Gajah Sumatera Terancam, Tesso Nilo Dijaga Ketat untuk Hentikan Perambahan Sawit

Kemenhut, Satgas PKH, sawit ilegal, Taman Nasional Tesso Nilo, kebun sawit ilegal, TNTN Riau, Gajah Sumatera Terancam, Tesso Nilo Dijaga Ketat untuk Hentikan Perambahan Sawit

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bersama Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) meningkatkan pengamanan di Taman Nasional (TN) Tesso Nilo, Riau, setelah terjadi perusakan pos komando oleh sekelompok orang yang menolak penertiban kebun sawit ilegal.

Langkah ini diambil sebagai upaya menjaga kawasan konservasi yang menjadi habitat penting bagi gajah sumatera.

Direktur Jenderal Penegakan Hukum (Gakkum) Kemenhut, Dwi Januanto Nugroho, mengatakan perusakan sarana dan prasarana negara di pos komando taktis menjadi salah satu alasan utama peningkatan keamanan.

Menurutnya, aksi kelompok tersebut tidak hanya menghambat penegakan hukum, tetapi juga mengancam keselamatan petugas di lapangan.

Ia menegaskan bahwa operasi penertiban ditujukan untuk menindak perusakan kawasan hutan, bukan menyasar masyarakat kecil.

"Penegakan hukum di Tesso Nilo diarahkan untuk mengembalikan taman nasional ini sebagai rumah Domang dan kawanan gajah lainnya, bukan hamparan kebun sawit. Operasi penertiban di Tesso Nilo kami rancang untuk memutus rantai bisnis perusakan kawasan, bukan mengorbankan rakyat," ujarnya.

Upaya Pengamanan Apa Saja yang Dilakukan?

Untuk memperkuat pengamanan, Ditjen Gakkum dan Satgas PKH bekerja sama dengan Kodam XIX/Tuanku Tambusai.

Tambahan 30 prajurit TNI dan 20 personel Polisi Kehutanan serta SPORC diturunkan ke lapangan.

Mereka bertugas meningkatkan patroli, menjaga titik rawan perambahan, mengawasi pos jaga dan portal, serta mengawal pemulihan ekosistem.

Upaya pemulihan menargetkan 8.000 hektare wilayah prioritas yang sebelumnya terdegradasi aktivitas ilegal.

Kemenhut menegaskan menghormati hak masyarakat menyampaikan pendapat secara damai, namun tindakan merusak fasilitas negara tidak dapat dibenarkan.

Kemenhut, Satgas PKH, sawit ilegal, Taman Nasional Tesso Nilo, kebun sawit ilegal, TNTN Riau, Gajah Sumatera Terancam, Tesso Nilo Dijaga Ketat untuk Hentikan Perambahan Sawit

Warga membongkar plang dan meminta anggota Satgas PKH meninggal Taman Nasional Tesso Nilo, di Kabupaten Pelalawan, Riau, Senin (24/11/2025).

Sejauh Mana Penertiban Kebun Sawit Ilegal Berjalan?

Sejak operasi penertiban dilakukan, tim gabungan telah menertibkan sekitar 4.700 hektare kebun sawit ilegal di dalam kawasan TN Tesso Nilo. Penertiban dilakukan melalui berbagai langkah, antara lain:

  • Menghentikan pembukaan lahan baru.
  • Membongkar pondok dan bangunan liar.
  • Menertibkan tempat penampungan TBS sawit ilegal.
  • Merusak akses jalan dan jembatan yang dibangun secara ilegal.
  • Membuat parit batas dan memasang papan peringatan.

Langkah-langkah tersebut bertujuan memutus rantai pasokan sawit ilegal serta mencegah munculnya kembali aktivitas serupa.

Dwi Januanto menjelaskan bahwa pemerintah mengedepankan pendekatan persuasif, terutama kepada masyarakat yang kooperatif.

Warga diberikan penjelasan mengenai status kawasan, aturan penguasaan lahan, serta konsekuensi hukum jika melakukan kegiatan dalam taman nasional.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa negara tidak memburu masyarakat yang bersedia bekerja sama mengembalikan kawasan.

Fokus penindakan tetap diarahkan kepada pemilik lahan, pemodal, dan pengendali alat berat yang menggunakan kawasan hutan negara sebagai komoditas ilegal.

Kemenhut memastikan operasi penertiban dan pemulihan TN Tesso Nilo akan terus berlanjut secara terpadu.

Pengamanan kawasan, penegakan hukum, dan upaya rehabilitasi akan dilakukan secara berkelanjutan untuk mengembalikan fungsi ekosistem sekaligus melindungi habitat gajah sumatera.

"Publik mengenal Tesso Nilo lewat sosok gajah kecil bernama Domang. Bagi kami, Domang bukan sekadar tokoh viral di media sosial. Ia adalah simbol generasi baru gajah Sumatera yang berhak atas rumah yang utuh, aman, dan bebas dari kebun ilegal," kata Dwi.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih. Berikan apresiasi sekarang