Sepanjang Mei 2026, BMKG Catat 136 Gempa Guncang Jawa Barat

BMKG Bandung, Sepanjang Mei 2026, BMKG Catat 136 Gempa Guncang Jawa Barat

 Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas 1 Bandung mencatat aktivitas gempa bumi di wilayah Jawa Barat dan sekitarnya sepanjang Mei 2026 tergolong cukup tinggi.

Dalam periode tersebut, tercatat sebanyak 136 kejadian gempa bumi dengan variasi magnitudo dan kedalaman yang beragam.

Kepala Stasiun Geofisika BMKG Bandung, Edi Wibowo, menyampaikan bahwa dari total 136 kejadian gempa bumi, kekuatan terbesar yang tercatat mencapai 4,6 magnitudo, sementara yang terkecil berada pada 0,8 magnitudo.

"Dari 136 kali kejadian, guncangan gempa bumi terbesar yang tercatat adalah 4,6 magnitudo dan yang terkecil 0,8 magnitudo,” kata Edi Wibowo di Bandung, Senin (1/6/2026) dikutip dari Antara.

Dari jumlah tersebut, hanya sebagian gempa yang dirasakan oleh masyarakat. BMKG mencatat sebanyak 11 kejadian gempa bumi yang dirasakan selama periode tersebut.

“Sepanjang periode bulan Mei terdapat 11 kali gempa bumi yang dirasakan,” kata dia.

Data ini menunjukkan bahwa sebagian besar gempa memiliki kekuatan kecil hingga sedang, sehingga tidak semuanya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.

Bagaimana karakteristik gempa yang terjadi?

Berdasarkan analisis kedalaman, mayoritas gempa bumi yang terjadi termasuk dalam kategori gempa dangkal. Rinciannya sebagai berikut:

  • Sebanyak 121 kejadian memiliki kedalaman kurang dari 60 kilometer
  • Sebanyak 15 kejadian berada pada kedalaman antara 60 hingga 300 kilometer

Selain itu, jika dilihat dari lokasi pusat gempa (hiposenter), tercatat:

  • 65 kejadian gempa berpusat di laut
  • 71 kejadian gempa berpusat di darat

Edi menjelaskan bahwa gempa dangkal umumnya lebih berpotensi dirasakan oleh masyarakat karena energi getarannya lebih dekat ke permukaan.

Salah satu gempa yang cukup dirasakan terjadi pada 21 Mei 2026 dengan kekuatan 4,6 magnitudo yang berpusat di Kabupaten Pangandaran. Getaran gempa tersebut dirasakan hingga wilayah Garut, Ciamis, dan Tasikmalaya.

“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar aktif,” katanya.

Apa penyebab dominan gempa di wilayah ini?

BMKG menyebut bahwa sebagian besar gempa yang terjadi di Jawa Barat dipicu oleh aktivitas sesar aktif.

Kondisi ini memang sejalan dengan karakteristik geologi wilayah tersebut yang memiliki sejumlah patahan aktif, termasuk yang berada di darat maupun di dasar laut.

Gempa dangkal akibat sesar aktif cenderung memiliki dampak yang lebih terasa meskipun magnitudonya tidak terlalu besar. Oleh karena itu, kewaspadaan masyarakat tetap diperlukan.

BMKG Bandung memberikan sejumlah rekomendasi kepada masyarakat untuk mengurangi risiko saat terjadi gempa bumi.

Salah satu hal penting adalah menghindari bangunan yang sudah mengalami kerusakan akibat gempa sebelumnya.

“Kami mengimbau jika terjadi gempa bumi masyarakat diminta untuk tenang, waspada, serta tidak terpancing isu yang tidak bertanggung jawab,” kata Edi Wibowo.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang