Ngopi Sore Bersama Akbar Supratman di Gedung MPR

Wakil Ketua MPR RI Akbar Supratman
Wakil Ketua MPR RI Akbar Supratman

 Aroma kopi sore itu menyatu dengan semangat muda yang terasa kuat di Ruang Kerja Wakil Ketua MPR RI, Gedung Nusantara III Lantai 7, Kompleks Parlemen, Senayan. Di ruangan yang biasanya dipenuhi agenda kenegaraan, Rabu, 11 Februari 2026, suasana berubah lebih cair. Canda, tawa, dan diskusi hangat mengalir dalam agenda bertajuk Ngopi Sore Akbar Bersama Pemred.

Ruang kerja itu pun disulap menjadi ruang diskusi yang akrab. Secangkir kopi hangat, aneka camilan, buah-buahan, hingga hidangan berat seperti rendang dan bakso tersaji. Namun yang lebih mengenyangkan adalah percakapan yang mengalir selama hampir dua setengah jam.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di tengah kesibukannya mengikuti sidang paripurna DPD pada pagi hari, Wakil Ketua MPR RI Abcandra Muhammad Akbar Supratman, sorenya, menyempatkan diri duduk bersama para jurnalis dan pemimpin redaksi. Tak ada jarak yang kaku. Jas formal dilepasnya. Ia memakai kemeja tangan panjang tetapi sikapnya santai. Bahkan sejak awal, ia mencoba mencairkan suasana.

Ngopi Sore Wakil Ketua MPR RI Akbar Supratman bersama Pemred

"Saya paling muda, manggilnya apa ya? mas-mas aja ya," ujar pria kelahiran Palu, 1 Oktober 1998 sambil tersenyum, disambut tawa ringan para jurnalis. Hadir dalam ngopi bareng dari Republika, Tempo, Tribun, TVRI, ntv, media jejaring promedia,Inews, metrotv, tvOne, detik, cnn indonesia TV, VIVA, tvOnenews, Garuda TV, Kompas TV, Jawa Post, dan Suara.

Kalimat pembuka Akbar Supratman itu langsung mencairkan suasana. Tak ada jarak antara pejabat tinggi negara dan para jurnalis yang hadir. Yang ada justru percakapan terbuka—tentang politik, daerah, bahkan soal stigma anak muda di dunia kekuasaan.

Anak Menteri yang Memilih Jalan Sendiri

Menjadi anak seorang Menteri Hukum Supratman Andi Agtas tentu bukan tanpa sorotan. Nama besar bisa menjadi pintu, tapi juga bisa menjadi bayang-bayang. Apalagi sebelum manjadi menteri, Supratman Agtas pernah menjadi anggota DPR RI dari Partai Gerindra.

Akbar tidak menghindari pertanyaan itu. Ia mengakui anak dari menteri hukum sebagai privilege. Tapi ia tidak mau terjebak dengan konotasi negatif anak muda yang punya logistik dan keluarga berlatar politik (dinasti). 

Baginya, yang terpenting adalah bagaimana kesempatan itu dimanfaatkan untuk kepentingan publik. Ia menegaskan tak ingin terjebak dalam stigma politik dinasti, melainkan membuktikan diri lewat kerja nyata

"Saya tidak bisa memilih, punya privilege tergantung untuk apa, yang terpenting privilege bermanfaat untuk masyarakat," tegas Akbar Supratman, lulusan sarjana hukum Universitas Trisakti yang sebelumnya sempat mencicipi kuliah di luar negeri namun tak selesai.

Kalimat itu ia ucapkan dengan nada tenang. Seolah ingin menegaskan bahwa latar belakang adalah fakta yang tidak bisa dihindari, tetapi pilihan politik tetaplah miliknya.

Ia bahkan pernah ditawari maju pilkada oleh ayahnya. Namun ia menolak.

"Saya pilih dewan perwakilan daerah (DPD) ketimbang Pilkada, pasalnya saya ditawarkan oleh bapak saya untuk maju Pilkada. Saya menolak ikut Pilkada karena 2 kali ayah saya kalah di Pilkada."

