Ironi Gajah Sumatera, Penjaga Ekosistem yang Kini Berstatus Kritis Akibat Konflik dan Perburuan

Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) kini berada di ambang kekhawatiran serius. Sebagai subspesies gajah terkecil di Asia, mamalia besar ini tidak hanya menjadi ikon kekayaan alam Indonesia, tetapi juga pemegang peran vital sebagai "spesies payung" bagi kelestarian hutan.
Namun, keberadaannya kian terhimpit. Berdasarkan data Lembaga Konservasi Internasional (IUCN), status Gajah Sumatera kini masuk dalam kategori kritis (critically endangered).
Pada tahun 2017, diperkirakan populasi yang tersisa di alam liar hanya berkisar antara 2.400 hingga 2.800 individu.
Peran Vital Sang "Petani Hutan"
Gajah Sumatera memiliki daya jelajah yang sangat luas, mencapai 166 kilometer persegi.
Dengan menyelamatkan satu kelompok gajah, secara tidak langsung manusia menyelamatkan seluruh ekosistem di dalam area jelajah tersebut.
Selain itu, gajah berperan sebagai agen regenerasi hutan alami. Dalam sehari, seekor gajah mampu mengonsumsi sekitar 136 kg makanan berupa rumput, kulit pohon, akar, hingga buah-buahan.
"Biji dari buah yang dimakan oleh gajah tersebut akan dipencarkan melalui kotorannya ke seluruh areal hutan yang dilewatinya. Inilah yang membantu proses regenerasi hutan secara alami," tulis keterangan resmi WWF Indonesia, dikutip Kompas.com, Minggu (8/2/2026).
Gajah dalam Budaya: Legenda Tari Guel Aceh
Tari Guel khas Gayo di Tansaran, Aceh DOK. Shutterstock/Saannns
Kedekatan masyarakat Indonesia dengan gajah juga terekam dalam budaya, salah satunya melalui Tari Guel dari masyarakat Gayo, Aceh.Tarian ini bukan sekadar gerak, melainkan memiliki nuansa magis yang kuat.
Menurut cerita rakyat, tarian ini bermula dari mimpi Sangeda, putra Raja Linge XIII. Dalam mimpinya, ia mendapat petunjuk untuk mendapatkan gajah putih demi dipersembahkan kepada Sultan Aceh.
Sangeda menjinakkan gajah tersebut melalui doa, tirakat, dan tarian yang kini dikenal sebagai Tari Guel.
Hingga kini, Tari Guel yang menggunakan busana adat baju kerawang biasanya dibawakan oleh sekelompok penari (delapan wanita dan dua pria) dengan iringan musik yang bertema kesedihan.
Konflik Manusia dan Ancaman Pidana
Ironisnya, gajah yang dihormati dalam legenda kini sering dianggap sebagai hama. Konflik gajah dan manusia kerap terjadi akibat alih fungsi hutan menjadi permukiman atau perkebunan kelapa sawit.
Gajah, yang memiliki ingatan kuat terhadap jalur migrasinya, akan tetap melewati jalur yang sama meski lahan tersebut sudah berubah menjadi kebun. Hal ini memicu kerusakan lahan warga dan kerugian ekonomi.
Padahal, secara hukum, Gajah Sumatera adalah satwa yang dilindungi. Berdasarkan UU No. 5 Tahun 1990, siapapun yang memburu, melukai, atau memperdagangkan satwa dilindungi dapat dipidana.
"Jika terbukti melakukan pelanggaran tersebut, maka akan mendapatkan hukuman maksimal penjara 5 tahun dan denda Rp 100 juta."
7 Cara Mencegah Konflik Gajah Tanpa Kekerasan
Ilustrasi Gajah Sumatera. Untuk meminimalisir kerugian petani di sekitar habitat gajah tanpa melukai satwa, terdapat beberapa langkah antisipasi sederhana yang bisa dilakukan.
Untuk meminimalisir kerugian petani di sekitar habitat gajah tanpa melukai satwa, terdapat beberapa langkah antisipasi sederhana yang bisa dilakukan:- Menara Pengintai: Memantau kedatangan kelompok gajah dari kejauhan untuk antisipasi dini.
- Pondok Penjagaan dan Parit: Membuat parit di sekeliling pondok untuk menghambat pergerakan gajah.
- Pembakaran Campuran Cabai: Membakar campuran cabai, gemuk, dan kotoran gajah kering. Asapnya membuat gajah tidak nyaman (pastikan arah angin tidak menuju permukiman).
- Bunyi-bunyian: Menggunakan mercon untuk mengusir gajah dengan suara bising (tetap perhatikan jarak aman).
- Lampu Minyak Tanah: Memberikan kesan kehadiran manusia di sekitar kebun.
- Pagar Alami: Menggunakan kawat berduri kayu atau tumbuhan hidup sebagai penghalang fisik.
- Hambatan Alami: Memanfaatkan bentang alam seperti jurang atau sungai besar sebagai pembatas.
Pelestarian Gajah Sumatera bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama dengan tidak mengonsumsi produk berbahan gading gajah serta menjaga integritas kawasan hutan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang