Kenapa Nuzulul Quran Diperingati Setiap 17 Ramadhan? Ini Alasan dan Dalilnya

Bulan Ramadhan bagi umat Islam tidak hanya sekadar bulan menjalankan ibadah puasa, tetapi juga dikenal sebagai Syahrul Quran atau bulan Al Quran. Salah satu tradisi yang melekat kuat di Indonesia adalah peringatan malam Nuzulul Quran yang jatuh setiap tanggal 17 Ramadhan.
Masjid-masjid hingga instansi pemerintah biasanya menyemarakkan malam ini dengan pengajian akbar, tabligh, hingga perlombaan tilawah.
Berikut adalah ulasan tuntas mengenai sejarah, tahapan turunnya Al Quran, dan alasan di balik penetapan tanggal 17 Ramadhan sebagaimana dirangkum dari penjelasan para ulama dikutip dari Baitulmaal Muamalat.
Dua Tahapan Turunnya Al Quran
Merujuk pada tafsir Sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma, yang dijuluki sebagai Turjumanul Quran (Penerjemah Al Quran terbaik), proses turunnya kitab suci ini tidak terjadi sekaligus ke bumi, melainkan melalui dua tahapan utama.
1. Tahap Pertama: Turun Secara Utuh ke Langit Dunia
Pada tahap ini, Allah SWT menurunkan Al Quran secara lengkap 30 juz dari Lauhul Mahfudz ke langit dunia yang disebut Baitul Izzah. Peristiwa agung inilah yang terjadi pada malam Lailatul Qadar.
Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Surat Al-Qadr ayat 1:
"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan (Lailatul Qadar)." (QS. Al-Qadr: 1).
2. Tahap Kedua: Turun Secara Berangsur-angsur
Setelah berada di Baitul Izzah, Al Quran kemudian diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril AS secara bertahap selama kurang lebih 23 tahun (tepatnya 22 tahun, 2 bulan, 22 hari).
Penurunan secara mencicil ini bertujuan untuk menguatkan hati Rasulullah dan menjawab kebutuhan umat sesuai konteks kejadian atau Asbabun Nuzul.
17 Ramadhan dan Peristiwa Gua Hira
Lantas, apa signifikansi tanggal 17 Ramadhan? Tanggal ini diyakini sebagai titik awal dimulainya Tahap Kedua.
Malam 17 Ramadhan adalah momen pertama kalinya Malaikat Jibril mendatangi Nabi Muhammad SAW di Gua Hira untuk menyampaikan wahyu pertama, yaitu Surat Al-Alaq ayat 1-5.
Meski terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama sirah (sejarah), mayoritas ulama di Indonesia berpegang pada tanggal 17 Ramadhan.
Landasan Dalil Perang Badar
Argumen kuat penetapan 17 Ramadhan juga bersandar pada isyarat dalam QS. Al-Anfal ayat 41:
"...dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) pada hari Furqan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa "Yaumul Furqan" (Hari Pembeda) adalah hari terjadinya Perang Badar Al-Kubra. Berdasarkan kesepakatan ahli sejarah Islam (Ijma' ahli sirah), Perang Badar terjadi tepat pada hari Jumat, 17 Ramadhan tahun ke-2 Hijriah.
Ayat ini mengisyaratkan adanya kesamaan tanggal antara awal mula turunnya wahyu dengan peristiwa besar tersebut.
Dari pemaparan di atas, dapat ditarik benang merah bahwa antara Lailatul Qadar dan 17 Ramadhan tidak saling bertentangan:
- Lailatul Qadar: Peringatan turunnya Al Quran secara utuh dari Lauhul Mahfudz ke langit dunia.
- 17 Ramadhan (Nuzulul Quran): Peringatan turunnya wahyu pertama kali kepada Rasulullah SAW di bumi (Gua Hira).
Membumikan Nilai Al Quran
Esensi dari peringatan Nuzulul Quran di era modern bukan sekadar seremonial. Sebagaimana digambarkan oleh Ibunda 'Aisyah bahwa akhlak Rasulullah adalah Al Quran (Kaana khuluquhul Quran), umat Islam diharapkan menjadikan kitab suci ini sebagai pedoman hidup nyata.
Salah satu pesan nyata dalam Al Quran adalah perintah berbagi melalui sedekah.
Dalam QS. Al-Baqarah ayat 261, Allah menjanjikan pelipatgandaan pahala bagi mereka yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, terutama di bulan yang penuh berkah ini.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang