Cara Mengatasi Penyakit Patek Tanaman Cabai, Sering Menyerang di Musim Hujan

Menanam tanaman cabai di pekarangan atau ladang sendiri memang memberi kepuasan.
Saat tanaman bisa tumbuh besar, kemudian berbuah dan panen, ada kebanggaan tersendiri yang kita rasakan.
Sayang, menanam cabai tak semudah yang kita bayangkan di awal. Karena ada berbagai hama dan penyakit yang bisa mengganggu perkembangan tanaman, bahkan membunuh cabai perlahan-lahan.
Salah satu penyakit yang paling sering menyerang tanaman cabai adalah penyakit patek.
Apa itu penyakit patek, dan bagaimana cara mengatasinya?
Penyakit di musim hujan
Dilansir dari (30/4/2023), tanaman cabai rentan terkena penyakit anthracnose atau patek ketika musim tanam, terutama pada tanaman yang sudah besar buahnya. Sehingga ketika ingin dipanen, buah mengering dan busuk.
Pada musim hujan, penyakit ini merusak cukup parah, sekitar 80 sampai 100 persen. Penyakit patek merupakan penyakit yang disebabkan oleh jamur yang berkembang saat musim hujan.
Penyerangan biasanya dimulai dari fase perkecambahan, fase vegetatif atau pertumbuhan, hingga masa generatif atau pembuahan.
Jamur akan menginfeksi dinding sel tanaman sehingga merusak setiap fase tanaman cabai.
Misalnya ketika fase perkecambahan, jamur akan mengakibatkan cabai gagal berkecambah, sedangkan pada fase generatif, jamur menyebabkan buah busuk dan mengering.
Gejala penyakit ini ditandai dengan bercak melingkar, cekung, dan berwarna coklat pada buah cabai.
Pada perkembangannya, penyakit akan menyebar sehingga membuat buah membusuk, kering, dan mati.
Penyakit ini menyebar dengan cepat dengan bantuan air dan angin, sehingga bisa menginfeksi tanaman yang masih sehat.
Cara mengatasi penyakit patek
Ilustrasi tanaman cabai. Cara mengatasi penyakit patek tanaman cabai.
Dilansir dari laman Cybex Kementerian Pertanian RI, penyakit patek masih menjadi momok bagi petani cabai karena bisa menyebabkan kegagalan panen.Ini yang bisa dilakukan untuk mengendalikan dan mengatasi tanaman patek:
1. Pilih benih sehat
Untuk mengendalikan penyakit patek, sebaiknya memilih benih yang sangat sehat. Biasanya, cabai rawit lokal lebih tahan terhadap penyakit patek.
Kemudian lakukan penyemprotan dengan fungisida atau agens hayati yang tepat, terutama tanaman yang berumur 20 hari di persemaian atau 5 hari sebelum dipindahkan ke lahan.
2. Rawat lingkungan tanaman
Perawatan di lingkungan sekitar tanaman mutlak dilakukan, terutama cabang air, penyiangan gulma, dan pengaliran air yang tergenang.
Hal ini agar lingkungan sekitar tanaman tidak lembap, mengingat penyakit patek disebabkan oleh jamur yang perkembangannya sangat didukung oleh lingkungan yang lembap.
3. Pilih mulsa yang tepat
Anda juga bisa memilih mulsa hitam perak, karena mulsa ini bisa memantulkan sinar matahari ke bagian bawah permukaan daun atau tanaman sehingga kelembaban tidak begitu tinggi.
Untuk menghindari percikan air hujan, Anda juga bisa menggunakan mulsa plastik.
4. Atur jarak tanam
Terapkan jarak tanam yang agak lebar, yaitu sekitar 65 sampai 70 cm, dan tanam cabai secara zig-zag.
Cara ini bisa mengurangi kelembaban dan membuat sirkulasi udara cukup lancar.
5. Gunakan agensia hayati
Gunakan agensia hayati antagonis atau memanfaatkan mikroba Pseudomonas fluorescens dan Bacillus subtilis.
Salah satu agensia antagonis adalah dengan memanfaatkan Trichoderma spp. Hasil penelitian di laboratorium menunjukkan bahwa Trichoderma dapat menghambat laju perkembangan jamur C. acutatum penyebab penyakit antraknosa.
6. Lakukan perendaman biji
Rendam biji dalam air panas sekitar 55 derajat celsius selama 30 menit atau perlakuan dengan fungisida sistemik, yaitu golongan triazole dan pyrimidin (0,05 sampai 0,1 persen) sebelum ditanam atau menggunakan agens hayati.
7. Musnahkan tanaman rusak
Musnahkan bagian tanaman, baik daun, batang atau buah yang terinfeksi.
8. Lakukan rotasi
Lakukan penggiliran (rotasi) tanaman dengan tanaman lain yang bukan famili solanaceae (terong, tomat dan lain-lain) atau tanaman inang lainnya.
9. Jangan lupa pupuk
Tambahkan unsur kalium dan kalsium untuk membantu pengerasan buah cabai. Tapi jangan gunakan pupuk nitrogen (N) terlalu tinggi, seperti pupuk Urea, Za, ataupun pupuk daun dengan kandungan N yang terlampau tinggi.
Sebaiknya gunakan pupuk NPK yang rendah kandungan nitrogennya.
10. Gunakan fungisida
Pilih fungisida yang berbahan aktif prokloraz mangan klorida kompleks 50 persen, mankozeb, propineb, fenarimol, triazole, klorotalonil atau yang lainnya.
Aplikasikan sesuai dosis, khususnya pada periode pematangan buah, serta terutama saat curah hujan cukup tinggi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang