Ribuan Dokumen Epstein yang Dirilis Departemen Kehakiman AS Ditarik, Kenapa?

Jeffrey Epstein (FOTO: Istimewa).
Jeffrey Epstein (FOTO: Istimewa).

Bersamaan dengan dirilisnya sekitar tiga juta dokumen tambahan terkait kasus Jeffrey Epstein oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) pada Jumat lalu, ribuan dokumen di antaranya justru ditarik kembali dari publikasi.

Menanggapi hal tersebut, para pengacara korban kejahatan seksual yang dilakukan Epstein langsung menyampaikan keberatan. Mereka menilai, meskipun DOJ sebelumnya berjanji akan melindungi privasi para korban, sejumlah dokumen yang dipublikasikan justru memuat nama dan informasi identitas puluhan perempuan yang menuduh Epstein terlibat dalam praktik perdagangan seks, pelecehan, dan kejahatan lainnya.

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Pada 30 Januari 2026, DOJ melakukan apa yang mungkin merupakan pelanggaran privasi korban paling parah dalam satu hari sepanjang sejarah Amerika Serikat,” tulis pengacara Brittany Henderson dan Brad Edwards dalam surat resmi mereka. Melalui surat tersebut, keduanya meminta dua hakim federal AS memerintahkan pemerintah untuk menurunkan situs yang memuat arsip Epstein.

Lebih lanjut, para pengacara menegaskan bahwa tidak ada alasan apa pun yang dapat membenarkan kegagalan tersebut. Menurut mereka, skala dan konsistensi kesalahan yang terjadi menunjukkan kelalaian serius, terlebih karena tugas yang seharusnya dilakukan sangat sederhana, yakni menyensor nama-nama korban yang sudah diketahui sebelum dokumen dipublikasikan ke publik.

Foto tanpa busana dan nama korban ikut tersebar

Dikutip dari laman CBC, Rabu 4 Februari 2026, beberapa hari sebelum dokumen dirilis, Jaksa Agung AS Pam Bondi dan Jaksa AS Jay Clayton menyatakan DOJ akan berupaya semaksimal mungkin untuk melindungi privasi korban sejauh yang memungkinkan. Upaya itu disebut mencakup pengerahan lebih dari 500 pengacara dan peninjau untuk memeriksa dokumen secara manual halaman demi halaman, menilai isi video, serta melakukan pencarian elektronik terhadap nama atau identitas korban.

Setidaknya sejak 19 November saat Undang-Undang Transparansi Arsip Epstein disahkan DOJ sebenarnya sudah memiliki waktu untuk meneliti materi yang akan dipublikasikan. Namun, meski mengklaim telah melakukan pemeriksaan ketat, dokumen yang dirilis Jumat lalu tetap memuat foto-foto tanpa busana perempuan muda, sebagian di antaranya diduga masih di bawah umur serta informasi pribadi seperti nama dan tanggal lahir korban.

Dalam penelusuran CBC News ditemukan ada salah satu dokumen yang kemudian ditarik yakni transkrip kesaksian tahun 2007 dari seorang agen yang terlibat dalam Operation Leap Year, sandi penyelidikan FBI terhadap Epstein.

Meski terdapat sejumlah bagian yang disensor, transkrip tersebut masih mencantumkan keterangan tentang seorang korban di bawah umur yang fotonya disita dalam penyelidikan. Dokumen itu menampilkan nama depan dan inisial nama belakang korban, tanggal lahir, serta nama sekolah menengahnya.

Dalam kesaksian lanjutan, agen khusus tersebut menjelaskan bahwa gadis itu awalnya dipekerjakan Epstein untuk pijat, dan  kemudian berkembang menjadi aktivitas seksual pada pertemuan berikutnya.

Terdapat pula deskripsi eksplisit tentang sejumlah kejadian, termasuk bagaimana Epstein menyentuh korban atau menyuruh korban menyentuh dirinya. Ia juga disebut memberikan alat bantu seksual kepada korban sebagai hadiah ulang tahun ke-18.

