyak dan ranjau milik Iran.

Sikap keras Trump terhadap Iran sebenarnya sudah terlihat sejak wawancara tersebut.

“Iran bahkan tidak bisa mengalahkan Irak, tetapi mereka bisa menekan Amerika Serikat. Akan baik bagi dunia jika mereka dilawan,” ujarnya.

Sejarah yang kompleks

Seperti banyak orang Amerika dari generasinya, pandangan Trump terhadap Iran sangat dipengaruhi oleh peristiwa tahun 1979 ketika pemerintahan shah yang didukung Amerika, Mohammad Reza Pahlavi, digulingkan. Pemberontakan rakyat tersebut kemudian melahirkan Republik Islam Iran.

Pada November 1979, sebanyak 66 warga Amerika disandera dari Kedutaan Besar AS di Teheran. Empat belas orang dibebaskan lebih awal, sementara 52 lainnya ditahan selama lebih dari 400 hari.

Namun, hubungan Amerika Serikat dengan Iran sebenarnya jauh lebih rumit.

Amerika Serikat dan Israel bahkan pernah menjual senjata kepada Iran saat negara itu berperang melawan Irak. Saat itu, pemerintah Irak yang sekuler di bawah Saddam Hussein dianggap sebagai ancaman yang lebih besar dibandingkan Republik Islam Iran.

Sebagian penjualan senjata tersebut terkait dengan skandal Iran–Contra Affair, di mana dana hasil penjualan senjata secara ilegal digunakan untuk mendukung pemberontak anti-Marxis di Nikaragua.

Pemerintahan Trump sendiri kerap mengutip pernyataan-pernyataan Trump sejak tahun 1980-an misalnya terkait dukungannya terhadap kebijakan tarif sebagai bukti bahwa ia konsisten dengan pandangan yang sudah lama ia pegang.

Konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran juga telah memicu krisis energi terburuk sejak embargo minyak Arab pada tahun 1970-an. Embargo tersebut dilakukan oleh Arab Saudi dan negara-negara Arab lainnya sebagai respons atas dukungan Amerika Serikat terhadap Israel dalam Perang Arab vs Israel di tahun 1973.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam dunia melewati Selat Hormuz, yang saat ini praktis tertutup bagi sebagian besar kapal, kecuali bagi pemilik kapal yang berani mengambil risiko.

Menurut laporan Bloomberg, Iran masih memuat minyak di Pulau Kharg hingga Sabtu lalu sekitar satu minggu setelah serangan Amerika Serikat dan Israel dimulai meskipun belum jelas apakah fasilitas tersebut masih beroperasi secara normal.