Dubes Boroujerdi: Reza Pahlavi Bukan Negarawan, Warga Iran Tak Menganggapnya Ada

Reza Pahlavi, Putra Mahkota Iran
Reza Pahlavi, Putra Mahkota Iran

 Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi merespons kemunculan Reza Pahlavi dan pernyataan kerasnya, menyusul tewasnya pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei karena serangan brutal Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu, 28 Februari 2026.

Reza Pahlavi merupakan putra mahkota yang diasingkan setelah rezim ayahnya, Shah Mohammad Reza Pahlavi, digulingkan dari rezim pada 1979 melalui revolusi Islam pimpinan Ayatollah Rohullah Khomeni. Menurut Dubes Boroujerdi, Pahlavi bukanlah seorang negarawan dan masyarakat Iran tidak menganggap serius kemuculannya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Apakah mungkin orang yang berharap Iran dibom AS, pantas dianggap negarawan? Saya kira orang seperti itu bukan negarawan. Kami di Iran, masyarakat negara kami, tidak menganggap ada dan tidak menganggap serius orang yang tadi disebutkan," kata Dubes Iran Boroujerdi dalam keterangan pers di Menteng, Jakarta Pusat, Senin, 2 Maret 2026.

Boroujerdi mengakui ada kelompok masyarakat Iran yang tidak berduka atas kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, bahkan sempat melakukan protes terhadap kepemimpinan Khamenei.  Meski demikian, lanjut Boroujerdi, para demonstran bagian dari kubu Pahlavi. Lebih jauh lagi, ia menegaskan pernyataan Pahlavi soal kondisi Iran tak dianggap serius oleh masyarakat Iran.

"Mungkin saja di Iran terdapat sebuah ketidakpuasan, sebuah protes dari masyarakat, tetapi pihak yang protes dan tidak puas pun di Iran tidak menganggap orang ini sebagai orang yang serius. Dan saya rasa media juga menganggapnya demikian," ujarnya.

Boroujerdi mengingatkan kembali kejadian serupa pernah terjadi tahun 1953, dimana Shah Reza mmenggulingkan Mohammad Mosaddegh melalui sebuah kudeta dengan bantuan Amerika Serikat, yang mencoba untuk menyerang demokrasi di Iran dengan mengembalikan Shah Iran pada saat itu.

"Dan apabila memang mereka adalah pihak yang mengharapkan demokrasi bagi Iran, mengapa masyarakat Iran harus turun ke jalanan pada tahun 1979 melalui sebuah revolusi menjatuhkan pemerintahan Shah di sana," ungkapnya

Sebelumnya, putra mahkota terakhir Iran, Reza Pahlavi, menyampaikan pernyataan pada Minggu, 1 Maret 2026, menyusul kabar kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. 

Dalam pesannya, ia menyatakan bahwa Republik Islam sedang menarik napas terakhirnya dan menyerukan pejabat yang tersisa untuk menyerah kepada rakyat Iran. Ia menyebut Khamenei sebagai 'Zahhak di zaman kita', merujuk pada figur tiran berbahu ular dalam mitologi Persia.

"Ali Khamenei, Zahhak di zaman kita, makhluk jahat yang beberapa minggu lalu memerintahkan pembantaian puluhan ribu anak terbaik Iran, telah tiada," tulisnya

Istilah 'anak terbaik Iran' yang digunakannya merujuk pada generasi muda yang memimpin gelombang protes 'Woman, Life, Freedom' serta demonstrasi Januari lalu, yang menurut berbagai laporan direspons dengan tindakan represif aparat negara.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pahlavi menegaskan bahwa dengan 'kematian memalukan' Khamenei serta sejumlah pejabat dan afiliasinya, sistem yang dibangun sejak Revolusi 1979 itu berada di ambang runtuh. "Pemerintahan ini akan dikirim ke tempat sampah sejarah oleh kehendak dan keberanian rakyat Iran," tulisnya.

Ia juga secara terbuka menekankan bahwa tujuan gerakannya adalah penggulingan total Republik Islam. "Bangsa besar Iran menginginkan kejatuhan total Republik Islam. Dan kita akan menggulingkan rezim jahat ini," tegasnya.