Dampak Jangka Panjang Screen Time, dari Gangguan Fisik hingga Perilaku

screen time, Dampak Jangka Panjang Screen Time, dari Gangguan Fisik hingga Perilaku, Efek screen time bisa muncul bertahun-tahun kemudian,  Ilustrasi anak main gadget., Risiko gangguan fisik pada mata, Konten agresif dapat membentuk perilaku, Gangguan perkembangan dan penurunan kualitas hidup

Dampak screen time pada anak tidak selalu terlihat segera. Banyak anak tampak baik-baik saja saat menggunakan gadget, tetapi efeknya baru muncul beberapa tahun kemudian dan memengaruhi kemampuan belajar, emosi, hingga perilaku.

Psikolog klinis anak dan keluarga, Ayank Irma, menjelaskan bahwa penggunaan gadget dapat menimbulkan dampak jangka panjang pada anak.

“Yang namanya gadget kan lebih banyak satu arah. Kalau anak-anak usia dini itu harus hati-hati sekali karena sudah pasti dia enggak belajar emosi yang real itu gimana,” katanya saat ditemui setelah acara grand opening Playclub by Buumi di Urban Forest Cipete, Jakarta Selatan, Kamis (11/12/2025).

Selain itu, anak juga tidak bisa memahami cara menanggapi atau merespon orang lain. 

Efek screen time bisa muncul bertahun-tahun kemudian

Ayank menekankan, banyak orangtua tidak menyadari bahwa dampak screen time bersifat jangka panjang. 

Perubahan perilaku, kemampuan fokus, dan respons belajar sering kali baru tampak setelah tiga hingga empat tahun kemudian.

“Karena kan itu efeknya ada looping ke waktu. Misalnya sekarang enggak apa-apa, tapi kan serapannya dia itu nanti efeknya tiga tahun lagi, empat tahun lagi,” katanya.

Salah satu dampak yang sering muncul adalah penurunan konsentrasi, yang biasanya baru disadari ketika anak mulai masuk sekolah. Anak lebih sulit berkonsentrasi.

Ilustrasi anak main gadget.

Risiko gangguan fisik pada mata

Paparan layar yang intens dapat memicu gangguan visual pada anak, terutama karena mata anak belum siap bekerja keras mengikuti gerak dan cahaya dari gadget.

Ayank menyebut risiko seperti mata malas (lazy eyes) dan pola pandangan tidak normal memungkinkan untuk terjadi.

“Misalnya, matanya mungkin lazy eyes, terus eyes gazing. Selama ini dia lihat gadget kan kerja keras, matanya belum siap,” jelasnya.

Masalah ini biasanya terasa ketika anak mulai diminta membaca, menulis, atau mengikuti pembelajaran kelas yang membutuhkan fokus visual.

Konten agresif dapat membentuk perilaku

Ayank mengingatkan bahwa anak cenderung menganggap apa yang ia lihat sebagai sesuatu yang normal, termasuk jika konten tersebut penuh unsur agresivitas.

“Dia lihat konten-konten yang isinya agresivitas, dipikir ke normal. Akhirnya dia mungkin bisa sama temannya dipukul, didorong, karena menurut dia normal dia lihat di smartphone,” tuturnya.

Menurutnya, banyak perilaku bullying berasal dari paparan konten agresif dan permainan digital yang intens.

“Konteks bullying  banyak yang sumbernya itu karena menonton, bermain games yang unsur agresivitasnya itu sangat tinggi dan intens,” ucap Ayank.

Gangguan perkembangan dan penurunan kualitas hidup

Jika tidak dikendalikan, screen time berlebihan dapat memicu gangguan perkembangan, termasuk gangguan kesehatan mental pada anak.

“Jadi masalah psikologis dan kemudian jadinya gangguan. Kalau gangguan itu, kualitas hidup anaknya nggak bagus,” ujar Ayank.

Ia menjelaskan bahwa dampaknya dapat muncul dalam banyak aspek kehidupan anak. 

Sebagai contoh, Ayank menyebut bahwa konsentrasi anak dapat menurun, hubungan pertemanannya menjadi kurang baik, dan kedekatannya dengan orangtua ikut terganggu. 

Anak juga bisa menjadi kurang aktif secara fisik sehingga perkembangan motoriknya tidak optimal.

Menurut Ayank, seluruh perubahan ini dapat membuat kualitas hidup anak ikut menurun.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang