Sosok Pilot Pelita Air yang Meninggal Usai Pesawat Jatuh di Nunukan, Punya Ribuan Jam Terbang
Satu orang dipastikan meninggal dunia setelah pesawat Pelita Air dengan nomor registrasi PK-PAA jatuh di Nunukan, Kalimantan Utara, pada Kamis (19/2/2026) siang.
Korban merupakan pilot atas nama Capt. Hendrick Lodewyck yang menjadi satu-satunya awak dalam penerbangan tersebut.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F. Laisa mengatakan, pesawat mengalami kecelakaan ketika terbang dari Long Bawan menuju Tarakan.
"Dioperasikan oleh Pelita Air Service khusus untuk pengangkutan BBM ke daerah terpencil," ujarnya kepada Kompas.com, Kamis.
Sosok Pilot Pelita Air yang Meninggal
Lukman menjelaskan, pesawat yang dikemudikan Hendrick telah menjalani pemeriksaan rutin 100 jam dan 200 jam pada 11 Februari 2026.
Total pemeriksaan jam terbang pesawat tersebut mencapai 3.303 jam.
Sementara itu, Corporate Secretary Pelita Air Patria Rhamadonna mengatakan, pesawat yang digunakan dalam penerbangan Long Bawan-Tarakan adalah tipe Air Tractor AT-802.
Pesawat buatan tahun 2013 tersebut dalam kondisi laik terbang serta telah menjalani perawatan rutin terkini pada 15 Februari 2026.
Patria mengonfirmasi bahwa pesawat hanya diawaki oleh satu orang pilot, yaitu Capt. Hendrick Lodewyck Adam.
Hendrick meninggal di usia 54 tahun. Ia bergabung dengan PT Pelita Air Service sejak Juli 2021.
Hendrick juga dikenal sebagai pilot berpengalaman dengan total jam terbang lebih dari 8.000 jam.
"Manajemen PT Pelita Air Service menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya pilot yang bertugas," ujar Patria dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Kamis.
"Perusahaan memastikan akan memenuhi seluruh hak dan santunan kepada keluarga almarhum serta memberikan pendampingan yang diperlukan selama masa duka," tambahnya.
Kronologi Pesawat Pelita Air Jatuh di Nunukan
Lukman menjelaskan, sebelum pesawat dilaporkan jatuh, PK-PAA terbang dari Bandara Long Bawan sekitar pukul 12.10 Wita.
Pada saat itu, pesawat terbang ke Bandar Udara Tarakan denga estimasi waktu kedatangan sekitar pukul 13.15 Wita.
Pilot sempat menyampaikan kepada petugas ATC Tarakan waktu perkiraan pesawat Abeam Malinau pada pukul 12.24 Wita.
Namun, pada pukul 12.20 Wita, muncul sinyal Emergency Locator Transmitter (ELT) dari pesawat tersebut.
Informasi jatuhnya pesawat kemudian diterima oleh kantor pusat PT Pelita Air Service di Jakarta sekitar pukul 12.30 Wita.
Pelita Air segera berkoordinasi dengan Lanud Tarakan, Basarnas, serta masyarakat setempat untuk memastikan kondisi pilot dan pesawat.
Setelah melakukan pencarian secara intensif, lokasi pesawat berhasil ditemukan pada pukul 13.25 Wita.
Pilot kemudian dievakuasi dalam kondisi meninggal dunia pada 14.33 Wita, kemudian jenazah dibawa ke RS Pratama Long Bawan dan tiba pada 15.20 Wita.
"Direktorat Jenderal Perhubungan Udara telah berkoordinasi dengan operator, otoritas bandara, serta instansi terkait untuk memastikan langkah penanganan di lapangan berjalan dengan baik. Proses investigasi akan dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku oleh instansi berwenang," kata Lukman.
"Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa ini dan mengimbau semua pihak untuk menunggu informasi resmi yang terverifikasi," sambungnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang