BPOM Sebut Skincare Berbahan Alami Belum Tentu Teruji Ilmiah, Jangan Terkecoh

BPOM, BPOM Sebut Skincare Berbahan Alami Belum Tentu Teruji Ilmiah, Jangan Terkecoh, Belum Semua Berbasis Riset, Kurang dari 1 Persen yang Sudah Teruji Ilmiah, Riset Diperlukan untuk Tingkatkan Kualitas Produk, Masyarakat Perlu Lebih Kritis

Tren penggunaan bahan alami dalam produk kosmetik, termasuk skincare, terus meningkat di Indonesia. Bahan ini sering dianggap lebih aman karena berasal dari tumbuhan yang telah digunakan secara turun-temurun.

Namun, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengingatkan bahwa tidak semua produk berbasis alami atau herbal telah melalui pengujian ilmiah yang memadai, terutama terkait khasiat dan kualitasnya.

Kepala BPOM RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., menjelaskan bahwa Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas yang sangat besar, termasuk tanaman yang dimanfaatkan untuk kosmetik dan jamu.

“Nah, kalau kita hitung jumlah tanaman kita itu sekitar 31 ribu spesies, datanya dari Badan Riset dan Inovasi Nasional,” ujar Taruna saat ditemui di Kelapa Gading, Senin (23/2/2026).

Ia menambahkan, bahan alami di Indonesia memang memiliki potensi besar karena telah lama digunakan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Belum Semua Berbasis Riset

Taruna menjelaskan, dari sisi keamanan, banyak bahan herbal sebenarnya sudah digunakan sejak lama oleh masyarakat.

Maka dari itu, penggunaannya dinilai relatif aman secara tradisional. Dalam konteks ilmiah, keamanan biasanya diuji melalui tahapan praklinis seperti uji toksisitas pada hewan.

Namun, untuk bahan herbal yang telah digunakan secara turun-temurun, pengalaman penggunaan pada manusia dalam jangka panjang juga menjadi salah satu pertimbangan.

“Kalau jamu-jamuan itu sudah digunakan ratusan hingga ribuan tahun, artinya sudah pernah digunakan oleh manusia sejak dulu sehingga kita anggap aman,” jelasnya.

Di sisi lain, Taruna juga menjelaskan bahwa produk kosmetik secara umum memang memiliki tingkat risiko yang lebih rendah dibandingkan obat atau makanan.

“Karena kosmetik itu digunakan di bagian luar tubuh, bukan dikonsumsi sehingga risikonya lebih rendah,” ujarnya.

Meskipun demikian, aspek yang masih menjadi tantangan adalah pembuktian ilmiah terkait khasiat dan kualitasnya.

Kurang dari 1 Persen yang Sudah Teruji Ilmiah

BPOM, BPOM Sebut Skincare Berbahan Alami Belum Tentu Teruji Ilmiah, Jangan Terkecoh, Belum Semua Berbasis Riset, Kurang dari 1 Persen yang Sudah Teruji Ilmiah, Riset Diperlukan untuk Tingkatkan Kualitas Produk, Masyarakat Perlu Lebih Kritis

Kepala BPOM RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., dalam acara Nose Innovation Day di Kelapa Gading, Senin (23/2/2026).

Diungkap Taruna, dari lebih dari 20.000 produk herbal yang telah memiliki izin edar di BPOM, hanya sebagian kecil yang benar-benar berbasis riset ilmiah.

Produk yang telah melalui pengujian lebih lanjut biasanya masuk dalam kategori obat herbal terstandar, yang setidaknya telah melalui uji klinis.

“Yang sudah berbasis riset itu masih sangat kecil, kurang dari 1 persen,” kata Taruna.

Angka ini menunjukkan bahwa mayoritas produk herbal, termasuk yang digunakan dalam kosmetik, masih mengandalkan penggunaan tradisional, bukan hasil uji ilmiah modern.

Riset Diperlukan untuk Tingkatkan Kualitas Produk

Menurut Taruna, penguatan riset menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing produk herbal Indonesia, baik di dalam negeri maupun di pasar global.

Dengan adanya penelitian yang lebih kuat, produk tidak hanya dinilai aman, tetapi juga memiliki bukti ilmiah terkait efektivitasnya.

Ia pun menyambut positif hadirnya berbagai pusat riset, seperti innovation center yang dikembangkan oleh industri karena dapat mendorong peningkatan jumlah produk berbasis sains.

“Dengan adanya pusat riset, kita harapkan ke depan bisa meningkat, mungkin 10 persen, 20 persen, dan seterusnya,” ujarnya.

Masyarakat Perlu Lebih Kritis

Melihat kondisi tersebut, masyarakat diimbau untuk tidak hanya terpaku pada label “herbal” atau “alami” dalam memilih produk skincare.

Pasalnya, meskipun bahan alami cenderung aman, efektivitasnya tetap perlu didukung oleh penelitian yang jelas.

Dengan demikian, konsumen dapat memilih produk yang tidak hanya berasal dari bahan alami, tetapi juga telah teruji secara ilmiah dari segi keamanan, kualitas, dan khasiatnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang