Situasi Konflik Iran vs AS–Israel, Apakah Masih Aman Buat Traveling ke Luar Negeri?

Ilustrasi bandara
Ilustrasi bandara

 Konflik antara Iran vs Amerika Serikat-Israel terus memanas, sejumlah negara-negara di Arab. Sebut saja Dubai, Qatar, Riyadh, hingga Uni Emirates Arab juga terdampak.

Meski menyasar pangkalan milter AS yang berada di wilayah negara-negara Arab, namun serangan yang dilancarkan Iran juga berdampak pada sejumlah infrastruktur sipil dan fasilitas energi di sana.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Serangan tersebut berdampak pada citra kawasan negara-negara Arab sebagai pusaat perjalanan, pariwista dan keuangan yang aman dan makmur. Menyusul dengan serangan tersebut banyak publik yang bertanya-tanya, apakah aman untuk traveling ke luar negeri saat ini?

Melansir berbagai sumber, menyusul dengan serangan ini pemerintah Amerika Serikat diketahui telah mengeluarkan peringatan perjalanan ke negara-negara Arab untuk warganya di seluruh dunia di tengah meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Amerika Serikat sendiri telah mengeluarkan peringatan ke-14 negara di wilayah Timur Tengah mulai dari:

  1. Qatar: AS telah mengeluarkan peringatan level 3 untuk perjalanan ke Qatar, peringatan perjalanan paling serius kedua. Peringatan tersebut menyarankan agar orang-orang mempertimbangkan kembali perjalanan ke negara tersebut karena ancaman konflik bersenjata.
  2. Kuwait: Peringatan level 3 juga telah diberlakukan di Kuwait
  3. Bahrain : Bahrain juga telah menerima peringatan perjalanan Level 3 karena terorisme dan konflik bersenjata yang timbul dari konflik antara AS dan Iran.

Selain negara tersebut,Amerika Serikat juga telah mengeluarkan peringatan perjalanan ke negara  Mesir, Iran, Irak, Israel, Yordania, Kuwait, Lebanon, Oman, Arab Saudi, Suriah, Uni Emirat Arab (UEA), dan Yaman

Sejumlah Bandara Internasional di Timur Tengah Ditutup

Melansir laman Newsweek, bandara-bandara di Dubai, Abu Dhabi dan Doha termasuk Bandara Internasional Dubai, salah satu bandara tersibuk di dunia ditutup awal pekan ini. Padahal bandara-bandara tersebut merupakan pusat penting bagi perjalanan antara Eropa, Afrika, dan Asia, sehingga memperparah gangguan bagi para pelancong di seluruh dunia.

Penutupan ini menyusul dengan serangan Iran ke bandara-bandara tersebut. Para pejabat di Bandara Internasional Dubai mengatakan empat orang terluka akibat serangan tersebut.

Sementara itu, Bandara Internasional Zayed di Abu Dhabi melaporkan satu orang tewas dan tujuh lainnya terluka akibat serangan pesawat tak berawak. Serangan juga dilaporkan terjadi di Bandara Internasional Kuwait.

Perusahaan analisis penerbangan Cirium memperkirakan bahwa setidaknya 90.000 orang berganti penerbangan setiap hari melalui bandara Dubai, Doha, dan Abu Dhabi hanya dengan tiga maskapai yakni Emirates, Qatar Airways, dan Etihad Airways yang menggarisbawahi skala gangguan tersebut. Emirates menangguhkan semua penerbangan ke dan dari Dubai hingga setidaknya Senin sore lalu.

Air India menangguhkan semua penerbangan ke dan dari UEA, Arab Saudi, Israel, dan Qatar hingga Selasa. Maskapai penerbangan Israel EL AL menutup penjualan tiket untuk penerbangan hingga 21 Maret untuk memastikan pelanggan yang terjebak mendapatkan prioritas begitu wilayah udara dibuka kembali.

Dampak dari kejadian ini meluas jauh melampaui wilayah tersebut. Otoritas bandara di Bali, Indonesia, mengatakan lebih dari 1.600 wisatawan terlantar pada hari Minggu setelah lima penerbangan ke Timur Tengah dibatalkan atau ditunda. Bandara internasional di London, Mumbai, Delhi, Bangkok, Istanbul, Sri Lanka, dan Paris masing-masing melaporkan puluhan pembatalan tambahan.

Himbauan Kemlu Indonesia

Awal pekan ini, Kementerian Luar Negeri Indonesia telah resmi mengeluarkan imbauan untuk menunda keberangkatan jemaah umrah ke Arab Saudi untuk sementara waktu. Langkah ini diambil sebagai respon atas meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah antara Israel dan  AS dengan Iran. Dalam surat edaran bernomor 00519/PK/03/2026/68/11, Kemlu memandang perlu adanya langkah antisipatif untuk melindungi Warga Negara Indonesia (WNI).

"Sehubungan dengan perkembangan situasi keamanan di kawasan Timur Tengah terkait eskalasi konflik antara Israel dan Amerika Serikat dengan Iran, Kementerian Luar Negeri memandang perlu dilakukan langkah-langkah antisipatif guna memitigasi potensi risiko keamanan bagi Warga Negara Indonesia yang melakukan perjalanan ke kawasan dimaksud," tulis surat resmi tersebut, Minggu 1 Maret 2026.

Kemlu menegaskan, mitigasi risiko ini mencakup calon jemaah umrah yang akan melaksanakan perjalanan ke Arab Saudi. Mengingat situasi yang dinamis, perlindungan terhadap keselamatan jemaah menjadi prioritas utama pemerintah saat ini.

"Kami mengharapkan kerja sama Direktorat Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah kiranya dapat menyampaikan himbauan kepada seluruh Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU)/Agen Perjalanan agar mempertimbangkan penundaan keberangkatan calon jemaah umrah ke Arab Saudi untuk sementara waktu hingga kondisi keamanan dinilai lebih kondusif," bunyi surat tersebut.

Langkah penundaan sementara ini diharapkan dapat meminimalisir risiko terjebaknya jemaah di tengah konflik bersenjata atau gangguan penerbangan di wilayah udara Timur Tengah. Pemerintah menilai keamanan jemaah merupakan syarat mutlak dalam penyelenggaraan ibadah.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Lantas bagaimana dengan negara-negara di luar Arab?

Terkait rencana perjalanan ke luar kawasan negara-negara Arab, hingga saat ini belum ada imbauan resmi untuk menunda keberangkatan. Meski begitu, masyarakat Indonesia tetap disarankan bersikap bijak dan mempertimbangkan situasi terkini sebelum memutuskan bepergian ke luar negeri. Mengingat Rabu waktu setempat kapal selam Amerika Serikat menenggelamkan kapal peranng Iran di lepas pantai selat SriLanka, Samudera Hindia. Akibat serangan itu, setidaknya 80 orang dilaporkan tewas.