Rupiah Melemah seiring Kekhawatiran Pasar Pada Kesehatan Fiskal RI
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 16.935 per Senin, 19 Januari 2026. Posisi rupiah itu melemah 55 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 16.880 pada perdagangan Kamis, 15 Januari 2026.
Sementara perdagangan di pasar spot pada Selasa, 20 Januari 2026 hingga pukul 09.47 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 16.977 per dolar AS. Posisi itu melemah 22 poin atau 0,13 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 16.955 per dolar AS.
Ilustrasi uang Rupiah.
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, demi mendukung agenda pertumbuhan Presiden Prabowo Subianto di tahun 2029 sebesar 8 persen, maka pemerintah akan mencoba menerapkan kebijakan yang relatif tidak lazim. Sehingga, ada risiko jangka menengah yang lebih besar, yang dapat memicu sentimen negatif lebih lanjut terhadap rupiah.
Selain itu, kekhawatiran terhadap kesehatan fiskal Indonesia kembali mencuat setelah terungkap pada 8 Januari 2026 bahwa defisit anggaran tahun lalu mendekati batas hukum sebesar 3 persen, sementara penerimaan negara masih lemah. Kondisi ini menambah tekanan terhadap pergerakan mata uang rupiah.
Walaupun, Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi untuk mengendalikan volatilitas, terdapat cukup banyak keterbatasan dari sisi kebijakan. BI secara rutin melakukan pembelaan terhadap rupiah baik di pasar DNDF maupun pasar NDF. Namun, toleransi Bank Indonesia terhadap pelemahan rupiah yang moderat dapat membatasi efektivitas intervensi tersebut.
Guna menopang mata uang rupiah, BI diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan saat rapat kebijakan pada Rabu (21/1). BI juga telah mengerahkan berbagai instrumen untuk menahan pelemahan rupiah, termasuk penyesuaian penerbitan surat berharga bank sentral, intervensi di pasar valuta asing, serta pembelian obligasi pemerintah di pasar sekunder.
Selain itu, rencana pemerintah untuk memperketat pengelolaan devisa hasil ekspor dinilai dapat memberikan bantalan bagi rupiah. Namun, para analis tetap menyuarakan kekhawatiran bahwa defisit fiskal tahun ini berpotensi melebar melampaui batas hukum 3 persen, seiring upaya pemerintah meningkatkan belanja di tengah lemahnya penerimaan pajak.
"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 16.950 - Rp16.980," ujarnya.
Sebagai informasi, Presiden AS, Donald Trump mengatakan pada hari Minggu (18/1) bahwa ia akan memberlakukan tarif baru pada delapan negara Eropa yang menentang rencananya agar Amerika Serikat mengakuisisi Greenland.
Trump mengatakan AS akan mengenakan tarif 10 persen pada barang-barang dari negara-negara yang terkena dampak mulai 1 Februari, dengan tarif tersebut akan naik menjadi 25 persen pada bulan Juni jika tidak ada kesepakatan yang tercapai.
Negara-negara yang menjadi target termasuk Prancis, Jerman, dan Inggris, bersama dengan beberapa negara Nordik dan Eropa utara. Pengumuman tersebut menuai kritik tajam dari para pejabat Eropa dan meningkatkan kekhawatiran akan sengketa perdagangan transatlantik yang lebih luas.