Dari Dapur Sempit ke Ratusan Pesanan: Kisah Emak-emak Raih Banyak Cuan Lewat Masakan Rumah
Di balik sepiring mi Aceh yang kaya rempah atau risoles hangat yang renyah, ada cerita yang lebih dalam dari sekadar rasa. Ada perjuangan, keberanian, dan keteguhan hati—terutama dari para perempuan yang memilih berdiri di dapur, bukan hanya untuk memasak, tapi juga menghidupi keluarga.
Di tengah tekanan ekonomi yang tak selalu mudah, semakin banyak perempuan mengambil peran ganda: sebagai ibu sekaligus penggerak ekonomi rumah tangga. Bagi sebagian dari mereka, dapur bukan lagi sekadar ruang domestik, melainkan titik awal perjalanan usaha. Scroll untuk tahu cerita lengkapnya, yuk!
Bagi Efa Fauziah (46), dapur adalah saksi perjalanan hidup yang penuh liku. Ia pernah merasakan dampak gempa Pidie Jaya di Aceh pada 2016, hingga akhirnya memutuskan merantau ke Pulau Jawa bersama suami dan lima anaknya.
Berbekal resep turun-temurun, Efa dan suami mulai merintis usaha mi Aceh secara sederhana.
“Awalnya kami menjalankan usaha ini hanya berdua saja. Suami memasak dan saya membantu di depan. Semua dikerjakan sendiri tanpa karyawan,” cerita Efa, dalam keterangannya, dikutip Sabtu 4 April 2026.

Namun perjalanan itu tidak mulus. Mereka sempat harus memulai ulang dari nol setelah berbagai kendala, termasuk kebakaran yang menghentikan usaha sebelumnya.
Alih-alih menyerah, Efa memilih kembali ke dapur—memasak, melayani, dan perlahan membangun kembali kepercayaan pelanggan.
Kini, menu seperti Mie Aceh Daging Full dan Mie Aceh Extreme menjadi andalan yang dicari banyak orang. Dari yang awalnya hanya belasan porsi per hari, usahanya kini mampu menjual hingga ratusan porsi.
Risoles dari Rumah Kontrakan: Bertahan Demi Anak
Cerita serupa datang dari Rohani Sembiring (40), yang akrab disapa Mbak Any. Ia memulai usaha risoles dari rumah kontrakan di Jakarta, di tengah kondisi ekonomi yang semakin sulit saat pandemi. Awalnya, ia hanya menerima pesanan kecil-kecilan dari tetangga sekitar. Tak jarang dagangannya tak habis terjual.
“Kadang ada banyak risoles yang tidak habis terjual. Biasanya saya bagikan ke orang sekitar atau ke masjid,” kenangnya.
Namun bagi Mbak Any, berhenti bukan pilihan. Ada tiga anak yang menjadi alasan terkuatnya untuk terus melangkah.
“Hal yang membuat saya tetap bertahan itu anak-anak serta dukungan dari suami,” ujarnya.
Perlahan, risoles buatannya—terutama varian ayam sayur dan beef mayo—mulai dikenal. Pesanan meningkat, bahkan saat momen tertentu seperti Ramadhan lalu, bisa melonjak lebih dari dua kali lipat.
Kini, usahanya telah berkembang hingga membuka cabang baru dan melibatkan anggota keluarga dalam operasional sehari-hari.
Dapur, Teknologi, dan Cara Baru Bertahan
Perjalanan Efa dan Mbak Any menunjukkan satu hal: usaha kuliner rumahan kini tidak lagi terbatas pada lingkungan sekitar. Dengan bantuan teknologi, dapur kecil bisa menjangkau lebih banyak pelanggan.
Efa merasakan bagaimana teknologi membantunya memahami bisnis dengan lebih baik.
“Dengan GrabMerchant AI Assistant rasanya seperti punya teman diskusi dalam menjalankan bisnis. Saya bisa bertanya menu mana yang sebaiknya dipromosikan atau kapan waktu terbaik untuk menjalankan promo,” ujarnya.
Hal serupa juga dirasakan Mbak Any
“Sekarang saya seperti punya teman untuk berdiskusi soal bisnis. Kalau penjualan menurun, saya bisa mencari tahu strategi apa yang bisa dilakukan,” katanya.
Melihat perkembangan ini, Melinda Savitri, Country Marketing & Communications Head, Grab Indonesia, menilai bahwa teknologi memang semakin membuka peluang bagi pelaku usaha kecil untuk berkembang.
“Teknologi merupakan salah satu kunci untuk membuka potensi tak terbatas bagi UMKM. Kami percaya bahwa dengan merangkul inovasi seperti GrabMerchant AI Assistant, pelaku usaha dapat mengeksplor data dan mengubahnya menjadi strategi nyata, membantu merchant memahami dinamika bisnis dan pengambilan keputusan dengan lebih terukur,” ujarnya.