Morgan Stanley Turunkan Target Harga Emas di 2026, Tak Lagi Kebal Krisis?
Emas sempat digadang-gadang menjadi aset paling aman di tengah konflik geopolitik justru menunjukkan kinerja yang mengecewakan. Bank investasi global, Morgan Stanley, bahkan memangkas proyeksi harga emas dunia untuk paruh kedua 2026 yang menandai perubahan besar dalam sentimen pasar.
Sejak perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pecah pada tanggal 28 Februari 2026, harga emas tercatat turun sekitar 8 persen dan belum mampu pulih sebagaimana ekspektasi investor. Di sisi lain, pasar saham terus meningkat misalnya indeks S&P 500 dan Nasdaq mencetak rekor tertinggi baru (all high time/ATH).
Morgan Stanley menilai, sejumlah investor mulai menyadari emas tidak selalu menjadi aset lindung nilai (safe haven) yang efektif untuk semua jenis kondisi krisis. Khususnya saat global terus-menerus berada di situasi ketidakpastian.
“Alasan untuk memiliki emas kini telah bergeser, dan investor yang membelinya sebagai lindung nilai geopolitik sedang mendapat pelajaran mahal mengenai jenis guncangan apa yang sebenarnya dilindungi oleh emas,” tulis Analis Morgan Stanley dikutip dari Market Index pada Rabu, 22 April 2026.
Ilustrasi harga emas dunia.
Sebelum konflik Timur Tengah meledak, harga emas tengah mencatatkan lonjakan besar. Harga logam mulai berwara kuning bahkan sempat menyentuh US$5.500 per ons atau meningkat lebih dari dua kali lipat sejak awal tahun 2025.
Reli dinilai mulai kehilangan dasar fundamental yang kuat. Permintaan investasi melonjak tajam hingga 83 persen secara tahunan pada 2025, yang membuat harga emas semakin rentan terhadap tekanan.
“Seiring reli berlanjut hingga 2026, semakin sulit menjelaskan kekuatan harga yang terus terjadi,” imbuh Analis Morgan Stanley.
Dalam laporan terbarunya, Morgan Stanley menurunkan target harga emas menjadi US$5.200 atau sekitar Rp 89,3 juta (estimasi kurs Rp 17.190 per dolar AS) per ons. Sebelumnya lembaga investasi global ini membidik harga emas menguat ke level US$5.700 atau sekitar Rp 97,9 juta per ons.
Revisi muncul setelah emas gagal menunjukkan reli kuat meski konflik di Timur Tengah memanas. Morgan Stanley menjelaskan, pelemahan emas kali ini disebabkan efek domino konflik Timur Tengah yang memicu guncangan pasokan energi global sehingga berdampak pada lonjakan harga minyak dan kenaikan inflasi.
Kondisi ini berbeda dengan krisis berbasis permintaan. Di mana biasanya emas diuntungkan karena suku bunga turun dan imbal hasil riil melemah.
“Kali ini justru sebaliknya. Dalam guncangan berbasis permintaan sebelumnya, emas biasanya diuntungkan oleh penurunan imbal hasil jangka pendek. Namun yang terjadi sekarang adalah kebalikannya,” jelas ulis analis.
Morgan Stanley juga mengingatkan, sensitivitas emas terhadap suku bunga masih tinggi. Situasi ini pernah terjadi pada 2022 saat The Fed menaikkan suku bunga, di mana emas hanya mencatat kenaikan terbatas.
Meski demikian, prospek jangka panjang emas belum sepenuhnya suram. Faktor struktural seperti permintaan bank sentral, pelemahan mata uang, serta ketegangan geopolitik masih menjadi penopang.
Arah harga ke depan sangat bergantung pada kebijakan suku bunga The Fed serta perkembangan konflik global.
Morgan Stanley menggarisbawahi beberapa risiko utama yang perlu dicermati investor, antara lain potensi eskalasi konflik yang mendorong kenaikan imbal hasil obligasi, lonjakan harga minyak yang memperparah inflasi, hingga tekanan likuiditas jika pasar saham kembali terkoreksi.
Jika konflik mereda, kata Analis Morgan Stanley, potensi kenaikan emas tetap terbatas karena harga yang sudah tinggi membuat daya beli investor, bank sentral, dan konsumen menurun. Pihaknya memaknai prospek emas kini tidak sesederhana awal tahun.
“Emas terlihat tak terbendung di Januari, namun sekarang gambarnya jauh lebih kompleks,” tutup Analis Morgan Stanley.Fr