Kebakaran di Paviliun COP30 Brasil Picu Agenda Negosiasi Iklim Global Tertunda
Kebakaran besar memaksa evakuasi ribuan peserta KTT Iklim COP30 di Belem, Brasil, pada Kamis, 20 November 2025 dan menunda serangkaian proses negosiasi iklim global, ketika api melalap sebuah paviliun di pusat konvensi utama kota itu.
Api muncul di dalam paviliun yang menampung lebih dari 50.000 diplomat, jurnalis, dan aktivis yang menghadiri pembicaraan iklim global yang diselenggarakan di kota gerbang Amazon tersebut.
Kebakaran terjadi sesaat sebelum pukul 14.30 waktu setempat di sebuah tenda di “Zona Biru”, area resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menampung paviliun nasional dan ruang negosiasi.
Rekaman media sosial menunjukkan peserta berlarian menghindari asap dan api, sementara petugas keamanan segera menginstruksikan evakuasi seluruh area untuk mencegah risiko tambahan.
Kepulan asap cepat memenuhi aula utama, tempat Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyampaikan pidato hanya beberapa menit sebelumnya, sementara api membakar atap dan mengancam bangunan di sekitarnya.
Petugas pemadam kebakaran dari stasiun terdekat bergerak cepat dan berhasil mengendalikan kobaran api dalam hitungan menit setelah alarm darurat berbunyi.
Menteri Pariwisata Brasil Celso Sabino mengonfirmasi tidak ada laporan korban luka di antara peserta KTT maupun staf penyelenggara. "Untungnya tidak ada yang terluka, berkat tindakan cepat tim keamanan dan Dinas Pemadam Kebakaran Pará," kata Sabino dalam pernyataannya kepada wartawan dilansir Anadolu
Ia menambahkan dugaan awal bahwa korsleting listrik kemungkinan menjadi penyebab kebakaran, meski investigasi resmi masih berlangsung.
Negosiasi Tertunda
Persiapan menuju KTT telah dibayangi tantangan logistik di Belem, termasuk keterbatasan infrastruktur dan melonjaknya biaya akomodasi bagi ribuan delegasi internasional.
Menepis kekhawatiran soal kelanjutan acara, Sabino menegaskan kepada wartawan bahwa insiden seperti ini dapat terjadi di negara mana pun dan tidak mengancam keseluruhan konferensi.
"Tidak ada kemungkinan pembatalan KTT, yang tetap berlangsung sukses," ujarnya, menekankan keutuhan agenda pembahasan iklim.
KTT yang digelar di jantung Amazon itu awalnya dijadwalkan berakhir Jumat (21/11), namun para negosiator gagal mencapai tenggat Rabu, 19 November 2025, untuk menyepakati peta jalan transisi energi, penghapusan bahan bakar fosil, dan perjanjian adaptasi iklim.
Emisi dari pembakaran bahan bakar fosil memerangkap panas di atmosfer dan menjadi kontributor terbesar pemanasan global.
Rancangan proposal itu mencakup sejumlah elemen kesepakatan. Disebutkan bahwa COP30 akan menyerukan peningkatan tiga kali lipat pendanaan adaptasi iklim bagi negara-negara miskin pada 2030 dibandingkan pendanaan tahun 2025.
Namun proposal itu tidak menyebutkan secara spesifik apakah pendanaan berasal dari negara-negara kaya atau dari sumber lain, seperti bank pembangunan atau sektor swasta. Brasil belum menanggapi permintaan komentar terkait dokumen tersebut.
Sejumlah negosiator mengatakan mereka sedang menelaah proposal tersebut sebelum dievakuasi akibat kebakaran. Sementara beberapa negara mengaku belum menerima salinannya.
Seperti lazimnya dalam pertemuan perubahan iklim global, tuan rumah yang menjadi presidensi perundingan membagikan rancangan kesepakatan terlebih dahulu kepada kelompok-kelompok negara sebelum akhirnya mengumpulkan seluruh negara peserta untuk proses persetujuan final.