Anak Mendadak Malas Sekolah Bisa Jadi Tanda Gangguan Perilaku
Orangtua sering menganggap keengganan anak untuk pergi ke sekolah sebagai bentuk kemalasan, sekadar mencari perhatian, atau reaksi sesaat terhadap tugas yang menumpuk.
Tidak jarang, bujukan sampai paksaan terjadi agar anak tetap berangkat ke sekolah tepat waktu.
Namun, dr. Kusuma Minayati, Sp.KJ(K), mengungkapkan, penolakan ini harus dipandang sebagai kondisi yang perlu diawasi lebih lanjut oleh ayah dan ibu.
"Biasanya, gangguan mental di anak bisa muncul sebagai masalah perilaku, seperti penolakan bersekolah," ujar dr. Kusuma dalam sebuah dialog bersama Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Republik Indonesia di Fakulitas Ilmu Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat (27/2/2026).
Malas bersekolah tak selalu karena takut pelajaran
Satu hal yang perlu disadari orangtua adalah keengganan bersekolah bukan hanya masalah akademik yang tertinggal, melainkan hilangnya salah satu fungsi utama anak sebagai makhluk sosial.
Banyak orangtua terjebak pada asumsi bahwa anak tidak mau sekolah karena merasa berat dengan materi pelajaran atau takut menghadapi ujian.
Namun, dr. Kusuma menjelaskan bahwa motivasi seorang anak untuk hadir di sekolah sebenarnya jauh lebih luas dan mendalam daripada sekadar urusan akademik.
Anak-anak bermain bola di Taman Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara.
"Kalau anak enggak mau sekolah itu hal yang sifatnya gawat darurat karena anak itu normalnya 'senang' sekolah," tutur dia.
Bagi anak yang sehat secara mental, sekolah adalah tempat untuk mereka berinteraksi, mengekspresikan diri, dan membangun kompetisi yang sehat dengan teman sebaya.
Interaksi sosial inilah yang biasanya menjadi alasan utama mengapa anak-anak merindukan suasana sekolah setiap harinya.
Oleh karena itu, ketika seorang anak yang biasanya aktif tiba-tiba menolak bersekolah secara konsisten, dr. Kusuma menyarankan agar orangtua tidak hanya fokus pada tindakan "bolos"-nya.
Ayah dan ibu justru harus menggali apa yang hilang dari perasaan senang tersebut. Jika keinginan untuk bermain dan bertemu teman pun ikut hilang, maka ada beban mental yang mungkin tidak sanggup mereka pikul sendirian.
Waspadai perubahan aktivitas
Dokter Kusuma menerangkan, gangguan mental pada fase tumbuh kembang sering kali tidak muncul melalui kata-kata yang rumit, melainkan melalui hilangnya ketertarikan pada hal-hal sederhana yang sebelumnya sangat mereka sukai.
Ilustrasi anak sedih. Child grooming sering bermula dari perhatian yang tampak peduli, tetapi dapat meninggalkan luka psikologis jangka panjang pada korban.
."Misalnya masalah pada belajar atau bermain. Dia biasanya pintar, tapi kok di semester ini nilainya turun. Atau biasanya senang setiap sore dia main, tapi kali ini kebanyakan tidurnya," kata dr. Kusuma.
Perubahan suasana perasaan yang ekstrem, masalah pada cara belajar, hingga pengabaian terhadap permainan favorit, merupakan tanda-tanda klinis yang kuat.
Orangtua perlu waspada karena jika dibiarkan, ini bisa berdampak pada kondisi gawat darurat seperti kecenderungan menyakiti diri sendiri.
Peran skrining dan pendampingan
Penanganan masalah kesehatan mental anak memerlukan kolaborasi antara orangtua, lingkungan, dan tenaga profesional.
Orangtua tidak perlu menunggu kondisi menjadi parah untuk mencari bantuan. Saat ini, akses terhadap alat skrining awal sudah semakin mudah dijangkau di fasilitas kesehatan tingkat pertama maupun di sekolah.
"Kalau di Puskesmas atau di sekolah mungkin sudah ada alat skrining yang bisa digunakan untuk melihat kecenderungan masalah kesehatan jiwa. Tapi kalau misalnya kita belum tahu alat skrining itu, kita bisa jeli untuk melihat," tutur dr. Kusuma.
Selain itu, pendampingan harus dimulai dari penyediaan lingkungan yang aman bagi anak untuk bercerita. Hal paling mendasar yang dibutuhkan anak adalah kehadiran orang dewasa yang memahami kebutuhan fase perkembangannya secara utuh.
"Setiap anak adalah kisah yang sedang tumbuh, membawa harapan yang rapuh sekaligus kuat, sehingga mereka membutuhkan pelukan yang aman, kata-kata yang menenangkan, dan lingkungan yang memahami," pungkas dr. Kusuma.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang