Cara Agar Harga BBM Tak Naik Imbas Konflik Iran dan Amerika
Memanasnya hubungan antara Iran dan Amerika Serikat berpotensi membawa dampak negatif. Terutama bagi harga minyak mentah dunia.
Jika hal tersebut sampai terjadi, maka banderol bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah negara, termasuk Indonesia akan terkerek.
Untuk itu pemerintah Indonesia harus mengantisipasi situasi ini. Hal tersebut agar para pengendara di dalam negeri tetap bisa membeli BBM dengan harga terjangkau.
“Nampaknya pemerintah perlu memperkuat koordinasi fiskal dan moneter guna menjaga stabilitas ekonomi makro kita,” ucap Yannes Martinus Pasaribu, pengamat otomotif serta akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB) kepada KatadataOTO beberapa waktu lalu.

Yannes menjelaskan bahwa penyesuaian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga harus dilakukan.
Sehingga dapat mengantisipasi pembengkakan subsidi BBM di Tanah Air pada 2026, imbas konflik Amerika Serikat serta Iran.
“Sambil menahan penyesuaian harga BBM subsidi selama harga minyak global masih di bawah 100 dolar Amerika Serikat per barel,” lanjut dia.
Dengan begitu dampak dari gejolak di Timur Tengah, tidak langsung membebani masyarakat atau pengendara di Tanah Air.
Selain itu, kondisi tersebut juga tidak membawa dampak negatif bagi perekonomian negara. Sebab beberapa waktu belakangan situasinya memang sedang tidak stabil.
“Lalu segera percepat diversifikasi sumber pasokan minyak dengan percepatan produksi energi domestik melalui peningkatan lifting sumur eksisting,” Yannes menambahkan.
Pemerintah turut disarankan untuk mengembangkan energi baru terbarukan (EBT), agar dapat menurunkan ketergantungan impor yang masih tinggi semaksimal mungkin.
Dia mengungkapkan, fokus utama pemerintah harus memperkuat ketahanan energi di dalam negeri. Dengan begitu konflik antara Amerika Serikat serta Iran tidak terlalu terasa.
“Menjaga stabilitas fiskal dan mengurangi ketergantungan impor,” tegas Yannes.
Sebagai informasi Donald Trump, Presiden Amerika Serikat sempat melontarkan ancaman tindakan yang sangat kuat terhadap Iran.

Ancaman serangan ini muncul menyusul laporan mengenai pembantaian massal yang dilakukan rezim Teheran terhadap warga mereka sendiri.
Menurut laporan The Economist, jika serangan Negeri Paman Sam benar-benar terjadi maka opsi akan diambil Washington adalah serangan terbatas.
Targetnya berupa pemenggalan politik untuk menggulingkan kekuasaan para petinggi Iran telah berkuasa selama 47 tahun.