Psikiater: Rumah adalah Tempat Anak Belajar Tentang Hubungan Sehat

hubungan yang sehat, lingkungan keluarga, mengatur emosi, Psikiater: Rumah adalah Tempat Anak Belajar Tentang Hubungan Sehat, Menjadi contoh hubungan yang sehat, Membangun komunikasi terbuka sejak dini, Mengajarkan anak mengelola emosi, Menanamkan rasa percaya diri

Hubungan tidak sehat pada anak muda sering kali tidak muncul begitu saja, tetapi berkaitan dengan pola komunikasi yang mereka pelajari sejak kecil.

Psikiater Bidang Pengabdian Masyarakat PP-PDSKJI, dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menilai keluarga memiliki peran penting dalam membentuk cara anak memahami hubungan yang sehat.

Ia menegaskan bahwa rumah adalah tempat pertama anak belajar tentang cara menghargai orang lain dan mengelola emosi.

“Relasi yang sehat bukan tentang seberapa sering bersama menghabiskan waktu dengan senang gembira, tetapi seberapa aman, bertumbuh, dan dihargai dalam menjalankannya,” ujarnya dalam keterangan yang diterima Minggu (1/3/2026).

Pemahaman tentang hubungan yang sehat sebenarnya mulai terbentuk dari pengalaman anak di rumah.

Menjadi contoh hubungan yang sehat

Anak belajar tentang hubungan dari apa yang mereka lihat setiap hari. Cara ayah dan ibu berkomunikasi, menyelesaikan masalah, dan saling menghargai menjadi contoh bagi anak.

Sikap saling menghormati dan kemampuan meminta maaf juga memberi gambaran bagi anak tentang hubungan yang sehat.

Anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga dengan komunikasi yang baik biasanya lebih mampu membangun hubungan yang sehat saat dewasa.

Pengalaman di rumah membentuk cara anak memahami bagaimana hubungan seharusnya berjalan.

Membangun komunikasi terbuka sejak dini

hubungan yang sehat, lingkungan keluarga, mengatur emosi, Psikiater: Rumah adalah Tempat Anak Belajar Tentang Hubungan Sehat, Menjadi contoh hubungan yang sehat, Membangun komunikasi terbuka sejak dini, Mengajarkan anak mengelola emosi, Menanamkan rasa percaya diri

Ilustrasi orangtua. Psikiater menjelaskan bahwa pola komunikasi dan cara orang tua memperlakukan anak sejak kecil sangat memengaruhi kemampuan anak membangun hubungan yang sehat saat dewasa.

Komunikasi terbuka membantu anak merasa aman untuk bercerita. Anak yang sejak kecil merasa takut dihakimi biasanya enggan menceritakan masalah yang mereka alami.

Kondisi ini membuat orangtua sulit mengetahui jika anak sedang menghadapi masalah dalam hubungannya.

Orangtua perlu mendengarkan tanpa langsung menggurui atau menyalahkan. Bertanya dengan tenang dan memberi dukungan membantu anak merasa dihargai.

Sikap ini membuat anak lebih nyaman untuk berbagi cerita tentang pengalaman yang mereka alami.

Mengajarkan anak mengelola emosi

Kemampuan mengatur emosi juga perlu diajarkan sejak dini. Anak yang terbiasa memahami emosinya akan lebih mampu menghadapi konflik dengan baik.

Orangtua dapat membantu dengan cara mengakui perasaan anak. Lahargo mencontohkan respons yang lebih membantu seperti, “Ayah lihat kamu sedih. Mau cerita?”

Pendekatan ini berbeda dengan respons yang hanya melarang anak untuk tidak terbawa perasaan. Validasi emosi membantu anak membangun ketahanan mental yang lebih kuat.

Menanamkan rasa percaya diri

Rasa percaya diri atau self-esteem juga berperan penting dalam hubungan yang sehat. Anak dengan self-esteem yang baik tidak mudah bertahan dalam hubungan yang abusif.

Mereka juga tidak merasa perlu mencari perhatian secara berlebihan dari pasangan. Anak yang memiliki harga diri yang sehat cenderung mampu menjaga batasan dalam hubungan.

Lahargo mengingatkan bahwa keluarga adalah tempat pertama anak belajar tentang cinta dan hubungan.

“Rumah adalah sekolah pertama tentang cinta dan relasi. Ajarilah sebaik mungkin agar anak muda tidak tersesat di masa depan,” ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang