Jangan Asal Klik! Ketahui Cara Melindungi Diri dari Scam di Era AI

Ilustrasi AI
Ilustrasi AI

 Perkembangan teknologi digital di Indonesia terus melaju dengan sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai aktivitas yang sebelumnya dilakukan secara manual kini beralih ke platform digital, mulai dari berbelanja, membayar tagihan, memesan transportasi, hingga mengelola keuangan sehari-hari. Kemudahan tersebut turut mendorong perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin mengandalkan layanan serba cepat dan praktis.

Transformasi digital ini juga tercermin dari meningkatnya penggunaan sistem pembayaran digital di Tanah Air. Pertumbuhan transaksi digital di Indonesia terus menunjukkan akselerasi yang signifikan. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Data Bank Indonesia mencatat transaksi pembayaran digital mencapai 14,82 miliar transaksi pada triwulan I-2026 atau tumbuh 37,69 persen secara tahunan (year on year). Angka tersebut menunjukkan bahwa masyarakat semakin nyaman melakukan transaksi secara elektronik melalui berbagai kanal pembayaran yang tersedia.

Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul tantangan baru yang tidak bisa diabaikan. Semakin terhubungnya ekosistem digital membuat risiko kejahatan siber ikut berkembang. 

Jika dulu pelaku kejahatan lebih banyak berusaha membobol sistem teknologi, kini mereka mulai memanfaatkan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk menipu pengguna secara langsung.

Fenomena ini dikenal sebagai scam berbasis AI. Bentuknya beragam, mulai dari pesan palsu yang terlihat sangat meyakinkan, panggilan telepon dengan suara yang menyerupai orang tertentu menggunakan teknologi voice cloning, hingga email dan tautan phishing yang dirancang secara lebih personal berdasarkan data korban yang tersedia di internet.

Salah satu area yang paling terlihat dari meningkatnya kompleksitas ekosistem digital adalah risiko fraud atau penipuan. Meski keamanan sistem pembayaran terus diperkuat, kejahatan finansial terus berkembang dengan berbagai modus baru, terutama di pasar yang didominasi transaksi berbasis ponsel dan real-time.

Bahkan, laporan Spring 2026 Biannual Threats Visa menunjukkan bahwa pelaku kejahatan kini mulai beralih dari upaya membobol sistem teknologi ke praktik social engineering berbasis AI dengan memanfaatkan manipulasi terhadap pengguna dibandingkan menyerang teknologi secara langsung. 

Dalam periode Juli hingga Desember 2025, teridentifikasi hampir US$1 miliar aktivitas terkait scam yang menjadi kategori fraud pembayaran konsumen terbesar pada periode tersebut.

Agar terhindar dari berbagai modus scam di era AI, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di dunia digital. Berikut beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan:

1. Jangan Mudah Mengklik Tautan dari Sumber Tidak Dikenal

Pelaku scam sering memanfaatkan pesan singkat, email, atau aplikasi percakapan untuk mengarahkan korban ke situs palsu. Pastikan selalu memeriksa alamat situs dan sumber pengirim sebelum mengklik tautan apa pun.

2. Verifikasi Informasi Melalui Kanal Resmi

Jika menerima pesan yang mengatasnamakan bank, platform pembayaran, atau institusi tertentu, lakukan verifikasi melalui aplikasi resmi, situs resmi, atau layanan pelanggan yang terpercaya.

“Seiring pertumbuhan ekonomi digital Indonesia, fokus kami adalah mendukung pertumbuhan tersebut secara bertanggung jawab dan berkelanjutan. Hal ini dilakukan dengan memperkuat kepercayaan di seluruh ekosistem layanan keuangan dan pembayaran digital, sehingga pelaku usaha dapat berkembang dengan lebih percaya diri dan masyarakat dapat bertransaksi dengan aman. Ketika sistem pembayaran berjalan secara andal dalam skala besar, hal tersebut akan menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi dan inklusi keuangan yang lebih luas di Indonesia,” ujarujar Vira Widiyasari, Country Manager, Visa Indonesia, dalam Visa Indonesia Client Forum 2026.

3. Lindungi Data Pribadi dan Gunakan Fitur Keamanan Tambahan

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Aktifkan autentikasi dua faktor (2FA), gunakan kata sandi yang kuat dan berbeda untuk setiap akun, serta hindari membagikan kode OTP kepada siapa pun. Data pribadi merupakan aset berharga yang sering menjadi target utama pelaku penipuan.

Di tengah pertumbuhan ekonomi digital yang semakin cepat, keamanan digital menjadi tanggung jawab bersama. Pada akhirnya, kecanggihan teknologi seperti Visa Value Added Services (VAS) dirancang untuk mendukung kebutuhan bisnis yang melampaui sekadar pemrosesan transaksi. Era AI memang menghadirkan banyak kemudahan, tetapi kewaspadaan pengguna tetap menjadi benteng pertahanan utama. Dengan memahami modus scam terbaru dan menerapkan kebiasaan digital yang aman, masyarakat dapat menikmati manfaat teknologi tanpa harus menjadi korban penipuan di era AI.