Bukan jalur mudah yang ia ambil. Akbar Supratman justru memilih jalur perseorangan untuk pemilu DPD—mengumpulkan dukungan KTP sendiri untuk berjuangan untuk menjadi senator di Senayan.

"Lalu saya ditantang untuk 10 ribu KTP, minimal 2 ribu. Saya kerja keras saat kampanya ke pelosok-pelosok menginap. Saya bahkan sempat mengalami rintangan. Alhamdullillah saya terpilih jadi anggota senator," ujarnya.

Akbar Supratman berhasil melaju ke Senayan pada pemilu tahun 2024 dengan perolehan suara sebanyak 181.655 suara pemilih.

Pada 1 Oktober 2024, di usia 26 tahun, Akbar resmi menjadi anggota DPD RI dari Sulawesi Tengah. Dua hari kemudian, ia dilantik sebagai Wakil Ketua MPR RI. Rekor tercatat. Ia menjadi pimpinan MPR termuda dalam sejarah lembaga tinggi negara tersebut.

Namun di balik capaian di usia muda itu bukan sekadar kebanggaan, ada kegelisahan yang dirasakan Akbar Supratman.

"Kami hanya memberi saran, wewenang ada di DPR, saya akan sampaikan ke anggota-anggota muda DPR, saya ingin jadi lokomotif DPD ke DPR RI," ujar mantan Sekretaris KNPI Jakarta Periode 2021-2024.

Ia ingin DPD tak hanya dikenal sebagai lembaga pemberi saran. Ia ingin suara daerah benar-benar terdengar. Menurutnya, banyak persoalan daerah yang tak boleh berhenti di meja administrasi.

"Selama ini begitu banyak persoalan daerah, secara personal saya juga membantu langsung ke daerah, tapi terbatas, pemerintah pusat saja belum teratasi, apalagi personal. Makanya kita akan menguatkan lembaga DPD ini tak hanya sekadar pemberi saran," jelasnya.

Politik Gaya Anak Muda

Yang menarik, gaya komunikasinya terasa lebih relate dengan generasi muda. Ia tak ragu menyebut ingin jadi “lokomotif”. Ia juga mengajak senator muda lain untuk bergerak bersama.

Ia tak sendiri. Dalam ngopi bareng itu, ia turut menghadirkan anggota DPD muda lainnya seperti Al Hidayat dari Sulawesi Selatan, Andi Ian Alibal dari Sulawesi Barat, dan Muh Rifqi Farabi dari NTB. Generasi baru senator ini disebutnya siap berkolaborasi memperjuangkan suara daerah.

Mereka juga ikut berbicara tentang harapan seorang senator muda terhadap persoalan daerah di Indonesia dan penguatkan peran DPD. Mulai soal penanganan bencana, pembelajaran coding untuk anak muda, dan menyuarakan anggaran Pemerintah Daerah yang ditahan Pemerintah Pusat.

Tanpa terasa, obrolan sore itu berlangsung sekitar dua setengah jam. Waktu menunjukkan pukul 16.30 WIB. Diskusi ditutup dengan makan dan foto bersama. Bukan sekadar agenda formal, tapi silaturahmi yang terasa hangat.

Ngopi Sore Wakil Ketua MPR RI Akbar Supratman bersama Pemred

Ngopi Sore Wakil Ketua MPR RI Akbar Supratman bersama Pemred

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di antara kopi yang mulai dingin dan canda yang masih tersisa, ada satu kesan kuat: politik bisa tetap serius tanpa kehilangan sisi manusiawinya. Dan bagi Akbar Supratman, menjadi pimpinan MPR termuda bukan hanya soal usia—tapi tentang bagaimana anak muda berani duduk di meja kekuasaan, tanpa kehilangan gaya, idealisme, dan kepedulian sosialnya.

"Ia sosok energik dan responsif. Dia menggunakan jabatannya untuk menolong orang. Setiap stafnya, terutama di Sulawesi Tengah, harus selalu siap sewaktu-waktu untuk membantu orang lain," tutup Arfi Bambani Amran, salah satu stafnya di Jakarta.