Top 5+ Tips Lulus Ujian Profesi Advokat, Nomor 2 Paling Penting

Ilustrasi Pengacara, 1. Mulai Persiapan Lebih Awal dan Susun Strategi Belajar yang Jelas, 2. Prioritaskan Pemahaman, Bukan Hafalan Semata, 3. Gunakan Materi Belajar Terstruktur dan Teruji, 4. Belajar Bersama Mentor atau Rekan , 5. Jaga Rutinitas dan Kesiapan Mental 
Ilustrasi Pengacara

Profesi advokat masih menjadi salah satu pekerjaan paling bergengsi di Indonesia. Banyak anak muda yang bermimpi mengenakan jubah kehormatan ini karena profesi advokat identik dengan reputasi kuat, jejaring luas, serta peluang pendapatan yang tinggi. 

Di firma-firma ternama, advokat pemula bisa mengantongi gaji belasan hingga puluhan juta rupiah per bulan. Sementara advokat senior memperoleh penghasilan jauh lebih besar melalui retainer klien korporasi maupun penanganan kasus strategis.

Namun, sebelum memasuki dunia hukum yang kompetitif itu, calon advokat wajib melewati gerbang awal, yakni Ujian Profesi Advokat (UPA). Ujian ini dirancang untuk mengukur kemampuan analisis, pemahaman hukum, dan ketahanan mental. 

Tidak sedikit peserta yang gugur karena salah strategi atau hanya mengandalkan hafalan. Praktisi hukum yang telah menempuh perjalanan serupa, Steven Feriyanto, membagikan lima strategi kunci agar calon advokat mampu menghadapi UPA dengan lebih percaya diri dan terarah.

Steven Feriyanto merupakan pengacara muda yang memiliki lisensi praktik di Indonesia dan New York, dengan fokus pada hukum korporasi, finansial, dan teknologi. Ia menyelesaikan studi Sarjana Hukum di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya lalu melanjutkan pendidikan dengan LL.M. in Banking and Financial Law di Boston University didukung beasiswa dari Rahadian Scholarship.

Selama berada di Amerika Serikat, Steven menjadi satu-satunya mahasiswa LL.M. yang diterima magang di District Attorney’s Office di Suffolk County. Ia juga jadi orang Indonesia pertama yang masuk ke institusi tersebut. Ia kemudian melanjutkan karirnya di sebuah firma hukum di Boston, Massachusetts, memperdalam pemahaman praktis tentang sistem common law, investigasi, hingga proses penegakan hukum.

Pengacara Steven Feriyanto, 1. Mulai Persiapan Lebih Awal dan Susun Strategi Belajar yang Jelas, 2. Prioritaskan Pemahaman, Bukan Hafalan Semata, 3. Gunakan Materi Belajar Terstruktur dan Teruji, 4. Belajar Bersama Mentor atau Rekan , 5. Jaga Rutinitas dan Kesiapan Mental 

Pengacara Steven Feriyanto

Pondasi ini akhirnya membawa Steven pada pencapaian penting, yaitu admisinya ke New York State Bar. Ia juga menjadi satu-satunya warga Indonesia yang diterima pada gelombang Juni 2025 melalui Third Appellate Division di Albany, New York.

Sebagai advokat dengan dua lisensi, Steven berharap dapat membimbing generasi pengacara berikutnya dan terlibat dalam inisiatif yang mendukung inklusi keuangan serta transparansi. Salah satunya membagikan tips lulus Ujian Profesi Advokat sebagai berikut.

1. Mulai Persiapan Lebih Awal dan Susun Strategi Belajar yang Jelas

Steven menekankan pentingnya memulai persiapan jauh sebelum tanggal ujian ditetapkan. Belajar lebih awal memberi waktu untuk membangun fondasi hukum yang kuat, mengenali kelemahan, dan memperbaiki pemahaman secara bertahap. Dengan jadwal belajar yang terstruktur, calon advokat dapat menghindari tekanan berlebihan menjelang hari ujian dan tetap fokus pada materi inti.

2. Prioritaskan Pemahaman, Bukan Hafalan Semata

Menurut Steven, UPA sama seperti bar exam internasional yang tidak hanya menguji kemampuan menghafal peraturan. Ujian ini menilai cara berpikir peserta saat menghadapi skenario hukum.

Karena itu, pemahaman mendalam akan konsep, logika, dan penerapan aturan jauh lebih menentukan hasil daripada hafalan pasal. Semakin kuat memahami pola pikir hukum, semakin mudah menguraikan soal yang bersifat analitis.

3. Gunakan Materi Belajar Terstruktur dan Teruji

Materi belajar memiliki peran penting dalam kesuksesan ujian. Steven menyarankan peserta menggunakan panduan yang kredibel dan sesuai format UPA, mulai dari outline hukum, kumpulan soal, hingga simulasi ujian.

Materi yang jelas dan komprehensif membantu proses belajar menjadi lebih efisien sehingga peserta tidak membuang waktu pada referensi yang tidak relevan.

4. Belajar Bersama Mentor atau Rekan 

Belajar sendirian kerap membuat peserta sulit menilai perkembangan pemahaman. Diskusi bersama mentor, senior, atau rekan dapat memberi perspektif baru dan memperbaiki cara menjawab.

Latihan esai, review soal, serta umpan balik langsung terbukti meningkatkan akurasi pemahaman dan melatih peserta berpikir cepat dalam tekanan waktu.

5. Jaga Rutinitas dan Kesiapan Mental 

Steven mengingatkan bahwa kesuksesan ujian tidak ditentukan oleh lamanya belajar saja. Kesehatan fisik dan mental memengaruhi kemampuan menyerap informasi dan berpikir jernih.

Istirahat cukup, makan teratur, serta mengatur stres membantu calon advokat menjaga stamina belajar. Pikiran yang tenang akan membuat proses analisis lebih tajam saat hari ujian tiba.