Pada Selasa pagi, dokumen itu sudah tidak lagi bisa diakses di situs Departemen Kehakiman.

Sensor yang kacau bocorkan data korban

Dokumen lain yang juga ditarik memuat klaim sensasional terkait dugaan perilaku kriminal Presiden AS Donald Trump dan mantan Presiden Bill Clinton, termasuk tuduhan berhubungan seks dengan remaja di bawah umur. Klaim-klaim tersebut tidak pernah dibuktikan oleh penyelidikan mana pun.

“Beberapa dokumen memuat tuduhan yang tidak benar dan sensasional terhadap Presiden Trump, yang diajukan ke FBI menjelang Pemilu 2020,” tulis DOJ dalam siaran pers pada Jumat.

Sejumlah korban dugaan Epstein, melalui pengacara Henderson dan Edwards, memohon kepada para hakim yang mengawasi proses rilis dokumen agar nama mereka dihapus.

“Saya tidak pernah tampil ke publik! Sekarang saya dilecehkan oleh media dan pihak lain. Ini menghancurkan hidup saya,” ujar seorang perempuan yang disebut sebagai Jane Doe 5, sebagaimana dikutip dalam surat para pengacara kepada pengadilan.

Dalam kasus lain, rilis dokumen tersebut juga gagal melindungi privasi orang-orang yang sebenarnya tidak terkait langsung dengan penyelidikan Epstein. Misalnya, dalam temuan CBC News ditemukan nama depan seorang sipir penjara yang bekerja di penjara Manhattan tempat Epstein meninggal tidak disensor setidaknya satu kali, sehingga identitasnya bisa dilacak melalui detail lain.

Contoh lainnya, peninjau dokumen gagal menyensor alamat email pribadi seorang perempuan muda yang orang tuanya berteman dengan Epstein, meski alamat tersebut disensor di bagian dokumen lain.

Seorang juru bicara DOJ mengakui kepada CBC News melalui email awal pekan ini bahwa sekitar 0,1 persen dari halaman yang dirilis mengandung informasi pengenal korban yang tidak disensor. Artinya, lebih dari 3.000 halaman harus ditarik kembali.

“Tim kami bekerja tanpa henti untuk memperbaiki masalah ini dan menerbitkan ulang halaman-halaman tersebut dengan sensor yang semestinya secepat mungkin,” ujar juru bicara tersebut.

Namun, hal ini mendapat sejumlah kritkan dari berbagai pihak, Mereka menilai kesalahan ini tidak bisa ditoleransi.

“SENSOR GAGAL. KORBAN DIBIARKAN TANPA PERLINDUNGAN. JUTAAN DOKUMEN HILANG. APA YANG MEREKA TUTUP-TUTUPI?,” tulis Gubernur California Gavin Newsom di platform X

Dalam pernyataan bersama, para penyintas kejahatan seksual Epstein mengecam situasi ini dan menyatakan bahwa mereka seharusnya tidak pernah menjadi pihak yang disebutkan namanya, dihakimi, dan kembali mengalami trauma, sementara para pihak yang melindungi Epstein terus diuntungkan oleh kerahasiaan.

“Ini belum berakhir. Kami tidak akan berhenti sampai kebenaran sepenuhnya terungkap dan setiap pelaku akhirnya dimintai pertanggungjawaban,” tegas mereka.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dalam dokumen pengajuan ke pengadilan, para pengacara menyatakan bahwa kebocoran informasi korban sepenuhnya bisa dicegah, bahkan dengan cara yang sangat sederhana.

“Cukup ketik nama korban di kolom pencarian. Jika muncul hasil, lakukan penyensoran sebelum dipublikasikan. DOJ telah membuktikan bahwa mereka tidak mampu atau tidak mau menjalankan tugas dasar tersebut,” kata mereka.