Survei Ungkap Profesi yang Paling Banyak Pakai AI, Anda Termasuk?
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) di dunia kerja berjalan jauh lebih cepat dibandingkan yang dibayangkan banyak orang. Di satu sisi, teknologi ini menjanjikan efisiensi dan produktivitas yang lebih tinggi.
Namun di sisi lain, kekhawatiran soal hilangnya pekerjaan akibat otomatisasi juga makin menguat, terutama di kalangan pekerja yang merasa posisinya rentan tergantikan mesin.
Kecemasan tersebut muncul bersamaan dengan fakta bahwa AI kini bukan lagi sekadar eksperimen atau alat tambahan. Dalam beberapa profesi, teknologi ini sudah menjadi bagian dari rutinitas harian. Cara orang bekerja mulai berubah secara fundamental, dan data terbaru menunjukkan bahwa adopsi AI di tempat kerja meningkat signifikan dalam waktu yang relatif singkat.
Data terbaru dari Gallup yang dikutip Axios pada Selasa, 16 Desember 2025, menunjukkan lonjakan tajam penggunaan AI di dunia kerja sepanjang 2025. Jumlah pekerja yang mengaku menggunakan AI setidaknya beberapa kali dalam setahun atau lebih melonjak menjadi 45 persen pada kuartal ketiga tahun ini, naik drastis dari 27 persen pada kuartal kedua 2024.
Ilustrasi bekerja
Kenaikan ini menandakan bahwa AI mulai menembus berbagai sektor, meski dengan tingkat adopsi yang berbeda-beda. Tidak hanya penggunaan sesekali, intensitas pemakaian AI juga meningkat.
Gallup mencatat bahwa penggunaan AI secara mingguan naik menjadi 23 persen, dari sebelumnya 12 persen pada tahun lalu. Meski demikian, penggunaan harian masih tergolong terbatas. Hanya 10 persen pekerja yang mengaku menggunakan AI setiap hari dalam pekerjaannya pada kuartal ketiga tahun ini.
Angka ini menunjukkan bahwa AI memang berkembang pesat, tetapi belum sepenuhnya menjadi alat kerja utama bagi mayoritas tenaga kerja. Perbedaan adopsi terlihat jelas jika dilihat dari jenis pekerjaan.
Gallup mensurvei pekerja dari berbagai sektor dan menemukan bahwa profesi yang tergolong sebagai “knowledge jobs” jauh lebih cepat mengadopsi AI dibandingkan sektor jasa atau pekerjaan berbasis tenaga fisik.
Di sektor teknologi, 50 persen pekerja mengaku menggunakan AI setidaknya beberapa kali dalam seminggu. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan sektor keuangan, di mana 33 persen pekerja menggunakan AI dengan frekuensi serupa, serta sektor jasa profesional yang berada di angka 30 persen.
Sebaliknya, penggunaan AI masih relatif rendah di sektor-sektor yang lebih operasional. Di sektor ritel dan manufaktur, masing-masing hanya 18 persen pekerja yang menggunakan AI beberapa kali dalam seminggu.
Sektor kesehatan sedikit lebih tinggi, dengan 21 persen pekerja yang melaporkan penggunaan AI secara rutin. Perbedaan ini menunjukkan bahwa jenis pekerjaan sangat menentukan seberapa cepat AI diadopsi dan dimanfaatkan.
Gallup juga menemukan bahwa posisi dalam struktur organisasi berpengaruh besar terhadap penggunaan AI. Semakin tinggi jabatan seseorang di perusahaan, semakin besar kemungkinan mereka menggunakan AI dalam pekerjaannya.
Hal ini mengindikasikan bahwa AI saat ini lebih banyak dimanfaatkan sebagai alat bantu pengambilan keputusan, analisis, dan perencanaan strategis, dibandingkan sebagai alat operasional di level bawah.
Dari sisi jenis teknologi, chatbot menjadi bentuk AI yang paling banyak digunakan. Lebih dari 60 persen pengguna AI mengandalkan chatbot dalam pekerjaan mereka. Kehadiran chatbot dinilai membantu mempercepat pencarian informasi, penyusunan teks, hingga pemecahan masalah sederhana, meski belum sepenuhnya menggantikan peran manusia.
Axios mencatat bahwa fenomena ini mengingatkan pada momen lebih dari dua dekade lalu, ketika Google Search mulai mendorong adopsi internet di tempat kerja. Saat itu, internet perlahan mengubah cara orang bekerja dan mengakses informasi. Kemunculan ChatGPT sekitar tiga tahun lalu berpotensi memicu perubahan serupa, meskipun tingkat adopsinya saat ini belum menyamai revolusi internet pada masanya.